(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Suksesi untuk “E-voting”

Suksesi untuk “E-voting”

pensTeknologi komputasi dan informatika ditambah telekomunikasi merupakan jawaban tepat untuk memenuhi kebutuhan teknologi pemungutan suara atau pemilihan umum.

Dana, waktu, dan tenaga bisa dihemat jika pemungutan suara dilakukan secara paperless, tanpa kertas. Dody Wisnu Pribadi

Dengan demikian tak perlu formulir, surat suara, tak perlu ada salah cetak surat suara, dan tak perlu pengawalan surat suara sebab data pemilu berupa sinyal atau denyut digital langsung menuju ke server Komisi Pemilihan Umum.

Pemungutan suara menggunakan perangkat lunak alias e-voting bukan hal baru. Sejumlah negara maju menggunakan teknologi ini untuk pemilu.

Adalah Riza Budi Prakoso (18), mahasiswa semester dua Jurusan Teknik Informatika Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), bersama teman seangkatan dari kampus sama, Vizzca Indra Pratama (18), merampungkan software (perangkat lunak) untuk penyelenggaraan pemungutan suara.

Mereka belum berani menyebut proyek mereka perangkat lunak pemilu karena masih perlu waktu panjang untuk menguji perangkat lunak yang mereka beri nama Suksesi, yang merupakan kependekan dari Sistem Manajemen Suksesi.

Menurut Riza, substansi teknologi perangkat lunak itu sangat sederhana. Yakni, mengumpulkan data satuan (pemilih) lalu dikumpulkan, dijumlahkan, dan dibandingkan. Yang lebih banyak akan jadi pemenang. Bila menggunakan teknik pembandingan data dengan perangkat lunak spreadsheet, misalnya pada produk perangkat lunak buatan Microsoft, Excel, tinggal dibuatkan rumus penjumlah total pada kolom terbawah, maka ketemu jumlah pemilihnya.

”Bila segala sesuatunya ideal, khususnya soal kejujuran dalam proses pemungutan suara, pada detik orang terakhir memberikan suara di tempat pemungutan suara (TPS), jika menggunakan perangkat lunak spreadsheet, pada detik itu pula jumlah pendukung setiap partai politik atau kandidat dapat diketahui. Tidak perlu tunggu penghitungan kertas,” katanya.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, pemilu dengan e-voting bisa memudahkan. ”Memang ada kendala besar, yakni pengadaan infrastruktur komputer di tingkat TPS, jaringan komputer, jaringan komunikasi sampai pada tingkat TPS. Problem terbesar adalah sosialisasi,” kata Riza.

Sebenarnya penerapan teknologi pemungutan data suara dukungan sudah diterapkan paling tidak sebagian. Yakni oleh para saksi atau peneliti pada lembaga survei yang biasa disewa para kandidat atau parpol. Perjalanan data menggunakan teknologi layanan pesan singkat (SMS) sudah dimanfaatkan.

Uji coba

Suksesi diuji coba, Rabu (29/5), pada pemilihan Ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika PENS. Riza dan Vizzca perlu tiga bulan untuk mengerjakan perangkat lunak sekitar 50 megabyte (MB) ini yang diujicoba pada sekitar 200 mahasiswa pemilih pada satu TPS.

Ada tiga tahap yang dilakukan, yakni pembuatan basis data pemilih, pemungutan suara dengan validasi (pencocokan data pemilih), lalu pemungutan suara dengan mengeklik mouse.

Di PENS, mahasiswa yang hendak memilih harus terlebih dulu menunjukkan kartu mahasiswa. Kemudian petugas memberi nomor kombinasi untuk validasi dalam bilik suara, lalu pemilih masuk bilik.

”Dalam bilik di depan layar, pemilih diminta mengisi kombinasi nomor validasi dengan papan ketik, lalu memilih. Kemudian perangkat lunak bertanya apakah benar pilihan itu, jika dijawab ya, maka selesai,” Andri Agustin dari Humas PENS.

Pengembangan Suksesi dilakukan dengan bantuan bahasa pemrograman C# atau C Sharp buatan Microsoft. Butuh uji coba amat banyak untuk pengembangan, terutama aplikasi bagi operator dan pengguna (peserta pemilihan) awam.

Salah satu segi penting Suksesi adalah tampilan graphical user interface (GUI) yang didesain Vizzca. Ini adalah tampilan antarmuka perangkat lunak bagi operator dan peserta pemilihan saat berhadapan dengan Suksesi.

Riza bertugas menulis bahasa pemrograman. Butuh tantangan untuk membuat Suksesi gampang dipahami oleh petugas TPS yang bisa jadi tak banyak memahami komputer dan bagi pemilih awam yang buta huruf.

Pada teknologi berbasis komputer telah tersedia aneka teknologi yang bisa diterapkan sebagai metode input suara. Selain klik mouse dan pemanfaatan layar sentuh, ada pilihan lain, seperti infra merah, sidik jari, alat pemindai, serta menggunakan papan mouse pad.

”Banyak pilihan teknologi sebagai alternatif. Tergantung kondisi lapangan, biaya, kemudahan, dan tingkat melek teknologi pemilih dan operator komputer,” kata Riza.

Saat ini hal tersebut masih berupa kegiatan pada Himpunan Mahasiswa (Hima) Teknik Informatika. Jika hasilnya memenuhi kualitas, bisa diangkat sebagai proyek lembaga Politeknik, sebab banyak uji dan percobaan yang masih harus dilakukan.

Sebelum ini, kata Andri, proyek arsitektur perangkat lunak mahasiswa sejenis diterapkan di lingkungan, yakni untuk mengelola basis data perparkiran Kampus PENS. (Kompas, 5 Juni 2013/ humasristek)