Prof. Amin Abdullah Dorong Pengembangan Prodi Al-Qur’an dan Tafsir Berbasis Integrasi Keilmuan di UMRI

Pekanbaru (umri.ac.id) – Pengembangan Program Studi (Prodi) Al-Qur’an dan Tafsir di perguruan tinggi tidak cukup hanya bertumpu pada kajian tekstual, tetapi harus dibangun melalui paradigma integrasi ilmu pengetahuan yang mampu menjawab tantangan zaman. Gagasan tersebut disampaikan cendekiawan Muslim Indonesia, Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Integrasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan yang digelar di Ruang Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Kamis (6/8/2026) siang.
FGD ini dihadiri Rektor UMRI Dr. Saidul Amin, M.A., Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMRI Prof. Dr. H. M. Nazir, M.A., Wakil Rektor III Prof. Dr. Jufrizal Syahri, M.Si., para dekan dan wakil dekan, serta dosen Program Studi Al-Qur’an dan Tafsir. Kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk memperkuat arah pengembangan keilmuan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) sekaligus merumuskan fondasi akademik Prodi Al-Qur’an dan Tafsir yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.
Dalam sambutannya, Rektor UMRI Dr. Saidul Amin menegaskan bahwa pengembangan Prodi Al-Qur’an dan Tafsir merupakan bagian dari komitmen UMRI dalam memperkuat identitas sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah yang unggul. Menurutnya, posisi strategis UMRI yang berada di kawasan perbatasan dan berdekatan dengan Malaysia serta Singapura menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan daya saing akademik di tingkat regional.
"Kami terus memikirkan bagaimana memajukan UMRI pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, kami membutuhkan pandangan dari para pakar agar Program Studi Al-Qur’an dan Tafsir yang sedang kami kembangkan memiliki arah yang tepat serta mampu menjawab berbagai tantangan di era sekarang," ujar Rektor.
Senada dengan itu, Ketua BPH UMRI Prof. Dr. H. M. Nazir berharap forum tersebut dapat melahirkan gagasan-gagasan strategis dalam membangun Prodi Al-Qur’an dan Tafsir dengan paradigma keilmuan Islam yang integratif. Menurutnya, kajian keislaman perlu dikembangkan melalui pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga mampu melahirkan lulusan yang adaptif terhadap dinamika masyarakat.
Sebagai narasumber utama, Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah memaparkan bahwa pengembangan ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah, memerlukan paradigma yang lebih terbuka dan dialogis. Ia menjelaskan empat pendekatan utama yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan keilmuan, yakni qira’ah taqlidiyyah yang berorientasi pada pembacaan tekstual-konservatif atau mazhabiyah, qira’ah tarikhiyyah-maqashidiyyah yang menekankan aspek historis, kontekstual, serta tujuan syariat, qira’ah mu’ashirah yang menyesuaikan pembacaan dengan perkembangan zaman, serta qira’ah naqdiyyah yang mengedepankan sikap kritis dalam memahami teks dan realitas.
Menurut Prof. Amin Abdullah, keempat pendekatan tersebut bukan untuk dipertentangkan, melainkan saling melengkapi dalam membangun tradisi keilmuan Islam yang komprehensif dan responsif terhadap perubahan sosial.
"Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir tidak dapat berkembang apabila hanya berdialog dengan dirinya sendiri. Diperlukan dialog antardisiplin ilmu agar lahir perspektif yang lebih luas, integratif, dan mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa integrasi ilmu pengetahuan menjadi kunci agar kajian Al-Qur’an dan Tafsir tetap relevan dalam menjawab berbagai isu kontemporer, mulai dari persoalan sosial, kemanusiaan, hingga perkembangan sains dan teknologi.
Melalui FGD ini, UMRI memperoleh berbagai masukan strategis sebagai pijakan dalam mengembangkan Program Studi Al-Qur’an dan Tafsir yang unggul, adaptif, dan berdaya saing. Diharapkan, program studi tersebut mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya memiliki kedalaman keilmuan Al-Qur’an dan Tafsir, tetapi juga berintegritas, berpikiran terbuka, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. (Syae)