Kepulan Asap Lebih Sedikit

Umri Rakit Tungku Dapur Ramah Lingkungan

PEKABARU ,TRIBUN –kepulan asap yang kerap muncul dari dapur rumah ,menginspirasi abrar menbuat sistem pembakaran pada tungku yang lebih ramah lingkungan.

Saya sudah melakukan survei kebeberapa rumah makan dan beberapa usaha mukro kecil menengah (IMKM) di Riau, kurang ramah lingkungan, asap terbuang sangat banyak ,” ujar kepala prodi jururan teknik mesin Universitas Muhammadiyah Riau (umri) Abrar Ridwan saat berbincang bersama tribun selasa (23/10) siang.

Ia menyebutnya dengan nama tungku glasifikasi ,tungku yang dibuat nya ,hampir sama dengan yang dipakai pada dapur rumah makan atau industri rumahan .tungku itu terbuat dari batu bata, dan plester dengan pasir, semen dan dicampur dengan gula pasir.

Saya memakai gula pasir sebagai campuran semen seperti pada tungku-tungku yang digunakan masyarakat agar tidak mudak retak , kata abrar. Pada tungku berbentuk kubus itu, terdapat satu lubang pada bagian atas , yang dipakai untuk pembakaran. Sedangkan disampingnya juga terdapat lubang berbentuk persegi, dipakai untuk saluran udara .

Di dalam tungku itu, ia masukkan sebuah lubang plat baja setebal dua millimeter ,dengan diameter 35 sentimeter. Tabung dengan tinggi 45 sentimeter itu, ia lubangi sekelilingnya bagian pinggir tabung sebanyak 21 lubang dengan diameter 10 milimeter . Dari lubang-lubang tersebut akan keluar api dari hasil pembakaran bahan bakar kayu. Api itu ,kemudian akan membakar asap yang keluar dari samping tabung.

Asap itu terdiri dari hydrogen (H2O), oksigen (CO2) dan sedikit metan (CH4). Ketika asap yang terdiri dari beberapa zat itu mendapat kecukupan oksigen dan api, maka akan terbakar.

Di bagian bawah tabung ia lubangi ,dengan lubang berdiameter sekitar lima sentimeter .dari lubang yang berjumlah 13 itu, udara yang berasal dari lubang yang di bawah tungku akan masuk, dan membantu proses pembakaran .

Berbeda dengan tungku yang selama ini dipakai masyarakat, Tungku ini kayu di masukkan ke tabung melalui atas. Sedangkan lubang pada tungku , hanya di gunakan untuk menyalurkan udara, dan untuk mengambil arang hasil sisa pembakaran kayu bakar,‘’ bebernya.(rbp)

Berharap menjadi bahan riset

Tungku ramah lingkungan yang di gagas umri sudah melakukan uji coba. Uji coba pertama, di lakukan untuk mengetahui seberapa besar efisiensi penggunaan bahan bakar.

Ia mencoba menggunakan bahan bakar kayu sebanyak 3 kg, pada kedua tungku. Hasilnya, tungku yang di pakai masyarakat menghasilkan sisa pembakaran sebanyak 320 gram arang atau 0,32 kg. Sedangkan tungku modifikasikanya menghasilkkan 210 gram arang atau 0,21 kg.

Artimya ,pembakaran dengan tungku yang saya buat, lebih baik. Karena hanya menghasilkan sedikit sisa pembakaran,” ujar kepala prodi jurusan teknik mesin umri ,Abrar Ridwan.

Dirinya juga menguji cobanya untuk mendidihkan air sebanyak enam liter. Pada kedua tungku ,masing-masing menggunakan bahan bakar 3 kg dari hasil uji coba nya , tungku tradisional masyarakat hanya mencapai temperature tinggi 83,75 derajat celcius pada menit 45. Sedangkan tungku modifikasinya bias mencapai 99,63 derajat celcius pada menit ke 14.

Ada efisien 15 persen jika dibandingkan dengan tungku yang selama ini di pakai masyarakat tambahnya. Ia berharap, penelitiannya dapat dijadikan sebagai riset di laboratorium teknik pembakaran umri. Menurutnya, masih banyak yang dapat dikembangkan dari tungku rakitanya itu.

Masih banyak yang dapat di kembangkan lagi. Semoga ini bisa menjadi riset di laboratorium teknik pembakaran di umri.”tambahanya.(rbp)