ISLAM PHOBIA - We are Nothing
Oleh: Saidul Amin
Dakwah is not Option, but Obligation
Of each and every individual Muslim (Ibrahim Hernandez)
Rabu, 22 April 2026, kami mengunjungi "Centro Cultural Islamico Mezquita y Awqaf de Sevilla" atau dalam bahasa sederhana bisa disebut dengan Pusat Islam dan Wakaf Sevilla, Spanyol. Kedatangan kami disambut oleh saudara Ibrahim Hernandez, Wakil President Seville Mosque Foundation. Karena sudah mendekati waktu zuhur, maka kami dipersilakan istirahat di masjid sebelum melakukan solat berjamaah.
Setelah solat, Ibrahim, mantan model terkenal yang pernah berkarier selama 9 tahun di Afrika Selatan, tersebut mendampingi kami berdiskusi tentang berbagai isu Islam di negeri ini. Baginya, ada geliat kebangkitan Islam yang luar biasa di Sevilla yang dihuni oleh lebih kurang 30 ribu Muslim. Dengan pertumbuhan Islam yang menggembirakan tersebut, masjid yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan dan ramah kepada nonmuslim adalah satu keniscayaan. Ini penting agar generasi muda Spanyol, umumnya dan Sevilla, khususnya, faham tentang sejarahnya.
Mereka harus sadar bahwa di sini kita dulu punya masjid jamik yang indah dan besar. Tapi setelah kejatuhan Islam di Andalusia tahun 1248, masjid tersebut diubah menjadi gereja. Anda masih bisa melihat bangunan itu sampai hari ini. Saya melihat mata Ibrahim agak berkaca-kaca ketika berbisik, sudah lebih dari 700 tahun kami tidak punya masjid yang sesungguhnya.
Ketika saya tanya, apa tantangan terberat yang dihadapi umat Islam di Spanyol saat ini? Dia menjawab ada beberapa hal, tapi di antaranya adalah Islamophobia. Saya bukan imigran. Bahkan keluarga saya pribumi asli Sevilla. Tapi kami tetap merasakannya. Spanyol adalah negara sekuler. Namun, tetap ada kelompok radikal yang sangat anti terhadap Islam. Sehingga ketika rencana pembuatan masjid besar ini dimulai tahun 2004, luar biasa tantangan yang kami hadapi. Barulah tahun 2014, cita-cita itu hadir ke alam nyata dengan tersedianya lahan untuk masjid tersebut. Yang diharapkan berfungsi sebagai pengganti masjid yang pernah ada di Sevilla. Pemerintah Spanyol juga kini dapat memahami keinginan warga Muslim di negaranya sehingga menyambut baik rencana pembangunan masjid tersebut.
Saya mengelilingi banyak negara Islam untuk menggalang dana. Mulanya berat, tapi akhirnya banyak yang ikut berpartisipasi. Bahkan, pemain bola terkenal asal Prancis, Fred Oumar Kanoute, bergabung menjadi duta pembangunan masjid tersebut secara online dan sampai saat ini sudah berhasil mengutip lebih dari 1 juta dolar Amerika. Demikian juga, mantan Wakil Presiden Indonesia, Yusuf Kalla, dan Muhyiddin Yasin, bekas Perdana Menteri Malaysia, turut serta dalam pembangunan masjid impian tersebut.
Lama juga kami berdiskusi. Akhirnya perjalanan harus dilanjutkan ke Tarifa, kota terakhir Spanyol yang berseberangan dengan Maroko. Dalam perjalanan menuju hotel, lama saya merenung. Dibandingkan dengan Ibrahim Hernandez, perjuangan saya bukan apa-apa dan kita bukan siapa-siapa. Dia sedang menghadirkan masa lalu kegemilangan Islam Spanyol untuk kecemerlangan Islam dunia masa depan, waduh, We are nothing!