UGM Kembangkan Teknologi Konversi Limbah Biomassa Menjadi BBM

ugmDi pinggiran bantaran sungai kali code, sebuah bangunan kecil berdinding batako kokoh berdiri. Sekilas bangunan berukuran 7×6 meter tanpa cat itu, mirip seperti gudang. Bentuknya pun menyerupai cerobong asap. Dari bangunan inilah Prof. Ir. Arief Budiman, M.S., D.Eng menekuni penelitiannya, mengkonversi biomassa menjadi bahan bakar minyak dengan Integrated Authothermal Technology. “Kami sengaja dirikan bangunan di pinggiran sungai, bila ada proses pembakaran biomassa, tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar,” kata Arief Budiman saat ditemui di bangunan yang ia sebut laboratorium mini di komplek Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Jumat (3/1).

Selama dua tahun terakhir, di bangunan tanpa plafon ini pula, Arief aktif menguji ampas tandan kosong kelapa wasit dan ampas tebu untuk dijadikan bahan bakar minyak sebagai bahan bakar alternatif pengganti energi fosil. “Kini dari ampas keduanya sudah bisa dihasilkan gasoline dan kerosene, sumber bahan bakar cair untuk premium, minyak tanah dan avtur,” kata pria kelahiran Pati, 53 tahun lalu.

Sebelumnya Arief mencoba menggunakan bahan biomassa dari sumber yang lain. Namun akhirnya dia memilih tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku. Alasannya, sambung Arief, Indonesia merupakan produsen kelapa sawit nomor dua di dunia. Namun, pada proses pengambilan minyak CPO dari kelapa swait dihasilkan limbah padat, sekitar 30-40 % berupa tandan kosong, cangkang, pelepah dan batang sawit.

Untuk produksi sawit di Riau saja, imbuhnya, berkisar 6 juta ton per tahun dimana limbahnya berkisar 1,8-2,4 juta ton. Menurutnya, limbah ini bisa dimanfaatkan untuk engine fuel karena limbah biomassa ini mengadung senyawa sellulosa, hemiselulosa dan lignin.

Lewat Integrated Authothermal Technology, Arief bersama rekan peneliti lainnya mengembangkan teknologi autothermal yang merupakan kombinasi pirolisis cepat dan lambat serta tidak perlu menggunakan sumber panas dari luar. Adapun alat yang digunakan berupa reaktor pirolisis, yaitu cyclone untuk memisahkan hasil gas dan padat dan condenser untuk mengembunkan gas hasil.

Dari proses pirolisis limbah padat ini nantinya dihasilkan gas yang berupa bio-oil. Kemudian bio-oil diubah lagi jadi gasoline dan kerosene melalui proses cracking dengan menggunakan katalis berbasis limbah biomassa atau oksidasi parsial.

Dari alat yang dibuat Arief ini, sebanyak 2 kilogram ampas tandan kosong kelapa sawit mampu menghasilkan 80 mililiter bio-oil. Proses ini dilakukan lewat pirolisis selama 2 jam. Selanjutnya, proses perengkahan atau pemisahan bio-oil menjadi gasoline dan kerosene hanya dibutuhkan waktu singkat 30 menit.

Menurut Arief, untuk kapasitas yang lebih besar tentu membutuhkan alat yang lebih besar pula. Saat ini kata Arief pihaknya tengah mencoba menawarkan ke pemerintah atau industri untuk bekerjasama mengembangkan teknologi pengembangan biomassa sebagai sumber bahan bakar baru dan terbarukan. “Dari sisi SDM, Indonesia tidak kalah saing dengan negara lain. Sekarang tergantung niat dan komitmen dari pemerintah,” pungkasnya. (ugm.ac.id/ humasristek)