REKTOR UMRI LANTIK TIGA WAKIL REKTOR

1

Pekanbaru (www.umri.ac.id) – Rektor Universitas Muhammadiyah Riau Dr H Mubarak M.Si lantik tiga Wakil Rektor untuk masa jabatan 2018-2022.acara pelantikan di Auditorium Lantai III Gedung Rektorat.Disaksikan oleh Ketua Majelis Dikti Litbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Lincolin Arsyad, Rektor melantik Sri Fitria Retnawaty SSi MT sebagai Wakil Rektor I. Kemudian, Bakaruddin SE MM sebagai Wakil Rektor II serta dr H Taswin Yacob SpS sebagai Wakil Rektor III.(11/4/2018).

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan, jabatan yang diberikan adalah amanah yang diberikan oleh Muhammadiyah. Dimana amanah ini harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat. “Karena itu, saya minta Wakil Rektor untuk terus bekerja. Karena 2018 hingga 2022 bukan waktu yang panjang. Banyak yang harus kita selesaikan,” paparnya.

Di antara pekerjaan yang harus dicapai 4 tahun kedepan yang harus dicapai adalah peningkatan kapasitas akademik. Salah satu indikatornya yaitu akreditasi perguruan tinggi dan program studi. Dimana saat ini ada sembilan prodi baru yang butuh dilakukan legalitas. Mubarak menambahkan, target Umri Empat tahun kedepan adalah bagaimana Program studi (Prodi) yang terakreditasi B menjadi A.

   Seiring dengan itu, akreditasi perguruan tinggi harus dilakukan reakreditasi. Walaupun punya waktu sekitar tiga tahun lagi, Umri sudah membentuk panitia sejak sekarang untuk meningkatkan akreditasi terbaik.

Kedua yaitu tata kelola keuangan dan sumber daya manusia. “Kami beberapa tahun lalu sudah mencanangkan sistem manajemen berbasis teknologi informasi (TI). Sekarang tinggal mengembangkan,” paparnya. Ditargetkan, dalam setahun harus tuntas transformasi teknologi yang telah dipakai di perguruan tinggi lain.

Kemudian, target berikutnya adalah seluruh dosen menyandang gelar doktor. Saat ini, sudah ada empat orang yang menyandang gelar doktor. Lalu ada juga yang tinggal berproses mencapai gelar itu. Untuk itu, Umri telah menyiapkan penghargaan untuk dosen.

Begitu juga dengan karyawan, akan ada sistem memberi penghargaan kepada karyawan yang kinerjanya bagus dibanding yang mereka-mereka kurang baik. “Empat tahun kedepan diharap sistem sudah tuntas. Sehingga ada standar dalam menjalankan sistem pendidikan,” kata dia.

   Ditambahkan Rektor, saat ini sumbangsih Umri untuk perserikatan belum terlalu maksimal. Namun, Rektor berharap hal itu dimaklumi karena Umri mengalihkannya untuk mengembangan pendidikan bagi mahasiswa.

Sebagai sumbangsih, maka Umri ingin pengabdian masyarakat oleh mahasiswa dan dosen berbasis pengembangan ranting dan cabang Muhammadiyah. Pilot project-nya sudah dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM).

“Ternyata ini semua sudah sejalan dengan perintah persyarikatan melalui Majelis Dikti Litbang. Tinggal melakukan internasionalisasi,” katanya. Untuk mencapai hal itu, tentu dosen-dosen didorong menguasai bahasa Inggris.

Sementara itu, Lincolin Arsyad menyebut bahwa pergantian pejabat perguruan tinggi adalah hal biasa. Justru yang istimewa adalah tantangannya. Karena tantangannya tentu tak sama dengan masa lalu. Untuk itu butuh kerja keras, kerja cerdas serta kerja iklas.

Dia berpesan, wakil rektor menurutnya harus kompak dengan rektornya. Akan merugikan jika tidak kompak. Karena energi habis untuk hal yang tidak efektif.

Lincolin mengaku memuji Umri. Karena dibanding Perguruan Tinggi Muhammadiyah lainnya, Umri yang baru sembilan tahun perkembangannya sangat pesat. Buktinya, dalam sembilan tahun, doktor baru di Umri sudah bertambah empat orang. Padahal, tidak gampang mendorong dosen mengambil pendidikan doktor.

Ditambahkan dia, tantangan kedepan adalah persaingan dan perubahan yang sangat cepat atau disrupsi yang mengubah tatanan lama. Lincolin mencontohkan kemunculan Gojek yang membuat pemerintah gamang menentukan regulasi. Karena masih belum ada patokannya.

Untuk itu, dia menilai sudah saatnya berbagai pelayanan di Umri berbasis TI. Karena itu akan mempermudah pelayanan. Baik dalam hal tata kelola keuangan, pengembangan SDM, hingga mengembangkan kreativitas mahasiswa.

Kurikulum yang dipakai saat ini juga harus terus dikaji ulang. Karena perubahan ekternal sangat cepat. “Jangan-jangan kurikulum, sarana penunjang, jurnal sudah tak relevan lagi,” paparnya.

Berbagai perubahan ini tentu bakal berhubungan dengan dukungan dana. Karena itu, Wakil Rektor II didorong memiliki kemampuan mencari sumber pendanaan yang optimal. **Humas***

Blog Attachment