SELAMAT TAHUN BARU ISLAM HIJRIYAH 1441

Penulis : Gigih Setyaji, S.Kom || 22 Nov 2019 | 08:03 WIB
SELAMAT TAHUN BARU ISLAM HIJRIYAH 1441

Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillah, wasyukru lillah laa hawla wa laa quwwata illa billah.
Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, wa asyhadu anna muhammadan‘abduhu warasuluhu.
Rodhitu billahi robba wa bil Islami diina wa bi Muhammadin nabiya wa rosula.

Alhamdulillah atas rahmat Allah SWT, saat ini kita bisa merasakan moment istimewa perpindahan  tahun hijriah dari tahun 1440 menuju 1441 H.  Bulan Muharram merupakan moment penting bagi umat Islam seluruh dunia. Di bulan tersebut umat Islam merayakan perubahan tahun hijriyyah. Sebuah moment yang merujuk pada peristiwa hijrah Rasulullah Saw. Perpindahan  dari Mekah ke Madinah. Dalam hijrahnya, Rasulullah Saw, seperti hendak mengajarkan tentang pentingnya pribadi muslim memelihara spirit dinamis dalam diri mereka. Pada peringatan Tahun Baru Hijriyah 1441 H ini.

Sungguh tidak gampang bagi Nabi Muhammad dan para pengikutnya untuk melakukan perjalanan 250 mil di bawah terik matahari yang menghabiskan masa tak kurang dari 9 hari dengan fasilitas transportasi masa itu. Di tempat baru (Madinah), Nabi juga menghadapi tantangan yang tidak kecil. Tantangan terbesar adalah mengukuhkan solidaritas sosial di antara warga Madinah yang terpecah belah. Tidak mudah bagi junjungan kita menyatukan mereka yang  berkekurangan dengan kaum kaya untuk membangun tatanan masyarakat baru yang berkeadaban dan berkeadilan.

Dalam peristiwa hijrah, banyak sekali hal yang sampai hari ini tetap menginspirasi umat Islam. Kita memaknai pemilihan peristiwa hijrah sebagai awal penanggalan umat Islam oleh Umar bin Khattab, sebagai bentuk refleksi diri dari perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad.

Nilai kehijrahan yang berhasil dilakukan oleh Nabi Muhammad dengan membawa masyarakat Madinah menjadi semakin maju, beradab, rukun dan sejahtera, harus mampu kita hadirkan di negara kita sebagai manifestasi dari kesadaran kita akan makna hijrah tersebut. Meskipun, kita tidak langsung berjuang bersama Nabi dalam proses tersebut. Sekarang, kita memiliki tanggung jawab besar untuk membawa Indonesia berhijrah menjadi negara yang maju, beradab, rukun dan sejahtera, seperti dulu yang juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam membawa Madinah berjaya.

Pada prinsipnya perjalanan hidup adalah proses hijrah dari masa ke masa demi terciptanya perubahan, atau dari tidak baik menjadi lebih baik. Pada peringatan Tahun Baru Hijriyah 1441 H ini UMRI menemukan peluang sekaligus tantangan yang tidak ringan. Karena implementasi proses pendidikan harus diarahkan pada pencapaian hasil (lulusan) yang memiliki kemampuan utuh antara keimanan dan ketaqwaan, kedalaman dan keluasan wawasan pengetahuan, penguasaan ilmu dan teknologi serta profesionalisme, kemandirian dan tanggung jawab sosial.

Keprihatinan kita bahwa kemajuan IPTEK di tangan Barat telah menghadirkan imperialisme atau penjajahan secara langsung selama berabad-abad, dan kemudian disusul dengan bentuk-bentuk neo-imperialisme secara terselubung, yang pada hakikatnya lebih dahsyat daripada imperialisme dalam bentuk aslinya. Sebuah “memoir” yang ditulis Alan Greenspan, seorang mantan ketua Federal Reserve, dengan judul The Age of Turbulence: Adventures in a New World, terbit pada 17 September 2007, menambah kuatnya fakta yang menunjukkan betapa sangat berbahayanya kondisi kehidupan manusia modern sebagai akibat kemajuan IPTEK Barat. Sementara itu, tujuan dari pendidikan dalam Islam adalah membentuk manusia sempurna dalam terminologi Islam biasa disebut insan kamil.

