UMRI Gelar Orasi Ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Terbatas dalam Rangka Milad ke-13

Orasi Ilmiah Dr. Aidil Haris, M.Si

Humas - Sebagai rangkaian dari peringatan Milad ke-13 Universitas Muhammadiyah Riau pada Sabtu (05/06/2021), UMRI juga menggelar orasi ilmiah dalam sidang senat terbuka terbatas. Orasi ilmiah tersebut disampaikan oleh Dr. Aidil Haris, M.Si, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi UMRI.

Melemahnya interaksi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok di tengah pandemic Covid 19 menyebabkan terjadinya revolusi komunikasi dari face to face menjadi interface. Demikian dikatakan Dr. Aidil Haris, S.Sos., M.Si dalam orasi ilmiahnya pada milad ke-13 Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Sabtu (5/6/2021).  Dikatakannya, dari bebeberapa referensi ilmiah dikemukakan bahwa revolusi komunikasi merupakan peledakan (eksplosi) teknologi komunikasi. Hal ini bisa kita lihat dengan meningkatnya penggunaan satelit, mikroprosesor, komputer dan pelayanan radio tingkat tinggi. Revolusi komunikasi sendiri adalah salah satu dari beberapa revolusi yang juga terjadi di berbagai bidang. Revolusi ini sendiri muncul dengan didorong kemajuan teknologi yang menawarkan berbagai resources informasi dan komunikasi yang luas.

“Oleh karena itu, kita tidak akan tahu dengan pasti bagaimana bentuk akhir dari gerak perubahan itu. Namun, yang pasti bentuk itu nantinya akan berbeda dari apa yang ada selama ini,” papar Dr. Aidil Haris yang juga pakar Media, Politik, dan Teroris ini dihadapan senat UMRI dan para undangan yang dilakukan secara virtual.

Dalam penelitiannya berjudul berjudul Teknologi Komunikasi dan Pengaruhnya Terhadap Interaksi yang sudah dipublis pada jurnal nasional disebutkan bahwa setiap harinya individu selalu bersentuhan dengan teknologi dan pada kenyataannya saat ini manusia hidup dalam masyarakat informasi. Ciri khas masyarakat informasi menurutnya adalah tidak hanya bersentuhan dengan teknologi informasi an sich, melainkan juga menggunakan teknologi komunikasi itu untuk keperluan yang beragam.

“Proses interaksi yang dilakukan manusia di masa pandemic covid 19 ini dipaksa untuk tidak lagi mengandalkan proses interaksi face to face, melainkan sudah memanfaatkan teknologi komunikasi dalam setiap interaksi. Hal ini menandakan perkembangan teknologi komunikasi sudah membawa perubahan yang begitu dahsyat dalam proses interaksi manusia sejak pandemic mewabah,” jelas Aidil.

Menurut Dosen yang juga Pengamat Komunikasi Politik tersebut, Revolusi komunikasi menandakan perkembangan teknologi komunikasi sudah membawa perubahan yang begitu dahsyat dalam proses interaksi manusia sejak pandemic mewabah. Bahkan lebih daripada itu, kehadiran teknologi komunikasi dan informasi justru menjadi pola dan gaya hidup baru manusia.

“Untuk memahami lebih jauh bagaimana teknologi komunikasi mampu mempengaruhi proses interaksi,  maka kita jangan melihat pada sudut pandang negatif. Akan tetapi kita justru harus melihat bagaimana teknologi komunikasi dan informasi mampu dijadikan sebagai sebuah Revolusi Komunikasi yang menjadi bagian dari kebutuhan primer setiap individu masyarakat global, terutama di masa pandemic saat ini,” katanya.

Diakhir orasinya ia menegaskan Revolusi Komunikasi yang terjadi saat ini bukan berarti memutuskan proses komunikasi face to face menjadi tidak penting. Justru, Revolusi Komunikasi di masa pandemic saat ini dalam rangka mewujudkan proses komunikasi yang efektif guna menghindari penyebaran virus covid 19.

“Revolusi Komunikasi di tengah pandemic Covid 19 setidaknya mampu meminimalisir penyebaran virus corona. Dengan demikian kita bisa mewujudkan Indonesia sehat terbebas dari Covid 19,” tutup Aidil. (rn).