(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Batang Sawit Bernilai Tinggi

Batang Sawit Bernilai Tinggi

sawitSaat ini luas lahan perkebunan sawit di Indonesia sedikitnya 11 juta hektar. Selain menunjukkan prospek hasil minyak nabati yang berlimpah, luasan kebun sawit ini memicu kekhawatiran melimpahnya batang sawit saat regenerasi kebun dilakukan. 
 
Jika 4 persen dari luasan itu direhabilitasi tiap tahun, ada hampir 100 juta kubik batang sawit akan teronggok menjadi sampah. Pengelola kebun sering membiarkan batang sawit membusuk. Selain menimbulkan bau tidak enak, pelapukan alami membuat batang sawit menjadi sarang kumbang Oryctes rhinoceros dan jamur Ganoderma. Hal ini akan mengganggu tanaman sawit muda dan merugikan kebun. 
 
Cara lain, membakar batang sawit. Namun, hal ini dilarang undang-undang karena membahayakan dan bisa memulai kebakaran hutan/gambut, dan melepas emisi karbon ke atmosfer. 
 
Adalah Jamal Balfas, peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan (Pustekolah) Balitbang Kementerian Kehutanan, mencoba memberi solusi dengan mengolah batang sawit menjadi kayu solid dan kayu lapis. 
 
Menurut Jamal, ia memulai penelitian batang sawit tahun 1997. Dua tahun kemudian mendaftarkan paten, tapi baru keluar tahun 2004. Paten dipegang Pustekolah Balitbang Kementerian Kehutanan selaku institusi tempat bekerja dan pemberi dana penelitian. Posisi Jamal sebagai penemu (inventor). 
 
Penelitian dikembangkan lagi. Tahun 2009, batang sawit diupayakan menjadi bahan baku kayu lapis. Hal itu menghasilkan paten pada tahun 2011 yang dipegang Inhutani IV dan Jamal sebagai penemu. 
 
Seperti umumnya tanaman ”tak berkayu”, batang sawit memiliki struktur lunak. Hampir mirip batang sagu atau kelapa. Bagian tengah (parenkim) tersusun atas tepung pati berkadar hingga 40 persen. 
 
Kayu sawit memiliki karakteristik fisis, mekanis, dan keawetan kurang baik dibandingkan kayu biasa. Salah satu masalah adalah sifat higroskopis berlebihan, bisa mencapai kadar air 500 persen. Meski telah dikeringkan, batang sawit dapat kembali menyerap uap air dari udara hingga berkadar air lebih dari 20 persen. 
 
Agar bagian tengah batang menjadi keras, Jamal memanaskan hingga di atas 130 derajat celsius. Tujuannya agar tepung pati atau gula menjadi karamel yang melekat dengan bagian vaskular. 
 
Untuk memperkuat dan menambah kerapatan kayu, dilakukan proses pemadatan. Pengawetan dilakukan dengan pemberian insektisida atau fungisida agar kayu tak diserang serangga maupun jamur. 
 
Potensi 
 
Di Indonesia, yang umum ditanam di perkebunan sawit adalah varietas sawit Dura, Pisivera, dan Tenera. Panjang batang sawit 7-17 meter, diameter 32-70 sentimeter, dan volume 0,9-3 meter kubik. Rerata jumlah pohon mencapai 128 pohon per hektar dengan rerata volume 220 meter kubik per hektar. 
 
Berdasarkan karakteristik fisik batang sawit tersebut dan daur produktif 25 tahun (tingkat peremajaan 4 persen per tahun) serta asumsi luas tanaman sawit di Indonesia 9,261 juta hektar (2011), potensi limbah batang sawit nasional sekitar 81,5 juta meter kubik per tahun. 
 
Jamal mencatat, Provinsi Sumatera Utara dan Riau memiliki potensi kayu sawit terbesar dengan volume 10 juta dan 20 juta meter kubik per tahun. 
 
Potensi aktual kayu sawit nasional pada periode 2012-2017 beragam dari sekitar 24 juta meter kubik pada tahun 2013 hingga 40 juta meter kubik pada 2015. Volume ini akan meningkat pada 10 tahun berikutnya hingga mencapai lebih dari 110 juta meter kubik per tahun. Hal ini akan jauh lebih besar dibandingkan volume tertinggi yang pernah dicapai dalam sejarah produksi kayu nasional dari hutan alam sebesar 70 juta meter kubik per tahun. 
 
Potensi ini yang ditangkap Jamal. Kayu sawit memiliki potensi besar sebagai komoditas ekspor, terutama dalam bentuk produk lantai, furnitur, daun meja, dan komponen pintu. Produk kayu ini berbeda dengan produk dari kayu tropis komersial. Pertama, potensi kayu sawit terdapat dalam jumlah besar dan akan terus meningkat di masa mendatang. 
 
Kedua, produk kayu sawit secara utuh belum pernah diproduksi secara komersial oleh negara mana pun di dunia sehingga produk ini bersifat unik dan spesifik. Ketiga, pemanfaatan kayu sawit sebagai substitusi kayu tropis memiliki aspek lingkungan sangat baik dalam kaitan dengan peningkatan upaya nasional dan internasional dalam penyelamatan hutan tropis. 
 
Meski prospektif, pemanfaatan limbah hasil peremajaan perkebunan sawit tak mudah. Jamal menyebutkan, banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk memperoleh batang sawit dan membawanya ke pabrik kayu. 
 
Akibatnya, nilai batang sawit menjadi sangat mahal, lebih dari Rp 350.000 per meter persegi. Harga itu setara harga kayu bulat jenis karet, sengon, dan kemiri. Masalah birokrasi dan keterlibatan sejumlah pihak untuk memperoleh keuntungan dalam kegiatan pemanfaatan batang sawit menjadi hambatan serius di sejumlah kebun sawit. 
 
Di Malaysia, hal ini bukan masalah. Kepala Pustekolah IB Putera Parthama menyatakan, negeri jiran ini getol mengembangkan teknologi pemanfaatan batang sawit. Pemerintah mewajibkan perkebunan sawit memasok batang sawit ke industri kayu. 
 
Di Indonesia, pengembangan hasil penelitian ini ke arah komersial dipersiapkan PT Inhutani IV bersama PT Perkebunan Nusantara I dan IV untuk membangun pabrik di Aceh. Konsorsium BUMN ini akan mengkhususkan diri menangani produksi panel kayu, tapi hingga kini belum berproduksi. (Kompas, 23 Mei 2013/ humasristek)