Keong Mas Musnah tanpa Pestisida

xz77r2ajlfKeong mas menjadi salah satu musuh bebuyutan petani dalam menghambat produktivitas pertanian. Keberadaan hewan bercangkang itu bahkan bisa berimbas pada mundurnya waktu panen sehingga memaksa Indonesia mengimpor beras dari negara lain. Melihat keadaan tersebut, lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) tergerak untuk melahirkan inovasi baru. Kreativitas Heri Heriyanto, M Nafis Rahman, Nopri Suryanto, M Sigit Gunawan, dan Bagus Dwi Utama itu diberi judul “Perangkap Keong Menggunakan Atraktan Biologis sebagai Pengganti Pestisida dan Solusi dalam Penanganan Hama Keong.”

Penelitian yang dinobatkan sebagai juara dua pada Tanoto Student Research Award (TSRA) 2014 tersebut menjadi solusi bagi petani untuk memerangi keong mas di lahan mereka. Tidak hanya itu, alat tersebut ramah lingkungan karena sama sekali tidak menggunakan bahan kimia layaknya pestisida.

“Kami ingin membantu petani menangani hama keong mas tapi tidak menggunakan pestisida. Keong berdampak signifikan dalam pertanian. Meski terbilang hewan yang sangat lambat, dia bisa merusak padi satu hektare dalam tiga hari. Hal ini berakibat pada mundurnya waktu panen sehingga memaksa Indonesia harus kembali mengimpor beras,” ujar M Nafis Rahman, belum lama ini.

Sebelum melahirkan inovasi ini, lima sekawan itu harus terlebih dahulu melakukan penelitian awal. Sebab, kata Nafis, belum ada penelitian terdahulu terkait pembasmian keong mas tanpa menggunakan pestisida. Berdasarkan penelitian awal itu, Nafis dan kawan-kawan pun menemukan beberapaa poin penting terkait aktivitas keong mas di lahan pertanian.

“Keong memiliki kepekaan terhadap kondisi air mengalir dan atraktan terurai di perairan. Selain itu, tingkat pencahayaan sangat berpengaruh terhadap agresivitas keong,” jelasnya.

Maka, mereka pun membuat sebuah perangkap berbentuk kotak dengan bahan-bahan sederhana, yakni besi dan jaring. Perangkap berbentuk trapesium beralas jaring itu dilengkapi perangkap (atraktan) berupa daun pepaya yang telah diremas.

Alat seharga Rp20 ribu ini telah dipakai di seluruh areal pesawahan di Kecamatan Pamijahan, Bogor. Selain murah, pembuatan perangkap yang terbilang mudah itu menjadi alasan para petani tertarik mengaplikasikan inovasi tersebut.

“Satu perangkap berkapasitas 2-3 kg keong mas dalam satu malam. Biasanya, satu kotakan sawah 500 meter persegi memakai tujuh hingga sembilan alat. Jadi dalam satu malam bisa 15 kg keong mas yang bisa digunakan sebagai pakan ternak,” tutur Nafis.

Inovasi tersebut sukses menuai tanggapan positif dari petani sekitar. Mereka mengaku terbantu dalam upaya membasmi keong mas sebagai hama pada sektor pertanian. Ke depan, Nafis berharap, perangkap keong ini dapat diterapkan lebih luas untuk meminimalisasi penggunaan pestisida dalam pertanian.

“Dengan alat ini hama (keong mas) yang direduksi sangat banyak dalam satu malam. Selain itu, bisa mengurangi biaya petani dalam menyewa kuli untuk membersihkan lahan pertanian dari keong mas, serta biaya penggunaan pestisida yang juga merusak tanah dan mematikan organisme yang bermanfaat bagi kesuburan tanaman,” tutupnya. (kampus.okezone.com/ humasristek)