MDMC Usulkan RS Lapangan Untuk Korban Topan Haiyan

20131129 161525 resized 167Ormoc City– Menurut Koordinator Tim Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) untuk Topan Haiyan Filipina, dr Corona Rintawan, Muhammadiyah, pemerintah atau lembaga kemanusiaan lain di Indonesia perlu segera memprogramkan pengiriman tim kesehatan yang juga membuka layanan untuk Rumah Sakit Lapangan, seperti di Ormoc.

Hal ini dikarenakan layanan kesehatan di Tacloban, ibu kota Prov. Leyte lumpuh, sehingga semua dilayan di Ormoc. Banyak penduduk Tacloban yang mengungsi dan membutuhkan pelayanan kesehatan di Ormoc yang sebenarnya juga terdampak cukup parah.

 

“Di Ormoc hanya ada 5 Rumah Sakit, yang bila di Indonesia setingkat dengan RS tipe D. RS dengan kapasitas 70 bed terpaksa diisi 121 bed, sementara banyak tim luar yang membangun Rumah Sakit tenda di sekitar RS, tapi tenaga medisnya tidak cukup. Misal ada tim yang anggotanya 20 orang, tenaga medisnya hanya 5 -6 orang,” terang dokter yang juga pengurus bidang Tanggap Darurat MDMC tersebut, Sabtu (30/11). Dalam data Operation Center Departemen of Health Ormoc City, Ormoc District Hospital (semacam RSUD di Indonesia) dan OSPA Hospital (RS Swasta) karena rusak, tidak bisa beroperasi penuh.

Lebih lanjut dr Corona menerangkan, pemulihan sistem kesehatan di lokasi yang terdampak cukup parah seperti di Ormoc City akan berlangsung lama karena tidak ada kebijakan layanan gratis yang diberlakukan untuk korban bencana sehingga warga tidak akan dapat mengakses layanan di rumah sakit. “Ketergantungan terhadap layanan gratis dari bantuan Internasional sangatlah besar mengingat kondisi tersebut, hanya sedikit tim medis Internasional yang mempunyai masa tugas “indefinite” atau sangat lama”, terangnya.

Belum lagi ada Barangay yang terisolir karena akses jalan tertimbun longsor seperti Barangay Mahayag. Pada 27 Nov 2013 tim Muhammadiyah melayani warga Burungay Mahayag dengan terlebih dahulu melintasi lumpur yang menimbun jalan, bahkan harus mendorong mobil. “Pelayanan hanya dua jam karena takut kalau hujan jalan tidak bisa dilalui, pasiennya sampai 120 orang, tim kami adalah tim kesehatan pertama yang masuk ke desa di perbukitan sebelah Barat Ormoc City” terang dr Corona Rintawan.

Penilaian mahalnya biaya berobat dikuatkan dr Zuhdiyah Nihayati yang pada 25 November 2013 melayani warga di Rural Health Unit (RHU) – semacam Puskesmas di Indonesia – daerah Albuerra , selatan Ormoc City. Menurut dokter dari RS Muhammadiyah Lamongan tersebut, ditemukan 10 orang warga yang memerlukan rujukan ke rumah sakit, namun 7 orang diantaranya menolak dirujuk karena alasan biaya.

Tim MDMC atau Lembaga Penanggulangan Bencana PP Muhammadiyah, berangkat ke Filipina pada 18 November lalu. Dengan bantuan KBRI Manila, Minister Counselor Sosial Budaya KBRI Manila, bapak Toto Waspodo, tim yang terdiri dari 2 dokter emergensi, 1 dokter spesialis anestesi, 3 orang perawat dan 2 orang SAR/komunikasi darurat bisa beroperasi dalam koordinasi Departemen of Health (DOH) pemerintah Filipina untuk melayani warga korban bencana di Tuburan City, Provinsi Cebu (Region 7 : Central Visayas) dan Ormoc City, Provinsi Leyte (Region VIII : Eastern Visayas).

Tidak kurang 1129 orang pasien dilayani tim selama 7 hari efektif pelayanan di dua daerah tersebut, ditambah dengan layanan bedah tidak kurang dari 12 kasus. Total misi sendiri selama 14 hari antara tanggal 18 November – 1 Desember 2013, selain hari efektif pelayanan waktu digunakan untuk perjalanan antar kota dan antar pulau serta koordinasi dengan otoritas layanan kesehatan darurat di Filipina dan KBRI Manila. (arip) (mac/muhammadiyah.or.id)