(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Mahasiswa FT UNY Ciptakan Alat Pencetak Slondok Otomatis

Mahasiswa FT UNY Ciptakan Alat Pencetak Slondok Otomatis

mesin SlondokSekelompok mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta, Rahmad Nur Hidayat dari Program Studi Pendidikan Teknik Mesin, Yuliani dari Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika, serta Tika Novita Sari dan Amalia Ima Nur Jayanti dari Program Studi Pendidikan Teknik Informatika menciptakan sebuah alat untuk memudahkan pengusaha slondok yang notabennya merupakan makanan tradisional di wilayah Jawa Tengah.

Alat yang didanai dari Hibah Balai Pengembangan Teknologi Tepat Guna (BPTTG) DIY ini berfungsi untuk memotong sekaligus mencetak slondok secara otomatis.

Rahmad, salah satu anggota kelompok, menjelaskan latar belakang pembuatan alat ini karena kelompoknya melihat proses pembuatan slondok yang masih konvensional sehingga membutuhkan waktu yang lama. “Pengerjaanya sangat tidak efisien apalagi bentuk slondok yang dihasilkan berbeda-beda karena dalam proses pembentukan menjadi semacam ring masih secara manual, yakni dengan menggunakan tangan,” tutur Rahmad.

“Alai ini kami namai HYTIMA, yang tak lain merupakan singkatan dari nama-nama kami sendiri,” cerita Rahmad.

“Dengan alat yang kami ciptakan, tentunya tidak hanya menstabilkan bentuk slondok yang dibuat tetapi juga mempermudah dan mempercepat proses produksinya mengingat slondok masih temasuk makanan yang digemari masyarakat dan juga merupakan makanan camilan asli dan khas dari wilayah Jawa Tengah sehingga permintaan konsumen pun masih cukup tinggi,” ungkapnya.

“Alat ini tidak banyak memakan ruang dan mudah dipindahkan karena beratnya hanya 25 kg serta dimensi keseluruhan alat 650 x 340 x 640 cm. Selain itu perawatannya pun cukup mudah,” imbuhnya.

“Dengan sumber tegangan AC 110/220 V 50 Hz, alat kami ini mampu mengolah sebanyak 3600 gram adonan per jamnya menjadi dalam bentuk ring,” terangnya.

“Banyak pengusaha slondok yang tersebar di wilayah Jawa Tengah dan DIY tetapi pembuatannya masih menggunakan cara konvensional yang membutuhkan waktu yang lama dan tidak efisien. Alat ini adalah solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut,” kata Rahmad.

“Semoga alat ini dapat membantu proses produksi slondok terutama bagi para pengusaha di daerah home industri Kalibawang, Kulon Progo yang masih aktif memproduksi makanan yang terkenal dengan rasa gurihnya ini,” tutupnya. (uny.ac.id/ humasristek)