Raih Medali Emas Berkat Eco Aerator

eco aeratorPetani tambak kerap menemui permasalahan saat panen karena jumlah ikan yang diperoleh tidak sesuai dengan perkiraan. Karena itu, lima mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya terdorong untuk menciptakan sebuah alat guna menyelesaikan masalah tersebut. Alat ini diciptakan untuk membantu para petani tambak agar jumlah ikan yang dapat dipanen bisa maksimal.

Tim mahasiswa ITS tersebut terdiri dari Aditya Rifa Utama, M Januar Fathoni, Ardiansyah, M Fasih Mubarok, dan Hendra Antomy. Mereka yang sama-sama sedang menempuh tahun ketiga perkuliahan tersebut membangun ide ini dari pengalaman nyata. ”Ini ide dari Adit, kebetulan kakeknya punya tambak sehingga dia tahu persis apa yang terjadi di dalamnya,” kata Januar.

Ide tersebut kemudian dijadikan sebuah karya tulis yang berjudul Eco Aerator : Inovasi Penyuplai Oksigen dengan Teknologi Vertical Axis Wind dan Archimedes screw Guna menurunkan Biaya Operasional Petani Tambak. Karya tersebut dapat terealisasi dan mendapat penghargaan emas pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XXVI di Mataram, Nusa Tenggara Barat, dua pekan lalu.

Dalam usaha budidaya ikan di tambak, Adit mendapati bahwa seringkali petani mengalami rugi karena gagal panen atau panen yang tidak maksimal. Ia dan timnya mencoba mencari tahu alasan di balik kerugian tersebut. Akhirnya mereka menemukan salah satu penyebab kurang maksimalnya panen adalah kurangnya kadar oksigen yang diserap ikan untuk bernafas. Kurangnya pasokan oksigen pada ikan berakibat tidak dapat tumbuhnya tubuh ikan dengan baik, atau yang lebih parah lagi ikan bisa mati.

Melihat kondisi tersebut, Adit dan teman-temannya kemudian merealisasikan karya tulis ilmiahnya tersebut menjadi alat bernama Eco Aerator. Fungsinya adalah untuk menjaga kadar oksigen yang terkandung dalam air. ”Seperti aerator diesel, tapi Eco Aerator ini lebih hemat energi dan efisisen,” ujar Januar saat ditemui pada Senin (1/10).

Perbedaan mendasar antara aerator diesel dengan Eco Aerator ini adalah efisiensinya. ”Aerator diesel memerlukan bahan bakar, cukup mahal kalau untuk mengelola tambak,” kata Januar. Sedangkan, lanjutnya, Eco Aerator yang ia dan teman-temannya buat lebih efisien karena menggunakan angin sebagai sumber energinya.

Eco Aerator ini memiliki tinggi lima meter dan dapat mencapai radius hingga lima meter di sekelilingnya. Bagian paling atas dari Eco Aerator adalah lima blades untuk menangkap angin. Ketika menerima angin, bagian bawah kincir atau gir bergerak untuk mempercepat aliran air yang akan dialirkan di aerator. Air akan mengalir naik ke aerator sehingga terjadi kontak langsung dengan udara.

Kurang lebih 0,5 liter air per menit dapat melalui aerator tersebut untuk kontak dengan udara dan kemudian kembali lagi ke tambak. Dengan proses seperti itu, air akan lebih kaya oksigen. Hal tersebut telah diuji coba beberapa kali dalam skala lebih kecil yakni menggunakan aquarium sebagai pengganti tambak. Terbukti setelah menggunakan alat tersebut, kadar oksigen di air aquarium meningkat.

Untuk mengoperasikan alat tersebut pun tidak diperlukan keahlian khusus karena sudah bekerja secara otomatis. ”Petani tambak hanya perlu melakukan perawatan teratur saja agar alat berjalan dengan baik, seperti member pelumas pada gir atau membersihkan aerator dari lumpur,” jelas Januar.

Eco aerator dibuat untuk mengurangi kerja aerator diesel karena bisa bekerja kapan pun selama ada angin. Sehingga ketika malam hari aerator tetap dapat bekerja dengan kondisi angin yang maksimal. ”Biasanya kan kalau malam anginnya lebih banyak, sehingga ikan dapat terus mendapat supply oksigen dengan baik,” lanjutnya. Dengan cukupnya ketersediaan oksigen, akan memicu ikan terus bergerak. Hal itu memberi dampak positif terhadap pertumbuhan ikan yang hidup di tambak.

Alat ini sudah diterapkan kurang lebih selama dua bulan. Yakni di daerah Keputih. Meskipun sudah dapat dijalankan, mereka berupaya terus melakukan riset untuk penyempurnaan alat tersebut. ”Kami masih mengupayakan eco aerator ini bisa lebih ringan dan simpel,” tutupnya. (its.ac.id/ humasristek)