LPPM UMRI Gelar Seminar Pemanfaatan Limbah PKS Untuk Energi Listrik

Seminar Pemanfaatan Limbah PKS Untuk Energi Listrik oleh LPPM UMRIPEKANBARU- Sebagai lanjutan dari seminar sebelumnya, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) kembali gelar seminar bertajuk pemanfaatan limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) sebagai biofuel energi terbarukan untuk listrik.

 

Menurut Kepala LPPM UMRI, M Ridha Fauzi ST MT, seminar akan melibatkan instansi terkait seperti Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben), Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda), Badan Penanaman Modal, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), dan perwakilan Perguruan Tinggi di Pekanbaru.

 

“Seminar yang akan dilaksanakan Rabu (26/8) besok di Distamben tersebut, kita ingin menggiring opini peserta bahwa limbah PKS ini merupakan sumber energi listrik yang peotensial dan murah,” kata Ridha, Selasa (25/8).

 

Ridha menjelaskan, sebelumnya LPPM UMRI juga telah menggelar kegiatan bertajuk dialog Pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit sebagai bahan bakar pembangkit listrik yang lebih murah, mengurangi subsidi dan devisa dari impor minyak, serta bermanfaat bagi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah daerah, di kampus UMRI pada April lalu.

 

Dia menyebut, kalau Waste to Energy merupakan teknologi yang telah umum digunakan. Di banyak negara maju, listrik yang dihasilkan dari pembangkit waste to energy terbukti lebih efisien dibandingkan dengan pembangkit listrik berbahan bakar solar (diesel fossil fuel). Provinsi Riau dengan ratusan pabrik sawit yang tersebar, beroperasi non stop memproduksi berton-ton limbah cair sawit atau POME (palm Oil Mill Effluent) setiap hari.

 

Limbah ini menimbulkan tidak hanya dampak negatif terhadap lingkungan, namun telah menyebabkan terjadinya konflik sosial di berbagai daerah. Di sisi lain penanganan terhadap limbah tersebut juga berbiaya tinggi. 

 

“Terdapat sekitar 223 PKS di Provinsi Riau, satu ton TBS, mampu menghasilkan POME 20 meter kubik. Sampai saat ini itu hanya dijadikan pupuk, sementara jika dikaji ada nilai tambahnya yakni untuk sumber energi listrik, POME yang dihasilkan, jika dijadikan energi listrik, nilai rupiahnya lebih tinggi jika dijadikan pupuk,” kata dia. 

 

“Kalau dijadikan pupuk, untuk jangka panjang juga tidak bagus karena POME yang dihasilkan itu sangat panas, dan bisa merusak struktur alam, karena itulah kita ingin mendorong agar POME ini bisa dijadikan sebagai sumber energi listrik, yang tentunya jika terwujud, akan mampu mengatasi masalah kelistrikan di Provinsi Riau,” lanjutnya mengakhiri.

(Sumber MC Riau/mad)