Penyemprot Ajaib Taklukkan Wedhus Gembel

RUOifqMnZJAlumnus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Jaya Laksana menemukan alat untuk meminimalisasi korban jiwa akibat wedhus gembel. Sayangnya, penemuan ini masih belum mendapat respons positif dari pemerintah. Jaya Laksana mengatakan, ide penemuan alat tersebut adalah melihat pemberitaan di berbagai media terkait banyaknya korban yang tewas akibat terjangan awan panas yang keluar saat erupsi gunung berapi itu.

“Baru-baru ini saya melihat letusan Gunung Sinabung. Saat erupsi menelan korban karena awan panas itu. Dari situlah saya ketemu ide agar saat keluar awan panas tidak sampai menelan korban jiwa,” kata Jaya di Surabaya, Jumat, (7/2/2014).

Alat untuk menaklukkan wedhus gembel ini diberinama Bernouli Water Sprayer. Jaya menjelaskan, cara kerja alat ini cukup simpel. Ia digunakan untuk menyemprotkan air saat awan panas keluar. Sehingga, ketika jatuh, awan panas tersebut dalam keadaan dingin. Materi yang digunakan adalah air laut.

“Kita ambil air laut yang dialirkan melalui pipa-pipa dengan bantuan pompa hingga ke puncak gunung. Di sela-sela itu pasang tangki penampung. Selanjutnya, di lereng gunung dipasang nozzle (penyemprot). Saat awan panas datang, secara otomatis nozzle akan menyemprokan air dengan tekanan mencapai 20 bar,” jelasnya.

Air laut digunakan karena cadangan air laut di Indonesia melimpah ruah. Jika menggunakan air danau di sekitar gunung api, maka akan menyebabkan kekeringan. Teori pengaliran airnya, lanjut Jaya, hampir sama dengan teori yang digunakan oleh Perusahaan Air Minum (PAM) yang juga menggunakan banyak pompa.

“Saya yakin dengan alat ini, selain awan panas menjadi dingin dan tidak menelan korban, awan panas itu juga akan jatuh ke lereng gunung karena berat jenisnya menjadi lebih besar bercampur dengan semprotan air tersebut,” tegas lulusan 1973 ini.

Alat tersebut juga sudah dipatenkan. Saat ini Jaya juga sedang menunggu kajian dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

“Surat ke Menristek sudah saya kirimkan. Kami mengundang Menristek untuk berdiskusi dengan sejumlah guru besar di ITS terkait alat ini,” imbuhnya. (kampus.okezone.com/ humasristek)