Seorang ulama Muslim bukanlah seorang spesialis dalam salah satu bidang keilmuan tetapi ia adalah seorang yang ensiklopedik dan universal dalam cara pandangnya dan mempunyai otoritas dalam beberapa bidang keilmuan yang saling berkaitan, terutama harus menguasai bidang  ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah sekaligus. Ilmuwan Muslim harus memiliki pondasi studi Islam yang baik dan memadai, di samping harus menguasai disiplin keilmuan tertentu. Oleh karena itu, yang diperlukan umat Islam saat ini bukanlah menduplikasi sistem pendidikan tradisional ataupun sekuler modern yang telah terbukti tidak banyak memberikan solusi terhadap problem yang mendera masyarakat modern, bahkan sebagian sistem tersebut justru menimbulkan masalah baru. Maka yang diperlukan umat Islam adalah kesanggupan melakukan terobosan baru (breakthrough) dan berani menciptakan sebuah sistem pembelajaran alternatif dan inovatif dengan tetap berada  dalam koridor Islamic  framework.

Dalam konsteks  kebangsaan, spirit hijrah yang bisa kita ambil, adalah dengan berupaya terus-menerus berjuang menyelesaikan persoalan kebangsaan yang sedang kita hadapi. Maka momen pergantian tahun baru hijriah mestinya menjadi penyulut semangat bagi umat Islam agar lebih keras lagi berjuang dalam menyelesaikan persoalan kebangsaan. Banyak sekali persoalan bangsa yang belum terselesaikan secara maksimal, bahkan terus saja berkembang biak tanpa bisa kita bendung, seperti korupsi, ketidakadilan, kekerasan, kemiskinan, dan diskriminasi. Semua persoalan ini butuh keseriusan umat Islam sebagai bagian dari bangsa Indonesia, untuk berjuang dengan sungguh-sungguh menyelesaikan persoalan tersebut.

Indonesia sekarang butuh sosok tangguh yang memiliki kesungguhan dalam berjuang membawa kehijrahan atau perubahan di Indonesia. Umat Islam sebagai bagian besar dari bangsa ini harus mampu menghadirkan perubahan itu, agar makna hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad dahulu tidak sekadar jadi cerita usang yang tidak bermakna. Pada prinsipnya sejarah mengandung makna spirit perubahan yang harus senantiasa diperjuangkan, secara khusus dalam hal ini peristiwa hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah adalah perjalanan bahwa manusia pada prinsipnya harus senantiasa berubah menjadi lebih baik. Akhirnya, Tahun Baru Hijriah 1 Muharam 1441 H, bagi masing-masing warga bangsa, memang bisa dimaknai sesuai dengan sikon dirinya. Namun, jika kita semua mau berhijrah dari pribadi egois menjadi altruis, jelas akan ada perubahan dalam masyarakat kita. Mari kita yang kuat, entah dari sisi materi atau keilmuan, melakukan sesuatu, bukan demi ego kita, tapi demi kebaikan dan kesejahteraan bersama. Bukan retorika, tapi aksi nyata. Selamat Tahun Baru Hijriah. Mari menjadi muslim yang altruis, bukan egois.

Semoga Allah SWT telah memberikan rahmat dan hidayah kepada kita sivitas akademika UMRI, kepada bangsa kita, kepada negara kita, melindungi kita, dan pemimpin kita serta ulama-ulama kita dan bangsa kita, senantiasa meneguhkan hati kita di dalam melakukan kebaikan-kebaikan dan meningkatakan kualitas diri kita, menjaga dan melancarkan lisan, melancarkan langkah kita untuk menyampaikan kebenaran dan selalu menunjukkan jalan bagi UMRI dalam ikut serta membangun manusia Indonesia yang tangguh, yang unggul, dan berakhlakul karimah, serta menjadikan UMRI sebagai Perguruan Tinggi yang bermartabat dalam membangun Indonesia sehingga Indonesia dapat menjadi negeri yang sejahtera, negeri yang makmur, baldatun tayyibatun warabbun gafur.

Amin ya rabbal alamin.
Semoga Allah meridhai.
Amin ya rabbal alamin.
Terima kasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rektor
Dr. H. Mubarak. M.Si