Raja Legen, Tetap Berbisnis Meski Sempat Dicurigai

legenKetertarikannya pada dunia bisnis membuat mahasiswa ini mengembangkan inovasi produk minuman softdrink. Legen alami yang ia kembangkan bersama teman-temnnya berbahan dasar dari buah siwalan pun berhasil maju sebagai finalis Youth Start-up Icon Surabaya. Suka dan duka pun ia rasakan saat awal-awal merintis bisnis ini.  
 
Raja Legen nama produk mereka. Bisnis ini pada awalnya diperjuangkan oleh lima mahasiswa ITS sejak Agustus 2012. Namun kini hanya tersisa tiga orang yang masih tergabung dalam tim ini. Mereka adalah Angger Setyobudhi, Niar Kurnia, dan Irma Wulandari. 
 
Angger, pencetus ide awal, mengatakan, produknya mulai dijual di pasaran sejak Maret 2013. Ia bercerita, ide pertama kali ia dapatkan saat berlibur ke kampung halamannya. Saat ia melihat legen yang dijadikan minuman, ia berfikir untuk membuka outlet legen. ” Awalnya produk ini hanya disajikan dalam kemasan botol yang dijual di outlet. Namun di dalam botol tersebut, terjadi fermentasi soda alami pada legen sehingga menjadi softdrink alami,” ujar mahasiswa kelahiran 1993 ini. 
 
Ia menjelaskan, minuman ini berbeda dengan tuak yang termauk minuman keras. Minuman ini disterilkan dengan mesin hasil penelitian yang Angger lakukan bersama timnya. Sehingga legen yang telah dimasukkan ke dalam botol bertahan sampai 30 hari dalam suhu dingin sebelum berfermentasi menjadi tuak. Sementara dalam suhu normal, minuman ini bertahan selama 20 hari. 
 
Bisnis ini berhasil mendapatkan dana sebesar Rp 15 Juta  dari Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) ITS dan menjadi finalis Youth Start-up Icon Surabaya. Tidak hanya itu, kendala dana yang sempat mereka hadapi di awal, ternyata berbuah manis. 
 
Karena kendala tersebut, mereka mengajukannya pada ajang Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) dan mendapat bantuan hibah dari Dikti. Selanjutnya pada Agustus 2013, mereka juga lolos menjadi finalis 10 besar dalam seleksi lomba nasional Projek 25 do.inc. Dan baru-baru ini Raja Legen diundang dalam acara Entrepreneur Club dari JTV karena termasuk dalam bisnis inovasi dalam kategori produk minuman. 
 
Ia menyebutkan, softdrink alami ini dapat menghilangkan dahaga, menambah daya tahan tubuh, dan melancarkan urin untuk penderita batu ginjal. Walaupun sekarang masih berupa Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), penjualan Raja Legen sudah masuk ke banyak pasar. Sebut saja di Pasar Swalayan Sakinah, Kantin ITS, Kantin Perbanas, Kantin Unitomo, Kantin Unair dan merambah wilayah Madura dan Jawa Tengah dengan sistem reseller yang pada awalnya hanya supply di ITS dan Unair. 
 
”Jadi Raja Legen dijual dengan dua cara, supply langsung ke kantin-kantin atau pasar swalayan, dan sistem reseller ke agen Raja Legen yang ada di wilayah tersebut, ” imbuh Angger. Ia menambahkan, untuk Reseller, setiap penjual diberikan kebebasan menetapkan harga jual sendiri. Tentunya dengan syarat mereka membeli produk sesuai harga kesepakatan di awal. 
 
Sempat Diancam Penjara 
Bisnis yang sedang mengikuti lomba Greenpreneurship Challenge dan Wirausaha Muda Mandiri ini sempat mengalami kendala pada awal-awal merintis. ”Pernah waktu itu diancam masuk penjara karena produk belum ada izin dan sering mendapat respon negatif dari mahasiswa lain” ungkap  mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis ini. 
 
Tidak hanya duka, suka pun juga mereka rasakan. Ketika produk sudah diterima masyarakat dan bermanfaat, di situlah bahagianya. Termasuk Membudidayakan petani legen dan memenuhi pasar daerah Jawa adalah cita-cita dari bisnis ini. ”Untuk selanjutnya, Raja Legen akan merambah wilayah Pontianak,” ungkapnya. 
 
Digemari Pembeli 
Harga minuman ini pun tidak mahal. Mereka mematok harga Rp 3.000 per botolnya. Omzet yang merek dapatkan sekitar Rp 4,5- 5 juta setiap bulannya. 
 
Pelanggan minuman ini juga memuji produk mereka. Meski sempat terkejut, Raka Ayuda Rahman, salah seorang pembeli, turut memuji kemasan softdrink yang cukup unik tersebut. ” Rasanya juga beda. Rasanya manis dan ditambah sensasi soda saat meminumnya,” pungkasnya. (its.ac.id/ humasristek)