IPM: Masa Orientasi Siswa Baru Bukan Ajang Penyiksaan

photomain-pelajar-asing132Jakarta – Ikatan Pelajar Muhammadiyah menilai MOS yang diselenggarakan oleh sekolah-sekolah dirasa tidak sesuai dengan kebutuhan siswa baru. Jika siswa baru membutuhkan penyesuaian terhadap lingkungan sekolah baru tentu kegiatan-kegiatannya mesti sesuai dengan hal tersebut. Sampai saat ini, kegiatan MOS di sekolah-sekolah tidak sesuai dengan kebutuhan siswa baru.

Ipmawan Fida Afif Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) menyesalkan meninggalnya Aninda Puspita, siswi SMK 1 Pandak Kabupaten Bantul, Yogyakarta saat menjalani kegiatan Masa Orientasi Siswa (MOS). Aninda yang memiliki jejak rekam penyakit epilepsi meninggal dunia usai menjalani hukuman squat jump pada Jumat (19/7) lalu.

“MOS cenderung sebagai ajang perploncoan terhadap siswa baru. Padahal, kebutuhan siswa baru itu memeroleh suasana hangat dan menyenangkan di lingkungan sekolah baru, bukan mendapatkan banyak tugas yang aneh-aneh. Kepala sekolah mesti bisa membedakan antara kreatifitas dan upaya “mengerjai” siswa baru”, ujarnya.

Fida juga menambahkan, “IPM mengutuk semua pelaksanaan MOS yang tidak memberikan penghargaan terhadap siswa baru dan mengarah pada merendahkan para siswa baru.”

Di beberapa sekolah pelaksanaan MOS menggunakan ala perploncoan. Siswa baru diminta membawa barang-barang yang aneh, berpakaian aneh, bahkan harus melakukan tindakan-tindakan yang kurang sesuai. Lebih tragis lagi, ditemukan siswa yang meninggal.

“Aktivitas siswa baru di sekolah baru seharusnya diisi dengan kegiatan menyenangkan, perlombaan-perlombaan, atau kegiatan yang meningkatkan motivasi belajar siswa”, tambah mahasiswa semester akhir UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Guru, kepala sekolah, dan pelajar itu sendiri mesti bisa benar-benar membedakan antara kebutuhan siswa dan kegiatan yangmubazir. Maka mereka idealnya bisa mengkritisi MOS. Terkait dengan pelaksanaan MOS yang ada, Fida ‘Afif meminta kepada Mendikbud RI agar meniadakan kegiatan MOS karena tidak sesuai dengan kebutuhan siswa baru.

Seperti diketahui, Aninda dihukum squat jump karena dinilai melakukan pelanggaran peraturan peserta MOS. Ia bersama sekitar 20 siswa lainnya tidak mematuhi aturan dalam memakai baju. Karena itu, mereka dihukum squat jump 10 kali. Setelah masuk ke barisan, Aninda tiba-tiba jatuh dan pingsan. Ia segera dibawa ke ruang UKS untuk diberikan pertolongan pertama. Namun karena tidak kunjung sadar, korban dibawa ke RS PKU Muhammadiyah, Bantul. Saat sampai di rumah sakit sekitar pukul 16.10 WIB, korban sudah meninggal. (da/dzar/muhammadiyah.or.id)