Menyulap Limbah Tapioka menjadi Plastik

bijih-plastikPeneliti dari BATAN coba-coba mendayagunakan limbah pembuatan tepung tapioka (onggok). Setelah beberapa kali percobaan, biji plastik dapat dihasilkan. Mudah terurai oleh alam don lebih ramah lingkungan.

Keresahan para pelaku industri pembuatan tepung tapioka di Kota Lampung terjawab sudah. Melimpahnya limbah pembuatan tepung tapioka atau biasa disebut dengan onggok pun terjawab. Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi mengembangkan inovasi pembuatan bijih plastik dari sari pati onggok. Bijih plastik ini juga ramah lingkungan. 
 
Persoalan plastik di muka bumi ini memang telah menjadi perbincangan hangat dalam topik yang menyangkut perubahan iklim. Pasalnya, plastik sulit terurai di alam. Agar terurai secara sempurna, plastik memerlukan puluhan bahkan ratusan tahun. Sulitnya penguraian ini, menyebabkan limbah plastik yang tak terpakai akan menumpuk dan mencemari lingkungan. 
 
Sudrajat Iskandar, penemu bijih plastik yang terbuat dari onggok ini mengatakan, awalnya ia telah banyak mencoba beragam sari pati tanaman, seperti sari pati jagung, sagu dan tapioka.”Nah, yang terbaik adalah tapioka. Karena tapioka masih sangat produktif untuk bahan makanan, jadi kita pakai limbahnya, yakni onggok,”kata Sudrajat.

 


Masa percobaan pembuatan bijih plastik ini dicoba sejak tahun 2002, dan akhirnya bijih plastik yang diujikan dibuat menjadi pot tanaman. Setelah dicoba dan terus-menerus diperbarui, akhirnya plastik yang terbuat dari onggok tersebut dapat terurai hanya dalam jangka waktu sebulan. 

 
Keberhasilan bijih plastik yang terbuat dari onggok ini, juga telah melalui uji dari Kementerian Pertanian. Selain itu, keberhasilan pembuatan bijih plastik ini menarik perhatian dari pihak swasta. Adalah PT Sarana Tunggal Optima (STO) yang mengembangkan bijih plastik ini menjadi aneka barang yang lebih tepat guna untuk masyarakat, seperti kantong plastik, piring plastik, gelas, pot tanaman. Bahkan, PT STO juga mengembangkan kertas yang terbuat dari bijih plastik. 
 
Selaku penemu inovasi ini, Sudrajat mengutarakan harapannya, inovasi pembuatan plastik ini akan diarahkan kepada para pengguna plastik dari masyarakat menengah kebawah, sebab katanya limbah plastik yang banyak memenuhi tempat pembuangan sampah adalah plastik-plastik biasa yang dipakai oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. “Meskipun diarahkan untuk para pengguna masyarakat menengah ke bawah, namun kulitasnya sesuai dengan tingkat menengah ke atas. Dengan harga yang terjangkau tentunya,”kata Sudrajat. 
 
Indonesia merupakan negara penghasil singkong terbesar ketiga (setelah Barsil dan Thailand), dan sebagian besar dibuat menjadi tepung. Rendemen tapioka kira-kira 20%-25%, maka 75%-80% berupa limbah tapioka. Jika onggok yang merupakan limbah ini dapat dijadikan bahan baku pembuatan plastik, maka disamping menghasilkan produk plastik yang ramah lingkungan juga meningkatkan nilai tambah dari limbah yang dihasilkan. 
 
Selain itu, meskipun onggok merupakan bahan yang dapat diperbarui (renewable material) dan cukup tersedia di beberapa sentra industri pembuatan tapioka, misalnya di Lampung, Klaten, Kebumen, Kuningan, dan di berbagai daerah lain di Indonesia, pencarian bahan lain untuk mengatasi kelangkaan bahan baku di masa mendatang perlu terus dikembangkan. (Suplemen Gatra, 4 September 2013/ humasristek)