Identitas Kader Nasyiatul Aisyiyah Bukanlah Aktivis yang Meninggalkan Keluarga

IMG 034074Surabaya – Pembukaan sidang Tanwir I Nasyiatul Aisyiyah yang berlangsung di Gedung PWM Jawa Timur kemarin Ahad (3/11) dimana NA baru memasuki usia yang ke 85. Norma Sari, Ketua PP NA, dalam sambutannya menyatakan bahwa dalam usia yang cukup tua, NA tidak pernah meninggalkan bagaimana berfikir, berjiwa dan beraktivitas yang muda, karena kader NA adalah perempuan yang terdidik tiap hari, bekerja digemari, dan kemuliaan Islam yang dicari. Sesuai dengan tujuan Muhammadiyah yakni menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya merupakan sebuah jalan panjang. Dimana jalan panjang itu dimulai dengan menjadi putri yang berarti bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan umat.

“Itulah sebabnya identitas kader Nasyiatul Aisyiyah bukanlah aktivis yang meninggalkan keluarga, akan tetapi aktivis yang mengutamakan keluarga dan mampu mengambil peran-peran publik lainnya dalam waktu yang bersamaan,” tutur dosen yang sehari-harinya beraktifitas di UAD.

Tema “Pengarusutamaan Advokasi Perempuan dan Anak Melalui Pendidikan Profetik” diangkat berdasarkan gerakan Nasyiah yaitu Gerakan Ramah Anak dan Perempuan. Gerakan ramah anak dan perempuan ini tidak hanya dilakukan oleh kaum perempuan, akan tetapi perlu juga partisipasi dari kaum laki-laki, karena masalah-masalah perempuan tidak bisa diselesaikan dengan sendirinya oleh perempuan.

“Pendidikan profetik yang merupakan amanah dari muktamar NA di Lampung tahun 2013 adalah upaya sinergis sumberdaya dan advokasi bagi perempuan dan anak. Program pendidikan profetik merupakan matanya sedangkan praksisnya adalah amar ma’ruf nahi munkar,” jelas Norma. (mona/muhammadiyah.or.id)