Kerjasama dengan BKKBN, Muhammadiyah Dukung Percepatan Pengendalian Penduduk

Din FasliMuhammadiyah merasa ikut bertanggung jawab terhadap peningkatan jumlah penduduk, terlebih bila terkait dengan kelompok dhuafa, miskin. “Akselarasi pengendalian penduduk perlu dilakukan demi peningkatan ketahanan serta kesejahteraan keluarga,” kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof.Dr.M.Din Syamsuddin,MA, saat penandatanganan Nota Kesepahaman antara PP Muhammadiyah dan BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jl Menteng Raya No 62 Jakarta, Senin (29/7) siang.

 

Menurut Din, penandatangan yang dia lakukan bersama Kepala BKKBN Pusat Prof.Dr.Fasli Jalal, sesungguhnya merupakan pengulangan kembali dari yang pernah dilakukan tahun 1970-an. “Sudah ada kesepahaman dan kerjasama BKKBN dengan Muhammadiyah dalam rangka peningkatan keluarga sejahtera. Jadi harusnya, tidak sekadar kesepahaman, melainkan harus ada kesadaran, tindakan nyata yang harus dilakukan bersama,” ucap Din dalam acara yang dihadiri sejumlah anggota PP Muhammadiyah, pimpinan amal usaha, seperti Rumah Sakit Muhammadiyah di Jakarta, Rektor Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.Hamka (Uhamka) Prof.Dr.Suyatno M.Pd, pimpinan ortom Muhammadiyah, dan undangan lainnya..

Din mengingatkan, penandatanganan nota kesapahaman sering dilakukan Muhammadiyah dengan banyak lembaga tapi 90% hanya masuk arsip. Hanya beberapa ditindaklanjuti dalam bentuk nyata, seperti dengan Badan Pertahanan Nasional (BPN). “Dengan BPN, langkah nyata langsung dilakukan pada saat MOU ditandatangani oleh pejabat terkait. Kita harapkan begitu pula dengan BKKBN, perlu segera ada task force, dibentuk kelompok kerja,” kata Din Syamsuddin.

Ketua Umum PP Muhammadiyah itu menyatakan, Muhammadiyah berkepentingan dalam upaya pengendalian penduduk karena dalam soal jumlah kita memang sudah mayoritas tapi dari aspek kualitas masih jauh tertinggal. Diingatkannya, pesan Islam sudah sangat jelas, yaitu berorientasi pada kualitas umat. “Secara kuantitatif kita mayoritas tapi belum kualitatif sehingga mudah terkalahkan,” ujar Din.

Din berpendapat, keluarga dalam Islam sebagai unit unit terkecil adalah sangat penting karena kondisinya memantulkan ketahanan bangsa. Tanpa melebihkan, lanjutnya, setelah “robohnya surau” ditandai lemahnya lembaga pendidikan kader ulama, “robohnya kedai” simbol ekonomi umat, maka sekarang ada gejala “robohnya keluarga”.

Hal tersebut boleh jadi terkait dengan jumlah anak yang banyak, ekonomi yang morat marit sehingga ketahanan keluarga jadi lemah. Keluarga sakinah, sejahtera yang diharapkan tidak terpenuhi. “Jadinya, banyak yang stress, gerah, gelisah, galau risau. Rumah tidak jadi sorga tapi neraka,” kata Din, seraya mengingatkan pentingnya penguatan keluarga. “Islam mendorong generasi yang kuat. Penguatan keluarga bukan saja dalam arti ketahanan dan sejahtera tapi juga harus ada kekuatan, tidak lemah,” ucap Din.

Kepala BKKBN Fasli Jalal mengatakan sependapat dengan yang disampaikan Prof. Dr. M Din Syamsuddin. Kerjasama Muhammadiyah dengan BKKBN memang sudah sejak dulu. Harus diakui, lanjutnya, keberhasilan program Keluarga Berencana selama ini banyak berkat dukungan Muhammadiyah, bersama ormas dan lembaga keagamaan lainnya.

Dikatakan oleh Fasli Jalal, Sensus Penduduk tahun 1970 memproyeksikan tahun 2000 penduduk Indonesia akan mencapai 285 juta, namun berkat gencarnya program KB saat itu, ternyata penduduk Indonesia berjumlah 205 juta, dan pada tahun 2010 baru 235 juta atau 80 juta penduduk yang dapat dihemat. Dilihat dari harapan hidup orang Indonesia, tahun 70 hanya sampai rata-rata 50 tahun tapi sekarang mendekati 70 tahun. “Artinya kita makin kuat, namun bila kita lengah dapat saja sebaliknya,” ucap mantan Wakil Menteri Pendidikan ini.

Fasil Jalal berharap, bersama Muhammadiyah dapat ditekan percepatan jumlah penduduk Indonesia. “Kita berharap generasi muda dapat paham tentang kesehatan reproduksi, kapan mereka menikah, dan punya anak,” kata Fasli. Pemahaman itu dapat dilakukan melalui pusat-pusat informasi dan konsuling keluarga yang dikembangkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah dan kampus-kampus Muhammadiyah seluruh Indonesia. Para siswa dan mahasiswa mendapatkan pemahaman tentang keluarga bahagia melalui program Bina Keluarga Remaja.

“Kita menciptakan modul-modul, kursus calon pengantin yang siap membangun keluarga sejahtera. Ini lewat modul-modul pelatihan,” ucap Fasli Jalal. Selanjutnya bila sudah menikah dan punya anak dapat mengikuti Program Bila Keluarga Balita, dan begitu seterusnya sampai Progam BinaKeluarga Lansia. “Ini semua akan kita kembangkan lewat pelatihan, TOT (training of trainers) yang dapat melibatkan amal usaha Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiah, dan lainnya,” kata Fasli Jalal yang menyebut Nota Kesepahaman yang baru ditandatangani merupakan upaya memayungi, melihat gambaran besar dari berbagai komoponen kerjasama yang telah dilakukan Selama ini. (uy/muhammadiyah.or.id)