Selesaikan Tantangan Mubaligh di Riau, UMRI dan PWM Lakukan Pelatihan Ini

IMG_2946

Pekanabru (www.umri.ac.id)- Sejumlah mubaligh jalani Training of Trainers (ToT) Muballigh Pencerahan yang ditaja Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) bersama Majelis Tabligh Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Riau. Kegiatan yang berlangsung mulai 23 sampai 25 Februari ini menghadirkan tiga pengurus pusat Muhammadiyah sebagai pemateri.

Tiga pemateri dari pusat itu adalah Ketua PP Muhammadiyah Prof H Yunahar Ilyas MA. Kemudian ada juga Dr Hamim Ilyas serta Dr Imam Daruqutni yang juga mantan Ketua Pengurus Pusat Pemuda Muhammadiyah.

“Selain itu, ada juga narasumber dari Majelis Tabligh PWM. Yaitu, M Syahrullah Umar MM dan Ustadz Santoso MSi,” ungkap Mizan Asnawi selaku Ketua Panitia, Sabtu (24/2/2018).

Adapun hal yang disampaikan kepada seluruh mubaligh berkaitan dengan materi dakwah, strategi dakwah, psikologi dakwah, isu kontemporer dakwah dan komunikasi dakwah.

Dijelaskan Mizan, ToT ini dilakukan dalam rangka konsolidasi mubaligh Muhammadiyah se Riau. Khususnya untuk menyikapi persoalan-persoalan dakwah di daerah masing-masing.

Dalam pertemuan diawal, digali sejumlah masalah yang dipaparkan langsung oleh para mubaligh. Misalnya, jumlah mubaligh yang masih minim, kapasitas mubaligh dan perluasan wilayah dakwah. “Ada juga masalah prioritas dakwah kepada suku terasing,” kata dia.

Dijelaskan Mizan, dakwah suku terasing ini dilakukan karena mereka kerap menjadi korban kemiskinan dan termarjinalkan. “Kita ingin bangun mentalitas mereka. Kemudian memenuhi fasilitas kehidupan mereka. Makanya dalam dakwah ada kerjasama dengan Lazismu untuk penghimpunan bantuan,” paparnya.

Untuk saat ini, dakwah suku terasing Muhammadiyah menyasar areal spesifik. Yaitu warga Sakai di Siak. Agar masalah warga Sakai segera dituntaskan, para mubaligh proaktif berkoordinasi dengan Pemkab dan lembaga-lembaga sosial setempat.

Menurutnya, dakwah dan pendampingan dilakukan sudah setahun. Mizan mengakui, butuh 3-4 tahun untuk berdakwah dan membangun satu komunitas. Karena bukan hanya mental saja yang dibangun tapi juga infrastrukturnya. Misalnya, membangun mushala, fasilitas jalan, air bersih, kesehatan dan sebagainya.

Selain dakwah di masyarakat terasing, penekanan program juga dilakukan untuk peningkatan kuantitas dan kualitas mubaligh. Dengan adanya ToT, mereka bisa melatih calon mubaligh baru di daerah masing-masing. Karena idealnya di Riau harusnya ada 1.200 orang mubaligh Muhammadiyah. Sementara saat ini yang ada masih 400-an orang.

Sementara itu, Ustadz Santoso yang mengangkat materi psikologi dan komunikasi dakwah menjelaskan bahwa dirinya membekali peserta agar punya kemampuan melakukan pendekatan kepada umat secara psikologis. Artinya, mereka memahami psikologis umat.

Dengan paham psikologis umat, maka proses dakwah tak jauh dari fenomena yang tumbuh di masyarakat. “Dengan demikian ketika mereka jadi objek dakwah, maka mereka terbantu menyelesaikan masalah dalam hidupnya,” terang Mizan.

Hal ini sejalan dengan tujuan dakwah. Yaitu mencerahkan dan bisa menyelesaikan masalah kehidupan.

Selama ini mubaligh memang punya pengalaman melakukan pendekatan secara psikologis pada masyarakat. Mereka mempunyai kemampuan yang memadai. Tapi sebagai trainers perlu ditingkatkan kapasitasnya. Karena mereka tak lagi sebagai pelaku tapi juga pembina.**Humas

Blog Attachment