UMRI di Usia 17: Antara Shalat, Semangat, dan Semesta

Pekanbaru (umri.ac.id) - Ada sesuatu yang khas dalam angka tujuh belas. Ia bukan sekadar hasil penjumlahan dari delapan dan sembilan, bukan pula semata bilangan ganjil yang lewat di kalender akademik. Di tangan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Dr. H. Saidul Amin, angka itu disulap menjadi simbol—menjelma menjadi filsafat, sekaligus menjadi nadi dari sebuah narasi institusional yang terus bergerak menantang zaman.

Pada puncak Milad UMRI ke-17, yang berlangsung dengan kemegahan intelektual dan kehangatan spiritual, Rektor membuka sambutannya bukan dengan data statistik, bukan pula dengan parade prestasi yang kerap menjadi lagu wajib acara sejenis. Tidak. Ia memilih bahasa lambang, bahasa batin, bahasa yang mengajak berpikir dan merasa dalam satu tarikan napas yang sama.

Makna 17: Dari Mihrab ke Masa Depan

"Angka 17 itu bukan angka biasa," ucapnya dengan nada yang nyaris seperti doa. "Ia jumlah rakaat dalam shalat wajib sehari semalam. Seakan Tuhan menegur kita lewat bilangan: bahwa dalam kehidupan, yang wajib tak boleh diabaikan, yang rutin justru harus dimaknai."

Maka, lahirlah tafsir shalat dalam tubuh institusi: bahwa kampus bukan sekadar tempat mengejar ijazah, melainkan mihrab tempat akal disucikan, dan langkah dipasrahkan pada ridho Ilahi. Inilah Universitas Muhammadiyah yang tidak hanya melahirkan sarjana, tapi juga menjahit makna dalam setiap laku.

Lalu dari sisi usia, 17 adalah batas antara manja dan tangguh, antara "siapa aku" menjadi "untuk siapa aku hidup." UMRI, dalam usia ini, tidak lagi boleh larut dalam euforia remaja yang sekadar bangga pada nama. Ia harus siap berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, bahkan menyelam sama dalam dalam samudera perubahan global.

UMRI dalam Empat Cermin

Rektor pun mempersembahkan empat dimensi makna dari nama UMRI—sebuah akronim yang ternyata bisa memuat dunia.

1.UMRI: Universitas Muhammadiyah Riau – identitas geografis dan akademik, sebagai lembaga pendidikan di bumi Lancang Kuning, tempat ilmu menetas dari akar budaya lokal.

2.UMRI: Universitas Muhammadiyah Republik Indonesia – sebuah mimpi besar untuk menjadikan UMRI sebagai kampus percontohan dalam jejaring Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA), menjadi mercusuar yang bukan hanya menyinari, tetapi juga mengarahkan kapal pendidikan bangsa.

3.UMRI: Universitas Muhammadiyah Ranking Internasional – karena pendidikan yang baik tak cukup hanya baik di mata tetangga. Ia harus diakui dunia, harus berani berdiri di panggung global, bersaing dalam peradaban.

4.UMRI: Universitas Mencari Ridho Ilahi – dan inilah fondasi terdalamnya. Bahwa dalam setiap proposal, rapat, hingga riset—ada niat yang menjulang: lillahi ta'ala. Bahwa gelar hanyalah sarana, dan ridho-Nya adalah tujuan.

Inovasi, Kolaborasi, Internasionalisasi: Tiga Pilar UMRI Muda

Tahun ini, tema milad adalah Inovasi, Kolaborasi, dan Internasionalisasi. Tiga kata yang tidak lahir dari ruang ber-AC dan notulensi hampa, melainkan dari pergulatan realitas.

Inovasi, kata Rektor, bukan sekadar aplikasi atau robot berbicara, tapi keberanian untuk mencipta sebelum orang lain bermimpi. Pepatah Melayu mungkin berkata: "Jangan tunggu angin datang untuk mengayuh, kadang layar harus dipasang melawan arus."

Kolaborasi, tak bisa ditawar. “Ikan sepat ikan tenggiri, elok dimakan dengan nasi. Tak mungkin bisa kerja sendiri, mari kita berkolaborasi.” Pantun itu bukan hiasan, melainkan hukum sosial. UMRI membangun jembatan dengan banyak pihak—pemerintah, industri, perguruan tinggi asing, bahkan dengan para alumni yang kini menjadi duta UMRI di luar pagar kampus.

Internasionalisasi, bukan soal nama asing dalam jurnal semata, tapi membangun kampus yang tahu bagaimana caranya menjadi lokal yang mendunia, dan global yang tetap membumi.

Dari Hati, Kepala, ke Tangan: Pendidikan yang Utuh

UMRI tidak mengandalkan sekadar kurikulum dan kredit semester. Rektor menjelaskan bahwa UMRI mendidik dengan tiga organ tubuh:

* Hati (Heart): menanam nilai dan keikhlasan.
* Kepala (Head): mencerdaskan dengan nalar yang tajam.
* Tangan (Hand): mengajarkan keberanian untuk bertindak, bekerja, dan berdampak.

Maka lulusan UMRI bukan hanya tahu teori, tapi tahu malu jika tak berguna bagi umat. Ia tak hanya bisa berpikir, tapi juga bergetar. Ia tak hanya hafal buku, tapi juga bisa meraba luka masyarakat dan menjahitnya dengan karya.

UMRI dan Serumpun Nusantara

Puncak acara ini juga disaksikan oleh tokoh-tokoh besar. Hadir dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah: Prof. Muhadjir Effendy dan Prof. Dr. Syamsul Anwar. Juga Prof. Brian Yuliarto, Menteri Riset, sains dan Teknologi Pendidikan tinggi,  serta para pemimpin negeri serumpun di Asia Tenggara.

Arena acara dipenuhi oleh darah segar persyarikatan: dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah hingga Pimpinan Cabang yang setia membawa semangat akar rumput. Kampus bukan hanya dipenuhi dosen dan mahasiswa, tapi juga denyut komunitas yang menjadi napas Muhammadiyah itu sendiri.

Penutup: Universitas yang Tidak Cuma Hidup, Tapi Menghidupi

Milad bukan hanya ulang tahun. Ia adalah upacara kesadaran. Kesadaran bahwa kampus bukan pabrik ijazah, bukan pula menara gading, tapi ladang amal. UMRI di usia 17 bukan lagi anak kecil. Ia adalah pemuda tangguh yang harus siap menjadi nahkoda peradaban.

Dan seperti dalam shalat, setiap rakaat diiringi niat dan salam. Maka UMRI, di setiap langkahnya, terus berniat mencari ridho Ilahi, dan menyebarkan salam ke seluruh penjuru bumi. (Agus setiyono - Pegiat dakwah Persyarikatan)