Chitosan, Limbah Udang Penambal Telinga

bsWdGAhuFiSalah satu gangguan pendengaran adalah tuli konduktif. Kerusakan di sistem telinga tengah ini biasanya disebabkan oleh rusaknya membran telinga. Untuk mengobatinya, dokter akan menambal daerah yang rusak tersebut dengan material yang dapat menyatu dengan membran telinga asli. Jenisnya bisa berupa gelatin, kolagen atau alginat.

Menyadari material penambal membran telinga tersebut merupakan produk perairan, mahasiswa FPIK Institut Pertanian Bogor (IPB) I Wayan Darya Kartika pun tertarik mengembangkan variasi material perairan sebagai bahan penambal membran telinga terperforasi. Dia memilih ekstrak kulit udang atau chitosan.

Pemilihan chitosan dilakukan karena ia memiliki kadar protein tinggi. Kita mengenal protein sebagai bahan penyusun sel tubuh. Nah, semakin tinggi kadar proteinnya, pertumbuhan sel akan semakin baik.

“Kalau dari segi kimianya, chitosan itu selulosa, mudah bereaksi dengan segala jenis zat kimia tanpa ada efek sampingnya,” ujar I Wayan, seperti dikutip dari keterangan tertulis IPB kepada Okezone, Rabu (26/2/2014).

I Wayan menggunakan pendekatan mekano akustik berbasis chitosan dalam penelitiannya. Pendekatan ini menguji intensitas, ketebalan dan kelenturan sifat akustik dari membran chitosan, termasuk faktor sensor suara dan koefisien transmisi suara. Dia pun mengkaji kualitas penutupan perforasi dari segi kuantitas intensitas dan konduksi suara selama perforasi dan pascapenutupan (sembuh total).

“Sejauh ini saya belum berani menanamkan model yang saya buat pada manusia langsung karena harus ada uji klinis. Tapi hasil uji mekano akustik yang merupakan pendekatan untuk menghubungkan sifat fisik dengan sifat akustik menunjukkan material ini layak dipakai manusia,” imbuh pemenang pertama pemilihan Peneliti Remaja Indonesia ke-12 kategori Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) ini.

Dia berharap akan ada pengujian lebih lanjut terhadap model ini, termasuk uji klinis. Hal tersebut penting untuk memastikan kelayakan model membran chitosan yang dibuatnya.

“Kalau sudah diuji klinis, model ini bisa digunakan dan diproduksi secara massal sehingga menambah keragaman jenis bahan sintetik yang digunakan untuk menambal telinga,” tutur I Wayan. (kampus.okezone.com/ humasristek)