Buat Software Peringatan Gempa via SMS

software gempaKurang cepatnya peringatan kepada masyarakat, gempa yang terjadi selama ini seringkali menyebabkan banyak korban jiwa maupun kerugian material. Namun kali ini, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil mengurai permasalahan tersebut melalui software pendeteksi gempa.

Software ini tidak hanya mampu mendeteksi gempa lebih awal, tetapi juga langsung memberikan peringatan cepat kepada masyarakat melalui SMS.

Dalam sesi uji coba alat, Jumat (6/12), Robiy ‘Ul ‘Ars Al-Maliki menceritakan bahwa alat yang dibuatnya ini dapat digunakan di bangunan berstruktur beton. Karya Tugas Akhir yang berjudul Aplikasi Sistem Peringatan Dini pada Komponen Struktur Beton ini dapat digunakan pada bangunan gedung maupun jembatan. ”Alat ini menggunakan sensor straingauge untuk mendeteksi keretakan beton,” lanjutnya.

Sensor straingauge sendiri merupakan sensor yang digunakan untuk membaca berapa besar perpindahan yang terjadi pada material bangunan. Data yang diterima oleh sensor tersebut akan di-record menggunakan Data Logger, sebuah alat penghitung kondisi bangunan yang dipengaruhi oleh lingkungan, khususnya beban pada permasalahan kali ini.

Data yang terekam akan otomatis terekam ke software yang dibuatnya itu. Software tersebut yang nantinya akan menentukan antisipasi apa yang harus dilakukan oleh pihak yang berkaitan dengan permasalahan tersebut juga masyarakat sekitarnya. ”Misalkan saja di suatu apartemen ada indikasi terjadinya gempa berbahaya, maka akan disampaikan kepada para penghuni apartemen melalui SMS untuk menyelamatkan diri,” cerita Robiy.

Masyarakat yang berada di wilayah terjadinya gempa tersebut sebelumnya harus melakukan registrasi untuk mempermudah pengiriman SMS yang dilakukan oleh software. ”Kalau tempat-tempat umum seperti itu pasti sudah ada pendataan sehingga tidak sulit untuk memprogram nomor handphone siapa saja yang akan dikirimi pesan peringatan,” katanya.

Sedangkan untuk jembatan, pesan peringatan langsung dikirim ke pemerintah untuk dapat mengambil kebijakan dengan cepat. Hal tersebut sebagai upaya untuk meminimalkan korban atas terjadinya gempa yang terjadi. ”Kemungkinan kami juga akan bekerja sama dengan perusahaan provider untuk menyampaikan pesan peringatan ini,” ujar Robiy.

Alat yang digunakan untuk gedung dan jembatan ini pun berbeda. Gedung menggunakan akselerator yang harus diletakkan di bagian atas atau atap bangunan, sedangkan jembatan menggunakan Lateral Vertical Displacement Tranducer (LVDT) yang dipasang di besi maupun beton tepat di tengah bentang jembatan.

Posisi pemasangan sensor tersebut memperhitungkan momen ultimate atau besar perpindahan terbesar yang terjadi pada benda. ”Kalau gedung akan dipasang di atap karena lebih mudah goyah. Sedangkan kalau jembatan titik beratnya ada di tengah, lendutan terbesarnya ada di bagian tengah,” jelas mahasiswa angkatan 2010 tersebut.

Eksekusi Ide Dosen
Robiy menceritakan bahwa ide tersebut berasal dari dua dosennya, yakni Dr Ir Amien Widodo MS dan Data Iranata PhD. Ia mencoba mengeksekusinya melalui tugas akhir saya. Karena merupakan hasil karya baru, alat dan software tersebut belum memiliki nama. ”Sampai saat ini masih belum ada nama untuk software ini,” ujarnya.

Menurut Data, alat ini direncanakan akan dipatenkan. Untuk sekarang ini masih akan terus dilakukan uji coba dan penyempurnaan. ”Kalau dalam percobaan kecil seperti ini kan masih menggunakan kabel dalam menghubungkan alat ke software pengirim pesannya, nantinya kami mencoba agar alat ini tidak memerlukan lagi penggunaan kabel,” ujar Data. (its.ac.id/ humasristek)