Muhammadiyah Antara Dakwah, Demokratisasi dan Kesejahteraan Sosial

DSC 067843Yogyakarta – Beberapa waktu yang lalu, di Boston Amerika, peristiwa terror bom paku dengan Tersangka bom tersebut mengaku melakukan itu atas nama Islam. Isu Internasional itu tentunya menyudutkan bahwa Islam mengembangkan gerakan yang sangat ekstrim, akibat kurangnya pemahaman ke-Islaman yang dipahami orang Islam sendiri.

Imam Hanafi, sebagai moderator menyampaikan bahwa Indonesia yang mayoritas warganya umat Islam, dalam hal ini Muhammadiyah perlu melakukan reinpretasi ulang terhadap makna-makna ke-Islaman, karena selama ini Islam dimaknai oleh kelompok-kelompok ekstrimis yang kadang tidak sesuai dengan perdamaian dunia. Muhammadiyah tentunya punya peran penting dalam mengembangkan wawasan ke-Islaman yang lebih pada pemahaman terhadap masyarakat Islam Indonesia.

Divisi Kajian Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah melaksanakan program diskusi rutin yang bekerja sama dengan Program Pascasarjana Magister Studi Islam UMY dan Fakultas Agama Islam UMY, dengan tema Gerakan Dakwah, Demokratisasi dan Kesejahteraan Sosial. Tema tersebut menjadi pokok pikiran dalam Kuliah Umum yang disampaikan Prof. Dr. Martin Van Bruinsennen seorang Antropolog senior di Indonesia asal Belanda yang memiliki banyak informasi mengenai gerakan-gerakan Islam di dunia, khususnya di Indonesia pada Abad ke XX serta juga peneliti Muhammadiyah. Rabu, (24/4/2013) di lantai 5 Gedung AR Fakhrudin A, UMY.

Menurutnya, ada lima gerakan dakwah yang paling penting pada Abad ke XX, Pertama, Ahmadiyah salah satu gerakan dakwah yang sangat penting di awal Abad ke XX;  Kedua, Muhammadiyah sebuah gerakan dakwah yang dibuat oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912; ketiga, Ikhwanul Muslimin yang bediri 16 tahun setelah Muhammadiyah di Mesir; keempat, Jamaah Tabligh ; dan kelima adalah Gerakan Salafi.

“Yang menarik dari lima gerakan itu adalah  mempunyai dakwah sebagai salah satu aktifitas utama, tapi sasaran dakwah bukan orang nonmuslim yang menjadi sasaran dakwah yang mau di-Islamkan, melainkan orang Islam yang Islamnya mau diperbaiki. Karena dianggap pelaksanakan Islamya yang belum sempurna.” Paparnya.

Martin menambahkan Gerakan dakwah itu adalah gerakan defensif untuk menangkal serangan dari gerakan terhadap gerakan misionaris-misionaris. Dalam perlindungan dari misionaris tersebut, ternyata gerakan dakwah itu, mengambil belajar banyak metode dan cara dari gerakan misionaris itu. Muhammadiyah misalnya, sekolah Muhammadiyah itu sangat mirip sekolah misionaris itu. Dan aktifitas sosial Muhammadiyah persis yang dilakukan misionaris Kristen pada saat itu. Mengapa Muhammadiyah melakukan hal itu, tentunya agar masyarakat tetap mempertahankan ke-Islaman mereka.

Menurut Ketua Majelis Pendidikan Kader PP Muhammadiyah H. Asep Purnama Bahtiar, S.Ag, M.Si, kuliah umum ini merupakan program rutin Divisi Kajian MPK PP Muhammadiyah yang bekerjasama dengan Program Pascasarjana Magister Studi Islam  UMY, dan Fakultas Agama Islam UMY. “Pemaparan Prof. Martin dalam kuliah umum ini menjadikan perkembangan wawasan penambahan informasi dari wacana yang berkembang sekarang yang sangat kontemporer yang perlu kita kaji bersama sehingga menambah pengetahuan bagi kader khususnya MPK dan Muhammadiyah pada umumnya maka dari itu Divisi Kajian MPK PP Muhammadiyah berinisiatif mengundang Prof. Martin dalam diskusi kuliah umum hari ini”, ujarnya yang juga dosen UMY ini.

Asep menambahkan ke depan rencana divisi kajian MPK ingin merutinkan diskusi semacam ini dan bulan depan akan mengundang Usman Hamid (pernah aktif di KONTRAS) untuk diskusi dengan MPK. “Insya Allah bulan depan tentang pemberdayaan dan juga membangun opini publik atau advokasi publick melalui jejaring dunia maya, atau jejaring sosial yang baru. Selama ini muhammadiyah masih belum memanfaatkan jejaring sosial yang baru untuk melakukan pemberdayaan dan advokasi publik itu,” tutupnya.