Puasa Menumbuhkan Kepekaan Sosial

mdiahRIAU POS – Islam sebagai agama rahmatan lilalamin dalam konteks ibadahnya, selalu memiliki ajaran-ajaran yang tidak hanya memiliki esensi ketuhanan (uluhiyyah), akan tetapi juga esensi kemanusiaan (ubudiyyah).

 

Islam senantiasa menerapkan dua esensi ini untuk menyeimbangkan kehidupan manusia yang memiliki dua garis hubungan, pertama garis horizontal yakni hubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablumminallah), kedua garis vertikal yaitu hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya (hablumminannas).

Dalam menata hubungan horizontal, seseorang diharapkan mampu berdialog dengan Tuhannya, di mana seseorang harus memiliki kesadaran bahwa setiap tindak tanduk perbuatannya akan selalu terlihat.

Sehingga ia harus memperhatikan setiap perkataan dan perbuatannya selama di dunia, karena harus dipertanggungjawabkan secara personal di hadapan Allah SWT.  

Lain halnya dengan penataan hubungan vertikal, seseorang kerap kali lupa akan kewajibannya dalam menata hubungan ini, terkadang seseorang merasa tidak memiliki kewajiban dalam hal menolong sesama.

Padahal mereka adalah saudaranya yang seiman, jadi tidak heran bahwa tidak sedikit orang yang selalu taat beribadah, namun secara sosial ia tidak peduli dengan sesama.

Semua ritual yang kita lakukan memiliki hikmah dan nilai yang sangat dalam yang merupakan tujuan esensi dari ibadah tersebut.

Dengan kata lain, ada makna hakiki yang mendalam di balik simbol-simbol ritual tersebut. Inilah yang harus kita selami dan kita jabarkan dalam setiap aktivitas sosial kita.

Kegagalan kita menyelami makna simbolis tersebut hanya akan menghasilkan pribadi yang terpecah.

Ini terlihat, umpamanya, dalam diri seseorang yang secara lahir memiliki pengalaman keagamaan yang baik dan akrab dalam suasana religius dalam kehidupannya.

Namun pada saat berhadapan dengan kekuasaan dan kehidupan duniawi pada umumnya, ia terjerumus dalam lumpur dan godaan materi.

Ia terjebak dalam indahnya kekuasaan tersebut, sehingga melupakan orang banyak yang sedang berharap padanya. Ironisnya, tidak jarang pula ia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan kekuasaan tersebut.

Manusia yang berpuasa diajari tentang makna solidaritas berupa sikap saling percaya; menumbuhkan sikap empati dalam bentuk ikut merasakan lapar yang biasa dialami orang-orang miskin; mendorong gerakan bersedekah; serta berdisiplin yakni berbuka menurut urutan waktu yang telah ditentukan.

Nilai-nilai tersebut di atas, pada dasarnya, merupakan pilar-pilar yang menopang kokohnya masyarakat. Para ilmuwan seperti Francis Fukuyama dan Robert Putnam, menyebut nilai-nilai itu sebagai social capital atau modal sosial yang dapat menumbuhkan perilaku-perilaku masyarakat yang menunjang kesinambungan dan stabilitas.

Sebab jika nilai-nilai puasa yang terakumulasi dalam nilai takwa, benar-benar dapat diraih para shaiman, maka hasilnya adalah prestasi-prestasi yang mengagumkan bagi kelangsungan masyarakat kita.

Takwa selain menjadi tujuan orang-orang yang berpuasa, ia juga dipandang sebagai bekal yang paling baik bagi manusia. Dalam catatan sejarah, orang yang memiliki perbekalan terbaik adalah orang-orang yang sejahtera, memperoleh kemenangan, dan dapat menciptakan kelangsungan peradaban.

‘’Berbekallah, sesungguhnya, bekal yang paling baik adalah bekal takwa’’ (QS, al-Baqarah: 197).

Jika bekal takwa dimiliki seorang muslim, maka semestinya puasa menjadi jalan yang mengantarkan pada kondisi-kondisi yang lebih baik lagi bagi gerak kehidupannya di masa akan datang.

Janganlah pernah terlintas kesan di benak kita, bahwa puasa seolah-olah hanya sebagai rutinitas tahunan yang tak memiliki pengaruh apa pun pada kebaikan masyarakat.

Puasa justru menjadi madrasah ruhaniah, yang siap menempa orang-orang beriman untuk menjadi manusia-manusia unggul dan lebih berprestasi di masa depan.

Puasa haruslah menjadi instrumen yang membentuk pribadi-pribadi takwa dan menginspirasi hidup mereka secara lebih baik lagi. Apapun status dan kedudukan mereka di masyarakat.

Bagi para pemimpin, puasa seharusnya membekali kemampuan moral dan keunggulan pribadi untuk lebih peka terhadap kondisi masyarakat yang dipimpinnya.

Kepekaan para pemimpin terhadap problem-problem masyarakat akan menjadi modal dalam keputusan-keputusan mereka.    

Bagi para pedagang, puasa dapat melatih sikap jujur, disiplin, dan memiliki etos kerja yang lebih baik di dalam menjalankan usaha perdagangannya.

Sementara bagi para pelajar dan mahasiswa, puasa dapat meningkatkan kapasitas mereka dalam menyerap ilmu pengetahuan, kepekaan terhadap problem masyarakat, dan visioner di dalam melihat masa depan mereka.

Akhirnya, puasa secara keseluruhan dapat membentuk pribadi-pribadi yang bertakwa dengan makna yang telah saya sebutkan di atas.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, bulan Ramadhan juga merupakan momentum untuk mendorong perilaku-perilaku yang lebih menunjang rasa persatuan dan kesatuan.

Puasa dapat mencegah tindakan-tindakan kekerasan, tawuran, disintegrasi, dan menumbuhkan semangat persatuan. Nilai-nilai puasa yang sangat positif ini, tentu saja harus dipelihara, dan tidak boleh dicederai oleh rasa keadilan yang mencolok melalui perilaku pamer berbelanja oleh orang-orang kaya.

Sebaliknya, umat Islam, terutama yang kaya justru harus menjembatani kesenjangan sosial itu melalui gerakan bersedekah.

Kepekaan sosial inilah akan menjadi bekal hadiah bagi seseorang yang telah melakukan ibadah puasa dalam satu bulan untuk menghadapi bulan-bulan setelah bulan Ramadan.

Jika kita kaji lebih dalam, segala perbuatan yang dianjurkan dilakukan pada bulan Ramadan dengan ganjaran (pahala ibadah) yang berlipat ganda, sesungguhnya melatih diri kita untuk terbiasa dalam melakukan amalan-amalan yang dianjurkan tersebut, meskipun bukan pada bulan Ramadan.

Esensi ibadah puasa dalam aspek sosial, adalah menjadikan seseorang memiliki jiwa sosial tinggi, peka terhadap lingkungan, selalu memberikan pertolongan bagi yang memerlukannya, serta ikhlas dalam setiap perbuatannya tanpa ada pamrih.

Hal inilah yang sangat membuat orang-orang yang beriman merindukan hadirnya bulan Ramadan sebagai bulan di mana mereka dapat kesempatan untuk melatih kesabarannya dan melatih kepekaan dirinya terhadap masalah sosial.  

Akhirnya terciptalah dua hubungan yang harmonis yakni hubungan antara manusia dengan Allah SWT (hablumminallah) dengan selalu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya dan hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya (hablumminannas) dalam bentuk tumbuh dan berkembangnya sikap empati dan solidaritas dengan sesama. Wallahualam Bisshowab.***

Mohammad Diah Z, Rektor Universitas Muhammadiyah Riau