Ikuti Standar Akreditasi, UMRI Taja Bimbingan Teknis

Dokumentasi (22/1/2020)

umri.ac.id - Penyusunan borang akreditasi program studi (Prodi) harus dilakukan sebaik mungkin. Karena, dengan aturan baru yang ditetapkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), persyaratan mendapat akreditasi sangat baik atau unggul tidak mudah.

“Jika mengacu pada peraturan terkait akreditasi yang baru, ada tiga indikatornya. Yaitu, unggul, sangat baik dan baik. Kalau saat ini proses akreditasi dilakukan, maka Umri yang telah mengantongi Akreditasi B sulit mendapat kategori sangat baik. Paling tidak hanya dapat akreditasi baik,” ungkap DR Budi Ahmad dari Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah.

Budi Ahmad berada di Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) pada Rabu, (22/1/2020), menghadiri bimbingan teknis penyusunan borang akreditasi Prodi. Kegiatan itu diikuti  sebanyak 150 dosen, ketua Prodi, dekan dan wakil dekan di UMRI.

Dengan peraturan baru itu, Budi Ahmad menilai perjuangan UMRI mendapatkan akreditasi sangat baik tidak mudah. Oleh karenanya, semua pihak harus meningkatkan kinerja. Sehingga dampaknya dilihat oleh BAN-PT.

Dijelaskannya, dengan regulasi baru ini akan ada degredasi nilai akreditasi. Dimana akreditasi yang A tidak dinilai 4 lagi. Nilainya hanya 3,5. Nilai 4 hanya untuk Prodi yang unggul. Sementara Prodi yang akreditasi B, maka bobotnya hanya 2,5.

Untuk itu, Prodi dan Fakultas di UMRI didorong mempersiapkan diri sebaik mungkin. Di antaranya dengan memastikan sembilan kriteria dalam Instrumen Akreditasi Program Studi (IAPS) masuk dalam rencana strategis.

Sebelumnya, Rektor Umri, DR Mubarak MSi menekankan agar bimbingan teknis ini disusun berdasarkan keunggulan yang dimiliki Universitas. Untuk itu, penyusun borang akreditasi harus mengetahui dulu apa yang menjadi keunggulannya.

“Apa yang bisa dibanggakan yang membuat masyarakat melihat Umri. Karena, salah satu indikator perguruan tinggi terbaik yaitu, mampu menjadi rujukan oleh masyarakat. Salah satunya yang perlu dilakukan yaitu mencapai akreditasi yang baik,” tutur Rektor.

Dijelaskannya, akreditasi merupakan cerminan dari kualitas orang-orang yang mengelola perguruan tinggi. Karena itu, penyusunan borang akreditasi harus disusun sebaik mungkin. Semua hal itu perlu dilakukan untuk mencapai mahasiswa yang hebat.

Sementara itu, Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Kontrol Mutu (LP2KM) Umri, Fikri Hadi MSi menjelaskan bahwa kegiatan ini dihadiri 150 orang. Yaitu seluruh dosen, Kaprodi dan dekan dan wakil dekan.

Menurutnya, kegiatan ini fokus pada pelatihan atau workshop penyusunan borang akreditasi menggunakan sembilan kriteria standar. Ini disesuaikan dengan regulasi yang baru yang diterbitkan pemerintah.

Menurut dia, dengan berlakunya aturan baru, maka ada peralihan kriteria akreditasi dari 7 standar menjadi 9 standar. UMRI bergerak cepat menangkap dengan menggelar kegiatan ini agar rencana strategis pendidikan di Prodi mengacu pada sembilan standar akreditasi dapat terwujud.

Sembilan standar ini mengacu pada data dari Dikti dan menitikkan pada evaluasi diri. Jadi manajemen Universitas secara keseluruhan akan dilihat. Sementara data hanya sebagai supporting untuk menbuat evaluasi diri.

“Makanya sekarang Umri sangat menekankan pada upaya besar mewujudkan akreditasi yang lebih baik. Di antaranya dengan menetapkan target bisa mencetak 40 doktor dalam 3 tahun ke depan,” tuturnya. Saat ini sudah ada 40 calon doktor yang tengah menempuh pendidikan.

Langkah selanjutnya yaitu, menyelesaikan rencana strategis pada borang sekarang. Jadi semua rencana kerja harus menyesuaikan dengan sembilan standar akreditasi. Hal itu perlu dilakukan, karena saat pengajuan ulang akreditasi nanti, aturan baru telah berlaku. (Upt. Promosi)