Indonesia Perlu Sosok Presiden “Orang Indonesia” bukan “Presiden Partai”

DSC049797Jakarta – Kedaulatan bangsa dan negara Indonesia melemah di bidang ekonomi, politik, hukum, dan budaya sehingga menciptakan masalah yang sangat complicated. Hal tersebut ditandai dengan kedaulatan ekonomi yang dikuasai kepentingan asing, dan kedaulatan politik yang tidak berpihak kepada kepentingan umum. Kadaulatan budaya yang lemah ditunjukkan dengan rendahnya watak dan karakter bangsa.

“Perlu adanya konsensus nasional dalam jalur konstitusional untuk menyepakati langkah-langkah perbaikan terhadap masalah-masalah bangsa. Hal ini dgn melakukan upaya konsolidasi demokrasi, pemantapan pemberantasan korupsi, dan pembentukan karakter bangsa,”ujar Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin saat membuka acara itu.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PP Muhammadiyah Dr. Haedar Nasir, M.Sc menengarai, bahwa karena tidak adanya integrasi antara pelaku elite dan sistem, membuat perubahan sistem tidak sejalan dengan perilaku.

“Tidak adanya integrasi antara pelaku, elite, dan sistem membuat perubahan sistem tidak sejalan dengan perilaku. Tapi jika hal tersebut berjalan bagus Indonesia berpeluang untuk berkembang,” ujar Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Sc. dalam diskusi “Silaturahmi Tokoh Bangsa Ke-5 Menuju Indonesia Yang Berkemajuan” di Aula Gedung PP Muhammadiyah Jl. Menteng Raya No.62, Jakarta, Kamis 17 Oktober 2013.

Figur kepemimpinan juga menjadi salah satu masalah bangsa. Pasca reformasi Indonesia sudah dipimpin beberapa tokoh dengan karakter yang berbeda, namun hingga kini masih sulit keluar dari masalah sehingga berisiko menjadi negara gagal (failed state). “Indonesia perlu sosok Presiden “Orang Indonesia” bukan sosok “Presiden Partai”. Itulah yang membuat politik di Indonesia berubah dari perjuangan menjadi perdagangan,” kata Wakil Rais Aam PBNU Prof.Dr. K.H.Achmad Hasyim Muzadi.

Dr. Haedar menambahkan, sosok “Orang Indonesia”di sini yaitu pemimpin yang memiliki visi yang sesuai dengan cita-cita nasional para pendiri bangsa, nasionalis berkomitmen kebangsaan kuat, mampu membangun solidaritas bangsa majemuk, berani mengambil resiko, mampu mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan tegas, mampu menyelesaikan masalah, dan yang terpenting integritas moral yang tinggi sehingga tidak menyalahgunakan kekuasaan.

Beberapa tokoh nasional yang hadir antara lain Dr. Ir. H. Akbar Tandjung, Prof. Dr. H. Mahfud MD, S.H, S.U., Letjen TNI (Purn.) Dr.(H.C.) H. Sutiyoso, Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo, H. M. Anis Matta, LC., Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Dr. Dewi Motik, M.Si., dan Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, MA. sebagai moderator. Rencananya “Silaturahmi Tokoh Bangsa” ini akan diadakan lagi pada Desember 2013. (CR-3/uy/muhammadiyah.or.id)