Peduli Nelayan, Antarkan Tim ITS Juarai Olimpiade

peduli nelayanKapal dengan sistem yang bersumber energi bahan bakar minyak (BBM) sudah biasa. Tapi kapal dengan sistem yang bersumber dari kombinasi energi listrik, angin, dan tenaga surya masih menjadi inovasi yang langka. Keprihatinan mereka terhadap tingginya BBM, melecut semangat mereka untuk berkarya. Hasilnya, karya tersebut mampu meraih medali emas dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pertamia 2013. Bagaimana cerita mereka?

Pada kategori Rancang Bangun, olimpiade ini diikuti oleh 252 tim, 46 di antaranya membawa bendera ITS. Dari semua peserta, hanya lima tim yang melaju ke babak final. Tiga tim berasal dari ITS, sedang dua tim lainnya dari Universitas Brawijaya (Unibraw) dan Universitas Bengkulu.

Awalnya, Mochammad Wahyudi, Thohaku Abdul Hadi, dan Arief Rahman berangkat ke Jakarta dengan perasaan sedikit pesimis. Pasalnya, alat yang mereka buat baru rampung saat hari menuju babak final tinggal satu pekan saja tersebut mengalami kerusakan.

”Ketika dilakukan uji coba di Surabaya, alat berhasil bekerja, namun pada uji coba kedua, ada bagian yang terbakar. Alat terbakar hari Sabtu (7/12, red) rangkaian acara babak final akan dimulai hari Senin, dan kami berangkat hari Minggu,” terang Mochammad Wahyudi yang merupakan ketua tim.

Mereka pun bekerja keras untuk memperbaiki alat tersebut. Namun hingga Senin (9/12, red), saat para peserta memamerkan karya mereka, alat tersebut masih belum bisa bekerja. Beruntung, Rabu (11/12, red) alat mereka sudah bisa berfungsi berkat bantuan dari teman mereka dalam menemukan komponen pengganti yang tepat.

Esoknya, seluruh finalis mempresentasikan rancangan alat mereka.”Kami merasa sangat optimis dengan alat rancangan kami, seluruh finalis mempresentasikan rancangan alat mereka.”Kami merasa sangat optimis dengan alat rancangan kami. Bisa dikatakan, alat kami merupakan alat yang terumit. Pasalnya, rancangan alat kami lebih kompleks.” imbuh Yudi.

Tiga juri yang mereka hadapi berlatar bekang teknik, ilmu murni, dan peneliti. Yudi memaparkan, saat presentasi, mereka tidak banyak ditanya soal sistem kerja alat. ”Mungkin ikon ITS sebagai kampus teknik sudah tidak diragukan lagi,” ungkapnya. Ia menceritakan, juri lebih menyoroti realisasi dari sistem yang telah mereka buat.

Setelah melalui presentasi, tim mengaku sangat optimis. Dan rasa optimis tersebut berbuah kenyataan setelah mereka disebut sebagai peraih juara pertama yang diikuti oleh Unibraw dan Universitas Bengkulu.

Berawal dari Prihatin
Ide mereka bermula saat naiknya harga BBM berdampak ke segala sektor. Banyak pihak yang merasa keberatan dengan kebijakan tersebut, termasuk nelayan pengguna kapal berbahan bakar minyak. Kini, mereka kesulitan untuk berlayar.

Konsep yang mulanya dirancang untuk Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada akhirnya membuahkan kebanggaan di kompetisi lain.”Saat itu kami menerima beberapa koreksi dari untuk rancangan kami yang akan diikutkan dalam ajang PKM. Saat itu kami tidak punya banyak waktu, sehingga rancangan yg belum direvisi tersebut tetap kami kirim. Namun, kami tetap melakukan revisi untuk selanjutnya diikutkan ke OSN Pertamina,” terang Yudi.

Setelah berhasil memenangkan memenangkan OSN Pertamina kategori Rancang Bangun, Yudi menjelaskan, mereka ingin merealisasikan hasil prototype sistem buatan mereka untuk digunakan pada kapal yang sesungguhnya. ”Karena ini harapan terbesar kami untuk bisa membantu nelayan-nelayan dengan memberikan alternatif penggunaan sumber energi. Bagaimanapun, ini merupakan teknologi yang bukan hanya solusi, namun juga ikon Indonesia sebagai negara maritim,” tuturnya.

Selain kategori Rancang Bangun, pada OSN Pertamina ini ITS berhasil merebut posisi pertama di tiga kategori lainnya. Yaitu kategori Produk Unggulan, Aplikasi Perangkat Lunak, dan Bidang Matematika. (its.ac.id/ ristek.go.id)