Dahlan Rais: Muhammadiyah dan IPM Harus Miliki Keunggulan dan Semakin Ulet Bekerja

Muswil IPM54Stabat, Langkat – Setiap warga Muhammadiyah harus memiliki keunggulan. Diantaranya Amal saleh, harus memiliki kreteria: kreatif dan produktif bukan pengulangan saja.

Demikian ditegaskan Ketua PP Muhammadiyah Dahlan Rais pada pembukaan Musywil ke-18 Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sumatera Utara di Stabat, Langkat, Kamis (12/8/2013).

Pembukaan Musywil yang berlangsung di alun-alun kota Stabat dihadiri ribuan warga Muhammadiyah. Musywil digelar sejak (12-14/09/ 2013). Dahlan Rais yang memberikan tausiah pada pembukaan Musywil ke-18 IPM itu, kembali menegaskan keluarga Muhammadiyah adalah keluarga yang ihsan ( keluarga yang unggul) yang dilandasi tauhid. Inilah keunggulan warga Muhammadeiyah dari warga lainnya.

Dahlan juga memberikan berbagai ilustrasi dari perjalanan Muhammadiyah beberapa tahun ke belakang, termasuk perkembangan amal usaha dan dakwah Muhammadiyah di Papua. Masih harapan Ketua PP Muhammadiyah itu, diingatkan bahwa salah satu etik warga Muhammadiyah adalah hemat dan suka menabung karena tidak ada bangsa yang besar dan kuat yang berasal dari bangsa yang boros dan pemalas.

Kondisi bangsa ini, kata Dahlan, sesungguhnya walau sudah 68 tahun merdeka, tapi masih belum menjadi bangsa yang mandiri. “Indonesia masih sangat tergantung dengan bangsa lain. Kenaikan dollar yang berakibat pada kenaikan bahan baku pangan, seperti kedelai saja telah membuat pedagang tahu dan tempe pisang. Betapa ringkihnya ekonomi pangan kita,” jelas Ketua BPH Universitas Muhammadiyah Surakarta ini.

Untuk itu, ia berharap, Muhammadiyah dalam menjadi rahmatil ‘alamin, berguna bangsa semua termasuk menjadi pelopor bangsa yang rajin, ulet bekerja dan hemat. Kepada Pimpinan IPM dan peserta Musywil, Dahlan Rais mengingatkan untuk tidak menjadi anak yang manja. IPM harus bekerja, bekerja, bekerja. Muhammadiyah itu 68 tahun merdeka, kita bukan semakin mandiri tapi semakin tergantung kepada negara lain. Kenaikan kedelainya karena impor membuat pengusaha tahu dan tempe mogok bekerja. “Betapa ringkihnya ekonomi pangan kita. Terus kita ini berbuat apa ?,” tanya Dahlan.

Musywil ke-18 IPM Sumut yang dibuka ketua PP IPM Fida Afif itu ditandai dengan hadirnya Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumut Dalail Ahmad, Ketua PDM Langkat Sujarno dan Bupati Langkat Ngongesa Sitepu. Sebelumnya memberikan laporan ketua PW IPM Sumut, Iqbal Tanjung. Ketua PW IPM Sumut itu memberikan cenderamata kepada Bupati Langkat Ngongesa Sitepu atas dedikasinya terhadap dunia pendidikan, Cinderamata juga diberikan kepada Ketua PP IPM Fida Afif.

Musywil diawali dengan defile peserta Musywil dari beberapa Kabupaten/Kota yang diiringi dengan marchingband dari beberapa sekolah yang ada di Langkat. serta dilangsungnya pertemuan/silaturahim alumni IPM Sumatera Utara. (shd/mpi-su/dzar/muhammadiyah.or.id)