Inilah Kompor Gastrik Buatan Wahono Handoko

kecil-11Kompor Gastrik merupakan alternatif jawaban atas kebutuhan masyarakat terhadap kompor yang ekonomis dan aman. Gastrik sendiri merupakan singkatan dari gas dan listrik.

Kompor gastrik diciptakan oleh Wahono Handoko bersama dua rekannya, Randy Ariaputra dan Han Harrison.

 

Harga elpiji semakin mahal. Belakangan juga ada kejadian kompor gas elpiji meledak. Berarti faktor safety-nya juga tidak terjamin. Namun masyarakat tidak punya pilihan. Mau kembali ke minyak tanah, harganya pun sudah lebih mahal. Selain itu, kita juga berpikir bahwa bahan bakar gas dan minyak bumi suatu saat akan habis. Dari situ kita coba bikin kompor alternatif, yang harganya relatif lebih terjangkau masyarakat, faktor keamanannya tinggi, dan ramah lingkungan. Itulah yang melatarbelakangi kompor gastrik, kata Wahono, dikutip dari www.majalahinovasi.com.

Secara garis besar, komponen kompor gastrik terdiri dari tabung, regulator, dan kompor. Cara kerja kompor ini adalah dengan mengonversi bahan bakar bioethanol menjadi gas. Dalam proses kerjanya, kompor gastrik sangat hemat listrik. Keuntungannya, masyarakat tidak perlu adaptasi lagi, karena kompor gastrik ini sangat mirip dari segi desain dengan kompor gas elpiji. Dari segi keamanan, karena menggunakan bahan bakar cair, maka relatif lebih aman. Kompor ini hanya membutuhkan listrik sekitar 12 Watt. Sangat hemat, ungkap Wahono.

Sebagai bagian dari strategi pengembangan gastrik, Wahono mengaku tidak mau terburu-buru menjualnya secara bebas di pasaran. Ia beralasan telah mempelajari para pendahulunya yang juga terjun ke bidang alternatif energi. Dari hasil pengamatannya, sangat penting membuat proyek percontohan sebelum suatu produk dilempar ke masyarakat umum.

Jangan sampai gastrik ini seperti kompor-kompor alternatif lainnya, yang tak lama setelah muncul di pasaran, kemudian hancur. Tidak kuat menghadapi tantangan pesaing. Karena itu, saya butuh pilot project, sebagai bukti keberhasilan gastrik ini, jelas Wahono.

Proses pengembangan kompor gastrik, menurut Wahono, memakan waktu yang cukup panjang. Penelitiannya dimulai sejak tahun 2007. Pada 2008, penelitian difokuskan untuk membuat kompor berbahan bakar bioethanol. Awalnya masih dari kantong pribadi. Apa yang bisa dijual, kita jual untuk membiayai pembuatan kompor gastrik ini. Baru kemudian kami bekerja sama dengan INOTEK untuk pengembangan lebih lanjut, kenang pria lulusan STT Mandala, Bandung, ini.

Wahono merasa beruntung bisa bekerja sama dengan INOTEK. Badan yang bergerak di bidang pengembangan teknologi inovatif itu, menurut pria kelahiran Malang, 6 Juli 1977 ini, sangat mengerti kebutuhan para inovator.

Selain membantu dari segi finansial untuk pengembangan produk, INOTEK juga memfasilitasi sharing teknologi. Ahli-ahlinya kan banyak, dari berbagai disiplin ilmu juga. Dan tentu, kita dikenalkan ke jaringan-jaringan yang dimiliki INOTEK, pungkasnya. (ciputraentrepreneurship.com/ humasristek)