Manfaatkan Limbah, Sabet Juara di PIMPI 2013

pimpiBerawal dari keprihatinan terhadap jumlah impor kayu Indonesia yang kian naik, Toto Iswanto, Meireza Ajeng P, Anggita Nur D berhasil menjadi juara dalam Pekan Inovasi Mahasiswa Pertanian Indonesia (PIMPI) 2013.

Inovasi berbahan ekstrak limbah kulit meranti ini menjanjikan kayu menjadi lebih awet.

Ditemui di Jurusan Teknik Kimia ITS, Toto Iswanto menjelaskan bahwa karya ini menggunakan meranti merah sebagai biofungisida untuk mengendalikan cendawan Schizophyllum Common Fries pada kayu. ” Jamur tersebut adalah jamur terganas yang tumbuh di kayu sehingga kayu menjadi lapuk dan mudah patah,” ujar Toto, sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan, ide ini terilhami dari sifat kayu meranti merah yang sangat kuat dan tahan lama dibanding yang lain. Setelah diteliti, ternyata kayu meranti merah mengandung zat aktif yang mampu menekan angka pertumbuhan jamur untuk berkembang biak. ”Zat aktif tersebut banyak batang tumbuhan. Sedangkan zat yang paling berpengaruh itu poilifenol dan terpanoid,” jelasnya.

Setelah melalui uji lab, ekstrak kulit kayu tersebut dijadikan sebuah serbuk. Penggunaan ekstrak ini cukup mudah. Caranya adalah dengan mecampurkannya dengan pelarut alami seperti alkohol dengan perbandingan 1:24. Selanjutnya, campuran tersebut disemprotkan ke bagian kayu yang berjamur atau seluruh bagian kayu yang ingin diawetkan.

Ternyata tak hanya jamur yang mati atau tidak dapat tumbuh dalam kayu yang sudah disemprot larutan ajaib miliknya. Toto dan tim juga menguji produk ini terhadap rayap yang memakan batang kayu. Tak disangka, larutan yang ia berinama Shoven ini mampu membuat rayap tidak betah untuk singgah di kayu. ”Mungkin dalam pandangan juri, hal itu dijadikan nilai tambah bagi kami,” imbuhnya.

Ketatnya Kriteria Penilaian

 

Toto menjelaskan bahwa kriteria penilaian yang terapkan dalam PIMPI tidak jauh berbeda dengan konsep Penilaian Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas). Terdapat tiga aspek yang diterapkan yaitu sesi pameran poster, hasil produk dan pemamaparan gagasan.

Meskipun kriteria penilaian sangat kompleks, hal itu tak lantas mematahkan semangat mereka untuk menorehkan juara. Ia lantas berkisah tentang pengalamannya saat sesi tanya jawab. ”Kami sempat diragukan. Mungkin saja, yang membuat jamur mati adalah aceton yang kami gunakan ketika ekstraksi,” ujarnya menirukan pertanyaan juri.

Rupanya, hal tersebut membuat Toto kaget. ”Berbekal pengetahuan dan hasil uji lab, kami dapat meluruskan dan mengugurkan sangahan juri,” lanjutnya. Keberhasilan mempertahankan gagasan dan produknya dalam sesi presentasi membawakan harapan baru. Mereka semakin optimis untuk menjadi juara.

Harapan Serbuk Ajaib Shoven

Setelah berhasil menyabet juara pertama, Toto berharap bahwa produknya akan mampu diproduksi secara massal. ”Rencanaya, kami akan menawarkan shoven ke perusahan terkait, seperti perusahan cat kayu ataupun deterjen. Sebab, serbuk Shoven juga dapat digunakan untuk bahan kain seperti karpet agar tidak mudah berjamur,” aku Toto.

Walaupun bukan orang pertanian, menurutntya, tidak ada alasan baginya untuk tidak memikirkan permasalah yang ada di Indonesia. ”Karena ilmu yang kami dapat di kamus cukup luas dan aplikatif, sehingga bisa di gunakan untuk bidang yang luas dan membantu masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (its.ac.id/ humasristek)