Bincang Literasi Jilid III Kupas Tuntas Pinjaman Online Ilegal

Pekanbaru (Umri)- Kasus Pinjaman online yang sempat menghebohkan dunia pendidikan Indonesia pada beberapa waktu yang lalu menjadi topik hangat yang diangkat dalam Bincang Literasi edisi ketiga yang dirancang oleh UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Riau (Umri). Kegiatan yang dipusatkan di Auditorium lantai 3 Gedung KH. Ahmad Dahlan Umri, diikuti oleh puluhan mahasiswa pegiat literasi dari berbagai fakultas di Umri pada Senin (28/11/22).

Bincang kali ini mengusung tema ”Pinjaman Online Ilegal; Solusi dan Penanganannya” yang dilakukan secara langsung menghadirkan narasumber utama Dekan Fakultas Studi Islam, Dr Santoso SS Msi, Wakil Dekan Fakultas Hukum Dr Saut Maruli Tua Manik SHI SH MH dan Kepala UPT Perpustakaan Umri Dr Jupendri SSos MIKom yang sekaligus menjadi pemantik dalam kegiatan tersebut.

Jupendri menjelaskan “Diskusi yang dilakukan hari ini bertujuan untuk memberikan perspekstif lain dalam sudut pandang hukum serta psikologi Islam mengapa banyak masyarakat dari berbagai kalangan masih terjerat atau tergiur dengan pinjaman Online,” ucap mantan Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Umri tersebut.

Dalam bincang yang berjalan interaktif tersebut, Dr Saut Maruli SHI SH MH menjelaskan secara detail tentang status dan dasar hukum pinjaman online menjadi perhatian khusus para mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut. "Pinjaman Online itu tidak bisa dipidana penjara, karena itu merupakan hukum perdata, jangan takut atau berfikir bahwa ketika kita tidak bisa membayar pinjaman tersebut akan masuk penjara. Bahkan ada ketentuan dan kondisi khusus yang memungkinkan si peminjam bisa dianggap lunas hutangnya" paparnya.

Sedangkan Dr Santoso SS Msi berbicara lebih spesifik dari aspek Psikologi Islam. Ia mengatakan"Saat ini, nasabah dan pasar pinjol masih sangat besar, karena bank tidak bisa mencover kebutuhan tersebut. Untuk itu kita perlu pelajari skema kebutuhan kita dan mengontrol apakah kita benar-benar membutuhkan uang itu untuk kebutuhan produktif dari pada konsumtif," ucap Santoso.

Di akhir sesi kegiatan bincang literasi itu beberapa pertanyaan hebat dan kritis dari mahasiswa yang hadir dan juga merupakan pegiat literasi kampus muncul dalam suasana serius namun dikemas dengan santai.