(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Pembangkit Listrik Tenaga Angin ala Mahasiswa Unand

Pembangkit Listrik Tenaga Angin ala Mahasiswa Unand

VAmp3FT0vXTerkendala krisis listrik yang terjadi di wilayah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik Elektro Universitas Andalas (Unand) Padang membuat pembangkit listrik sistem hibrid tenaga angin matahari.

Alat ini bisa menghasilkan listrik hingga 1.200 watt, alias setara untuk mengaliri satu unit rumah, dengan memanfaatkan energi angin dan cahaya matahari.

Terletak di kawasan Pantai Pasir Jambak, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat, alat pembangkit listrik ini dibuat menyerupai baling-baling pesawat dan didirikan pada ketinggian 50 meter dengan menggunakan tiang dari paralon, yang berfungsi sebagai sumber daya energi angin.

Pada bagian tengah terdapat alat yang dibuat untuk sumber daya tenaga matahari yang terbuat dari fiber. Alat pembangkit listrik ini memakai dua sumber daya energi, yakni melalui tenaga angin dan tenaga matahari yang kemudian disimpan ke dalam baterai untuk diubah dari AC menjadi DC sebagai penghasil listrik.

“Saat ini alat pembangkit listrik sistem hibrid tenaga angin dan matahari ini baru bisa menghasilkan listrik 1.200 watt atau setara dengan keperluan satu rumah tangga sehari-hari,” tukas Ketua Jurusan Fakultas Teknik Elektro Unand Ariyadi Hamdi, di Padang, Rabu (18/9/2013).

Ita, pemilik warung makan Padang ini tidak perlu direpotkan dengan tagihan listrik dan seringnya pemadaman listrik oleh PLN. Dalam kesehariannya, Ita bisa memanfaatkan pembangkit listrik tenaga angin matahari untuk menghidupkan lampu, mesin pompa air, televisi, alat pemarut kelapa, kipas angin, dan alat elektronik lainnya.

Alat pembangkit listrik sistem hibrid ini diciptakan dengan sistem berkala, dan sedang dalam pengembangan. Untuk satu alat pembangkt listrik sistem hibrid ini menghabiskan biaya hingga Rp40 juta.

Pembangkit ini diciptakan karena seringnya terjadi pemadaman listrik oleh PLN akibat krisis listrik di wilayah Sumbar. Alat ini dapat menghemat energi fosil yang diperkirakan akan habis dalam waktu puluhan tahun ke depan. (kampus.okezone.com/ humasristek)