Energi Listrik dari Limbah Terasi

limbah terasiSekelumit ide dari Mahasiswa IPB yang menciptakan energi listrik dari limbah terasi. Awalnya, hanya berupa program kreatifitas mahasiwa. Inovasi yang harus terus didorong dan dikembangkan.

Inovasi alternatif energi listrik dengan memanfaatkan sumber daya terbarukan terus bermunculan.Mulai dari kotoran sapi hingga menggunakan nanoteknologi. Tidak mau ketinggalan mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pun menelurkan inovasi baru untuk penghasil tenaga listrik dengan menggunakan limbah terasi. 
 
Awal inovasi ini merupakan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berjudul “Pemanfaatan Limbah Cair Industri Terasi di Kabupaten Cirebon sebagai Penghasil Energi Listrik”. PKM tersebut merupakan hasil karya dari mahasiswa Departemen Biokimia Fakultas Matematika dan llmu Pengetahuan Alam (F-MIPA) IPB. Deeratn nama tersebut yakni Silvika Sari, Heryani, Osy Yostia Utami, Qatrunnada, dan Haribowo. Penelitian yang mereka lakukan berhasil menemukan limbah cair organik dari terasi yang mampu diubah menjadi energi  listrik. 
 
Silvika menjelaskan, limbah cair terasi merupakan salah satu limbah organik yang diperoleh sebagai hasil samping pengolahan terasi. Salah satu jenis terasi yang sering diproduksi di Indonesia,terutama di Kabupaten Cirebon adalah terasi udang. “Limbah cair terasi ini masih mengandung nutrisi (protein, karbohidrat, dan bahan-bahan lainnya) yang dapat dimanfaatkan bagi pertumbuhan mikroba. Mikroba inilah yang kemudian akan dimanfaatkan untuk memproduksi energi listri,” kata Silvika. 
 
Dalam penelitian mereka, berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan di Kabupaten Cirebon, PT ABC President Indonesia yang memproduksi terasi dalam kemasan, menghasilkan limbah cair terasi sebanyak 330 liter setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terakumulasi jika tidak ditangani secara optimal, sehingga akan mengakibatkan pencemaran lingkungan.  
 
“Limbah cair terasi yang digunakan pada penelitian ini mengandung konsorsium mikroba. Namun tidak semua mikroba dapat ditumbuhkan dan diisolasi dalam media agar-agar nutrien yang digunakan pada percobaan,” kata Silvika. Konsorsium mikroba yang terdapat secara alami dalam limbah cair terasi ini dimanfaatkan untukmemproduksi energi listrik melalui reaksi yang memungkinkan terjadinya transport proton, akibat proses respirasi seluler dari permukaan selkeanoda. Kultur cair Bacillus subtilis yang berhasil diisolasi akan digunakan dalam sistem microbial fuel cell (MFC) atau bahan bakarsel yang memanfaatkan mikrob, sebagai pembanding. 
 
Silvika memaparkan, berdasarkan hasil uji limbah cair terasi yang mengandung konsorsium mikroba mampu menghasilkan beda potensial lebih tinggi dibandingkan kultur cair B.subtilis. Hal ini disebabkan pada konsorsium mikroba terjadi aktivitas metabolism yang lebih tinggi dibandingkan dengan kultur murni sehingga proton H+ yang dihasilkan semakin banyak. 
 
Untuk membuktikan limbah cair terasi memiliki beda potensial yang lebih tinggi pada sistem MFC seri, maka dilakukan pengukuran limbah cair tahu pada sistem MFC seri sebagai pembanding. Hasil uji menunjukkan limbah cair tahu menghasilkan beda potensial sebesar 0.788 Volt. Nilai ini menunjukkan limbah cair tahu yang diukur pada sistem MFC seri menghasilkan beda potensial yang lebih rendah dibandingkan limbah cair terasi. “Pengembangan teknologi MFC yang memanfaatkan limbah cair terasi menjadi energi listrik dapat dijadikan solusi dalam penanganan limbah cair industri terasi,” kata Silvika. (Suplemen Gatra, 4 September 2013/ humasristek)