Mahasiswa UGM Olah Limbah Buah Jadi Nata de Fruity

ugm nata 1Pasar induk buah Gemah Ripah merupakan pasar buah terbesar di Yogyakarta. Pasar buah yang terletak di Kecamatan Gamping ini mampu menampung buah segar yang berasal dari seluruh Indonesia hingga mencapai 750 ton/hari.

Proses distribusi yang panjang mengakibatkan buah mengalami proses pematangan hingga menjadi busuk. Dampaknya potensi volume buah seberat 4 ton/hari tidak termanfaatkan dan hanya berakhir sebagai sampah organik. Hal ini sangat disayangkan sehingga perlu solusi kreatif untuk mengatasi masalah tersebut.

Nata sangat digemari oleh masyarakat karena rasanya yang nikmat, kaya akan serat serta bergizi tinggi. Nata yang dikomersialisasikan saat ini adalah Nata de coco yaitu nata yang dibuat dari air kelapa. Berdasarkan penelitian Wahyu Aristyaning Putri S.Si buah-buahan yang kadaluarsa ternyata dapat dimanfaatkan untuk pembuatan nata (Nata de fruity).

Melihat peluang itulah melalui kegiatan Program Kreatifitas Mahasiswa bidang Pengabdian Mayarakat (PKM-M) yang didanai oleh Kemendikbud, dua belas orang penjual makanan di pasar tersebut diberi pelatihan pembuatan Nata de Fruity. Inisiasi pelatihan oleh mahasiswa Fakultas Biologi dan Teknik Kimia UGM ini bertujuan untuk memanfaatkan buah kadaluwarsa menjadi produk bernilai ekonomi tinggi, sehingga mampu membentuk masyarakat yang mampu meningkatkan kebersihan serta kesejahteraan melalui pemanfaatan limbah.

“Kegiatan tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Koperasi Gemah Ripah selaku pengelola pasar serta Waste Refinary Center (WRC) UGM yang memberikan akses fasilitas untuk mendukung pelatihan,”papar ketua program pelatihan, Wiko Arif Wibowo, Selasa (25/6).

Wiko menjelaskan jika sebelumnya limbah buah di Pasar Gemah Ripah dimanfaatkan untuk biogas, maka setelah adanya pelatihan ini diharapkan buah tersebut dapat diambil dulu sari buahnya baru ampasnya dimasukan dalam reaktor biogas. Dengan inovasi ini diharapkan zero waste, sehingga sumber daya yang terbuang dapat dimanfaatkan secara berkesinambungan.

Program pelatihan ini akan terus dilaksanakan sampai peserta mampu membuat nata secara mandiri serta dapat dipasarkan sehingga mampu mensubstitusi kebutuhan nata nasional. Kegiatan ini juga sebagai sarana mahasiswa mengaplikasikan ilmu dan meningkatkan kreativitas terutama kepedulian terhadap fenomena yang terjadi pada lingkungan hidup. (ugm.ac.id/ humasristek)