Wakil Gubernur Kunjungi Pengungsi di Masjid Taqwa Kabanjahe

Wagubsu di masjid taqwaKabanjahe – Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu), Ir H Tengku Erry Nuradi MSi melakukan tinjuan ke sejumlah lokasi penampungan pengungsi bencana Gunung Sinabung di Kota Kabanjehe, salah satunya ke Masjid Taqwa Muhammadiyah, Jln Masjid, Kabanjahe.

Ini salah satu lokasi pengungsian yang dikelola Muhammadiyah disamping Islamic Center, Minggu (19/1/2014). Waki Gubsu disambut ketua PD Muhammadiyah Karo Drs Erwin Tanjung bersama jajaran pimpinan dan pengelola pengungsian.

Di Masjid Taqwa Muhammdiyah, Wakil Gubernur melakukan dialoq dengan pengungsi untuk mendapatkan informasi seputar kondisi, keluhan dan harapan pengungsi. Pengungsi di Masjid Taqwa adalah pengungsi terakhir pasca semakin kuatnya erupsi Sinabung. “Stok makanan dan kebutuhan pangan di lokasi penampungan pengungsi, cukup untuk satu minggu kedepan. Meski begitu, saya menghimbau seluruh pihak untuk menyalurkan bantuan logistik untuk mengurangi beban para pengungsi di lokasi penampungan, karena dampak erupsi Gunung Sinabung tidak dapat diprediksi kapan berakhir” imbau Erry.

Dari hasil tinjauan, Erry dan rombongan mendapat banyak informasi tentang dampak bencana Gunung Sinabung. Sebagian masyarakat mengeluh karena kehilangan mata pencaharian karena warga tidak dapat mengolah lahan pertaniannya. Tinjuan tersebut dimaksudkan guna memastikan kesiapan dalam menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke lokasi penampungan pengungsi bencana Gunung Sinabung yang terjadwal pada awal pekan keempat Januari mendatang.

Wagubsu bersama isteri Hj Evy Diana Erry yang juga selaku anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut) didampingi Bupati Karo dan Kena Ukur Karo Jambi dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut Asren Nasution, pertama kali meninjau posko utama Penanggulangan Bencana Gunung Sinabung di halaman Kantor DPRD Kabupaten Karo, Jl. Veteran, Kabanjehe.

Dalam kesempatan tersebut, Erry dan rombongan merangkum sejumlah informasi terkait kondisi terkini dampak erupsi Gunung Sinabung. Sementara ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan jarak aman pada 5 kilometer yang sebelumnya hanya 3 kilometer dari kaki Gunung Sinabung. Guna mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, PVMBG, BPBD Sumut, Kodim 0205 Kabajehe dan Polres Karo, mengeluarkan larangan dan membatasi aktivitas masyarakat di radius rawan letusan dengan membuat posko pengawasan disejumlah pintu masuk menuju kaki Gunung Sinabung.

 

Relokasi

Rumah Warga Dalam tinjuannya, Erry menggelar dialog ringan dengan para pengungsi, termasuk membahas wacana rencana relokasi rumah warga yang tinggal di radius 3 kilmeter dari kaki Gunung Sinabung. Wacana ini terbit mengintat warga tidak mungkin berada di lokasi penampungan dalam waktu relatif lama hingga berbulan-bulan.

Menanggapi wacana relokasi tersebut, sebagian warga bersedia karena alasan keselamatan, namun sebagian lainnya terlihat ragu akibat tidak siap jauh dari lahan pertanian yang menjadi mata pencarian utama masyarakat. “Kondisi warga di lokasi pengungsian tidak mungkin dibiarkan sampai berbulan-bulan. Namun menyediakan rumah membutuhkan dana yang cukup besar. Sedangkan Pemerintah Kabupaten Karo dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara hanya memiliki anggaran terbatas. Karena itu, sangat diperlukan sinergi dengan pemerintah pusat,” sebut Erry.

Secara rinci, Erry mengatakan, jumlah warga yang layak direlokasi di radius 3 kilometer mencapai 8 ribu jiwa. Sementara jumlah keseluruhan pengungsi akibat erupsi sinabung mencapai 27 ribu jiwa yang tersebar di 41 titik penampungan. “Relokasi memang layak diwacanakan, karena dampak erupsi Gunung Sinabung tidak dapat diprediksi kapan berakhir. Kondisi pengungsi di lokasi penampungan juga semakin jenuh akibat tekanan psikologis,” tambah Erry. |Libis/SHD-MPISU/muhammadiyah.or.id|