Halal bi Halal : Anggota ‘Aisyiyah Harus Saling Sambung Hati dan Sambung Rasa

aisyiyah halal bi halal35Jakarta – Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyelenggarakan acara Halal bi halal dan Silaturrohim di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, Sabtu, 24 Agustus 2013/17 Syawal 1413 H. Lebih dari 200 tamu undangan hadir dalam acara tersebut, berasal dari utusan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, seluruh Pimpinan Daerah Aisyiyah se-DKI Jakarta, Ikatan Guru Bustanul Athfal (IGB), dan BRI Syariah selaku mitra kerja ‘Aisyiyah.

Dalam acara tersebut tampak hadir Ketua Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Aisyiyah Dra. Hj. Latifah Iskandar, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Dr. Dewi Motik Pramono, Msi., dan Mr. Collin Guest perwakilan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

 

Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Prof. Dr. Hj Masyitoh Chusnan, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Aisyiyah merupakan ladang mencari pahala, maka jangan sampai anggota Aisyiyah mubazir membuang waktu meninggalkan keluarga untuk ber-Aisyiyah akan tetapi hanya untuk menambah dosa, jika seperti itu lebih baik tidak usah ber-Aisyiyah. Beliau juga mengingatkan “usia terus berjalan, terus mengalir seperti halnya waktu yang tidak mungkin kembali, tetapi sudahkah ada di antara kita yang mengintropeksi sisa waktu yang masih ada tersebut untuk diisi dengan optimal dan berkualitas sebelum terlambat”. Mewakili PP Aisyiyah beliau juga menyampaikan permemohonan maaf, dan berharap dapat saling mengevaluasi diri serta saling mengoreksi satu sama lain, dan berharap pula agar setiap anggota aisyiyah menjadi manusia yang bertaqwa secara terus-menerus sebagai buah dari ibadah Ramadan.

Ceramah inti silaturrohim Idul Fitri 1434 H dalam kesempatan tersebut diisi oleh Dr. H. Muhbib Abdul Wahab, MA. Dalam ceramahnya beliau menyampaikan bahwa silaturahim bukanlah hanya sekedar bertemu, berjabat tangan, tetapi bagaimana kita bisa membangun komunikasi yang baik di antara sesama muslim dan juga sesama manusia. Ta’aruf dalam esensi silaturahim adalah saling mengenal yang berlanjut pada saling mengerti, saling memahami, bertoleransi, saling berbagi, dan dengan taaruf kita bisa saling belajar. Dalam konsep islam, silaturahim itu kemudian harus ditindaklanjuti dengan silatul-qalbi atau sambung hati/sambung rasa. Sesama muslim harus memiliki perasaan dan sikap senasib sepenanggungan, memiliki solidaritas sosial, dan menunjukkan empati kita.

Setelah silatul-qalbi kemudian meningkat menjadi silatul-fikri wal-ilmi kita harus saling berbagi pemikiran dan ilmu, berdiskusi, saling berbagi informasi, sehingga saling melengkapi pemikiran dan wawasan dengan hal-hal yang baru, lebih-lebih saat ini kita hidup dalam era digital yang serba terbuka. Meneladani KH. Ahmad Dahlan yang memiliki banyak guru karena amalan silaturahim, begitu kembali ke Indonesia menghasilkan Gerakan Muhammadiyah.

Kemudian dilanjutkan dengan silatul-amali wal-harokati harus ada upaya untuk membangun dan menyambungkan antara pemikiran dan gerakan agar kita memiliki sebuah kekuatan untuk melakukan perubahan bagi masa depan Aisyiyah dan juga masa depan bangsa Indonesia. Selain itu acara juga dimeriahkan oleh grup marawis dari SMA Muhammadiyah 3 Jakarta. (Aisyah/Msr/muhammadiyah.or.id)