Bincang Literasi Jilid Kedelapan UPT Perpustakaan UMRI; Bahas Ancaman Dark Side, Bahaya Scam Artificial Inteligent Dalam Era Literasi Digital

Pekanbaru (Umrinews) - Artificial Inteligent (AI) memiliki sisi positif dan negatif, layaknya dua mata koin, begitulah yang disampaikan oleh Kepala UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Dwi Hastuti SE MM Ak pada pembukaan kegiatan Bincang Literasi Series Kedelapan yang ditaja oleh UPT Perpustakaan UMRI pada Selasa (12/11) siang di Auditorium Umri.
Mengangkat topik “Menjelajahi Ancaman Dark Side; Bahaya Scam Artificial Inteligent (AI) Dalam Era Literasi Digital”, Dwi menyampaikan harapannya di depan puluhan mahasiswa UMRI yang hadir sebagai peserta bahwa topik yang diangkat pada bincang literasi ini nantinya menjadi modal bagi mahasiswa dalam mempertahankan diri terhadap gempuran efek negatif dari penggunaan AI.
Sejalan dengan yang disampaikan Dwi, Evans Fuad S.Kom., M.Eng., CITA., yang siang itu menjadi narasumber bincang literasi tersebut berpendapat bahwa hingga saat ini penggunaan AI sudah umum dimanfaatkan di era digital ini. Evans yang merupakan Kepala UPT Teknologi Informasi dan Pangkalan Data (TIPD) Umri menjelaskan bahwa penggunaan AI dalam bidang akademis tergolong umum, terutama dalam proses pengolahan data dalam sebuah penelitian.
Evans juga menyampaikan bahwa penggunaan AI ini bukanlah hal yang baru, dalam dunia teknologi penggunaan AI ini sudah umum dimanfaatkan sejak beberapa dekade yang lalu. AI juga merupakan sebuah hasil rancangan dari pembuatnya, sehingga kemampuan AI terbatas pada logika yang diberikan oleh pembuatnya. “AI ini tidak bisa melampaui kemampuan manusia, karena pada dasarnya otak AI itu adalah buatan manusia” ujarnya.
Lebih lanjut, Kepala TIPD Umri ini meminta agar peserta yang hadir pada siang itu untuk lebih bijak dalam menggunakannya dan menyikapi tingginya penggunaan AI. “AI itu bisa merubah banyak hal, bisa merubah suara kita, wajah kita yang tua bisa menjadi lebih muda, yang gemuk menjadi kurus” jelasnya, karena itu perkembangan algoritma AI saat ini bisa berpotensi dimanfaatkan untuk hal yang bersifat kriminalitas.
Tenaga Pengajar pada Fakultas Ilmu Komputer tersebut, mengajak seluruh peserta untuk waspada terhadap kriminalitas digital yang didasari oleh AI ini, dengan selalu waspada terhadap permintaan apapun baik yang melalui fasilitas daring maupun luring dan senantiasa bersikap skeptis terhadap usaha apapun yang bertujuan meminta data pribadi dan sensitif kita sebagai pengguna.
Terus memperbarui perangkat dan aplikasi yang dimiliki juga dinilai mampu membantu menjaga dari adanya phising maupun penggunaan malware yang bisa merugikan pengguna. Selain memperbarui perangkat, Evans juga meminta agar terus memperbarui wawasan mengenai perkembangan AI agar kita sebagai pengguna terus terbuka mengenai teknis kriminalitas digital terbaru. (Bang Upi)