Kuatkan Literasi Psikologi Islam, Dekan FSI Umri Sampaikan Kuliah Komperehensif Di Universitas Abdurrab


Pekanbaru (Umrinews) - Dekan Fakultas Studi Islam (FSI) Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) Dr Santoso MSi sampaikan Kuliah Komperehensif di Universitas Abdurrab pada Sabtu (13/5/2023). Hal itu dilakukan sebagai upaya penguatan literasi gerakan kelimuan Psikologi Islam sekaligus siar Umri sebagai perguruan tinggi yang bebasis keislaman dan kemuhammadiyahan (AIK), memiliki perhatian yang besar dalam gerakan integrasi keilmuan yang diantaranya adalah Psikologi Islam. 

Kegiatan ini ditaja oleh Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Politik Universitas Abdurrab dengan menghadirkan dosen dan mahasiswa sebagai peserta. Acara tersebut berlangsung antusias dengan dengan pengayaan dan diskusi yang sangat berbobot dari para mahasiswa. 

Putifatma Hanum Melati, MHSPy, selaku dosen Prodi Psikologi Universitas Abdurrab menyampaikan bahwa isu Psikologi Islam menjadi pertanyaan dan diskusi yang hangat dalam perkuliahan dan mahasiswa khususnya memiliki keingintahuan yang besar untuk mengkaji khazanah Islam terkait psikologi (‘Ilm Nafs). 

"Untuk itu, mahasiswa perlu diberikan literasi lebih dalam lagi tentang Psikologi Islam. Dengan demikian, cara pandang dan wawasan mahasiswa terhadap Psikologi Islam akan lebih komprehensif" ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa Psikologi Islam adalah sebuah disiplin baru dalam blantika keilmuan psikologi di dunia, sekalipun akarnya sudah ada sejak kehadiran Islam itu sendiri. Kehadiran kajian Psikologi Islam secara fundamental adalah reaksi filosoifis dan akademik terhadap perkembangan persoalan kejiwaan, fikiran dan prilaku manusia modern yang saat ini belum tuntas terjawab olah perkembangan Psikilogi Barat.

Dalam pemaparan materi, Dr Santoso MSi mengatakan bahwa kehadiran Psikologi Islam pada hakikatnya bukan untuk mengenyampingkan eksistensi Psikologi Barat atau moden yang telah berkembang sangat kuat. Keberadaan Psikologi Islam adalah sebuah konsekuensi logis akademik dan terbukanya alternatif perkembangan keimuan psikologi yang semakin kontekstual. 

Santoso juga menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang memiliki kekayaan inspirasi terkait keilmuan psikologi, baik dalam konteks pandangan tentang konsep manusia, orientasi kehidupan, prinsip-prinsip kesehatan mental, dan intervensi perilaku. Inspirasi yang bersifat Ilahiyah tersebut, terbukti telah mampu ditafsirkan oleh para ilmuwan dan psikolog muslim pada abad pertengahan secara praktis.

"Ath-Thabari misalnya, seorang psikolog muslim yang hidup pada abad ke-9 M, pernah menuliskan kitab dengan judul Firdaus Al-Hikam, yang mengungkap gangguan kejiwaan sebagai akibat dari imajinasi dan keyakinan-keyakinan yang menyimpang. Dalam terminologi Psikologi Barat sering disebut dengan halusinasi, delusi, obsesif, dan sejenisnya" papar Santoso. 

"Tokoh lain yang sezaman dengan beliau juga tidak kalah populernya pada masa itu, seperti Ar-Razi, penemu metode konseling Islam, Ibnu Sina penemu konsep jiwa dan intervensinya dengan kajian kedokteran, dan masih banyak lagi" paparnya lagi.

Santoso juga menjelaskan bahwa Informasi tentang Psikologi Islam kemudian mengalami masa surut setelah gerakan Renaisance di barat dan kolonialisme terhadap dunia Islam sejak abad 15 hingga awal abad 20. Sejak saat itu ilmu pengetahuan di dunia Islam mengalami kelesuan karena berbagai aspek. Ilmu pengetahuan kemudian berkembang dengan corak dikotomis, pemisahan ilmu sebagai hasil pemikiran yang rasional dengan agama sebagai sumber nilai yang substantif. 

Dalam perkembangan selanjutnya urai Santoso "Manusia modern mengalami kemajuan keilmuan yang sangat pesat termasuk juga dalam bidang psikologi. Namun demikian, tetap saja masih ada yang kurang dalam diri manusia sebagai keutuhan pribadi, yaitu persoalan spiritual. Manusia modern sangat bangga dan sibuk dengan dunia rasional, empirik, dan material. Sementara nilai spiritual sepi dan tak terperhatikan. Gejala-gejala dan persoalan psikologi kemudian muncul seperti cendawan di musim penghujan, pada masyarakat moden".

Terakhir Santoso memaparkan "Para ilmuwan Psikologi Islam yang menyadari perannya sebagai rahmat bagi semesta dan sejarah kejayaan Psikologi Islam di masa lalu, mulai terpangil untuk hadir dengan menawarkan solusi. Melengkapi mata rantai kajian psikologi modern agar lebih komprehensif dan mampu menjawab perkembangan zaman".