SEPUTAR KOMPETEN DAN TIDAK KOMPETEN BERKOMUNIKASI

  • Margono Benny Purwindra, M.I.Kom ( Dosen Komunikasi )

 

Kompetensi komunikasi dibangun melalui tiga domain: keluarga, lingkungan terdekat (RT/RW) dan sekolah. Input yang diperoleh seorang anak melalui ketiga domain itulah kelak yang membuat seseorang mampu berkomunikasi dengan baik atau tidak.

 

Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang komunikasinya dipenuhi kosa kata ‘kebun binatang’ akan terbiasa menyebut-nyebut binatang dalam komunikasinya. Sebaliknya, kalau keluarga itu memelihara diksi dalam berkomunikasi maka anak-anak yang dibesarkan di sana juga akan memelihara diksinya sampai dewasa.

 

Keluarga adalah tempat sosialisasi primer dilakukan, tempat pertama kali orang mengenal kata dan kalimat. Dalam keluarga juga orang mengetahui mana kalimat yang boleh diucapkan dan mana pula yang tidak boleh.

 

Selanjutnya orang akan belajar dari tetangga-tetangga dan teman bermain di lingkungan tempat tinggal. Mereka menerima input berdasarkan kualitas komunikasi di lingkungan tersebut. Jangan heran kalau anak anda tiba-tiba mengucapkan kata ‘carut’ setelah bermain dengan anak tetangga, sementara dalam keluarga kata-kata itu haram diucapkan.

 

Domain ketiga, sekolah, memberi input pula kepada seorang anak bagaimana berkomunikasi dengan orang lain. Hubungan murid dengan guru dan hubungan murid dengan sesama murid akhirnya mewarnai cara murid memproduksi kalimat, memilih kata, mengintegrasikan kalimat dengan pikiran dan perasaan, dan mengucapkan kalimat yang ia produksi di depan orang lain.

 

Problem kompetensi komunikasi, sangat terkait dengan kondisi sosiokultural (Hymes, 1966; Cooley dan Roach,1984). Hymes membagi kompetensi dalam berkomunikasi menjadi dua, yaitu kompetensi berbahasa (linguistic competence) dan kompetensi dalam berkomunikasi (communicative competence). Mengikuti pikiran Hymes maka seseorang yang mempunyai kompetensi dalam berbahasa belum tentu mempunyai communicative competence karena sangat terkait dengan penerimaan orang terhadap kalimat yang disampaikan.

 

Kalimat yang bagus secara gramatikal dapat saja membuat orang tersinggung dan marah, tapi sebaliknya kalimat yang buruk secara gramatikal justru dapat diterima. Artinya, ada unsur non-bahasa menyelip dalam kompetensi komunikasi. Unsur itu adalah nilai budaya.

 

Seorang sarjana atau dosen komunikasi mungkin piawai dalam membangun kalimat yang benar secara tata bahasa karena belajar di bangku kuliah. Namun kepiawaian itu tidak otomatis menyebabkan apa yang ia sampaikan dapat diterima oleh lingkungannya. Mengapa?

 

Sebelum mulai belajar di perguruan tinggi ia sudah belajar berkomunikasi setidaknya 19 tahun dalam keluarga, sekolah dan lingkungan tempat tinggal. Masa belajar dan berpraktek komunikasi yang begitu panjang tidak mudah terkalahkan oleh masa belajar yang relatif singkat di perguruan tinggi. Itulah sebabnya mengapa kepiawaian dalam membangun kalimat tidak menyebabkan ia langsung hebat berkomunikasi.

 

Bisakah sarjana komunikasi yang berasal dari lingkungan komunikasi buruk menjadi komunikator yang baik? Jawaban saya: bisa. Tentu saja memerlukan kerja keras untuk sampai ke tahap itu.