Plastik Belanja Bisa Dikonversi Jadi Bahan Bakar

sampah100 miliar kantung plastik belanja dibuang di Amerika setiap tahun. Barang seperti kantung plastik belanja jangan dianggap remeh. Asal Anda tahu, plastik itu punya manfaat lain yakni sebagai sumber energi alternatif.

Berdasarkan penelitian ilmuwan Prairie Research Institute at the University of Illinois, kantung plastik itu dapat dikonversi menjadi bahan bakar diesel, gas alami, atau minyak tanah. 

 

Melansir TG Daily, Kamis 13 Februari 2014, konversi itu menghasilkan energi yang lebih signifikan dari bahan bakar transportasi. Sebab, hasil olahan konversi itu dapat dicampur dengan diesel rendah sulfur yang sudah ada maupun biodiesel.

Plastik belanja juga dapat diolah menjadi gas alam, nafta, bensin, oli pelumas, oli mesin, sampai oli hidrolik. Dalam penelitiannya, ilmuwan memanaskan plastik belanja dalan ruangan bebas oksigen. Proses ini disebut pyrolisis. Konversi ini juga diklaim lebih optimal karena mampu menghasilkan bahan bakar lebih banyak dari penyulingan minyak mentah konvensional.

“Anda hanya mendapatkan 50 sampai 55 persen bahan bakar dari penyulingan minyak mentah, tapi dengan konversi plastik ini, kami dapat mengembalikan hampir 80 persen bahan bakar melalui penyulingan,” jelas Brajendra Kumar Sharma, peneliti senior Illinois Sustainable Technology Center, yang memimpin penelitian.

Menurutnya, jika dikelola dengan optimal, potensi plastik belanja ini cukup besar. Dan, yang terpenting, plastik ini sangat mudah didapatkan.

Bayangkan saja, menurut perkiraan Worldwatch Instutite, tiap tahun, orang Amerika membuang 100 miliar kantung plastik belanja. Sayangnya, daur ulang plastik ini masih minim.

Laporan Badan Perlindungan Lingkungan AS mengatakan hanya 13 persen yang berhasil didaur ulang. Sisanya, terpendam dalam tanah atau menjadi sampah lingkungan di masa depan.

Kantung plastik banyak ditemukan di lingkungan sekitar sampai ke lautan. Dampaknya, secara perlahan-lahan akan membunuh satwa liar. Peneliti mengatakan, banyak partikel plastik pada usus hewan-hewan seperti burung, ikan dan mamalia laut.

“Kura-kura misalnya berpikir kantung plastik belanja itu adalah ubur-ubur dan mereka memakannya,” jelas Sharma mengingatkan ancaman plastik kepada satwa liar.

Pada penelitian lanjutan, Tim Sharma memecah minyak mentah dalam bentuk produk minyak tanah yang berbeda. Tim juga menguji pemecahan diesel untuk melihat sejauh mana produk olah itu memenuhi standar nasional bahan bakar diesel yang sangat rendah sulfur dan biodiesel.

“Hasilnya, campuran diesel ini memiliki konten energi yang sama dan memiliki kelicinan lebih baik dari diesel sangat rendah sulfur,” tegas Sharma.

Dari konversi itu, peneliti mampu mencampurkan sampai 30 persen diesel dari olahan plastik ke diesel reguler. Menariknya, dari percampuran itu tak terdapat problem ketidaksesuaian dengan biodiesel.

“Sempurna. Hanya dengan plastik ini, kami dapat mencampurkan bahan bakar dalam diesel rendah sulfur tanpa membutuhkan beberapa perubahan,” kata Sharma puas. (teknologi.news.viva.co.id/ humasristek)