Pelembagaan Inovasi Akar Rumput Di Sidoarjo, Trenggalek Dan Tulungagung

griPengetahuan tradisional, kearifan lokal, pengetahuan lingkungan tradisional atau pengetahuan masyarakat lokal pada umumnya mengacu pada sistem pengetahuan  dalam tradisi budaya daerah.  Pengetahuan tradisional telah diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi secara turun temurun.  Dalam rangka melembagakan dan mendorong pengembangan kreativitas dan inovasi masyarakat berdasarkan nilai-nilai kearifan masyarakat lokal, Asdep Budaya dan Etika pada tanggal 22-26 April 2013  telah melakukan orientasi lapangan mengamati  hasil-hasil kreasi dan inovasi teknologi  akar rumput yang berkembang di masyarakat Sidoarjo, Trenggalek dan Tulungagung Jawa Timur. Asdep Budaya dan Etika yang diwakili oleh Kabid Analisis Suyatno dan Kasubid Perguruan Tinggi dan Lemlitbang Octa Nugroho telah berkunjung ke beberapa lembaga dan kelompok masyarakat berdiskusi dan melihat hasil hasil inovasi akar rumput dan inovasi pengembangan Mocaf  di Kabupaten Sidoarjo, Tulungagung dan Trenggalek.  
 
Dari hasil diskusi dengan berbagai nara sumber dan  kunjungan ke masyarakat kreatif menunjukkan bahwa daerah yang dikunjungi terdapat banyak hasil-hasil inovasi akar rumput yang telah dikembangkan yang pada awalnya  dikembangkannya  hasil inovasi ini diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.   
 
Dari hasil kunjungan ke berbagai lokasi  diperoleh hasil bahwa terdapat beberapa sentra masyarakat kreatif yaitu sentra kerajinan kulit, batik, sentra ternak bebek dan lainnya yang   telah dikembangkan di Sidoarjo; aneka pangan olahan berbahan baku Mocaf (modified cassava flour),  berbahan baku tepung ketela  seperti  alen-alen, kripik pisang, sale dan  keripik tempe khas Trenggalek. Selain itu terdapat kerajinan batik khas Trenggalek yang dulu sangat terkenal yang keberadaan dan kelestariannya perlu mendapatkan perhatian dari Pemkab Trenggalek. Dan teknologi tepat guna yang ada diantaranya adalah pembuatan parut kelapa tradisional,  mesin pemanen dan perontok padi. Sedangkan di Tulungagung  terdapat banyak hasil-hasil kreativitas dan inovasi masyarakat baik berupa pangan olahan khas Tulungagung, kerajinan tenun dan batik tulis, kerajinan bambu, kelompok masyarakat pande besi dan kerajinan alat dapur, kerajinan sabut kelapa, ijuk dan bahan sejenisnya,  kerajinan mozaik dengan penggunaan limbah marmer, serta berbagai macam inovasi dan kreasi teknologi tepat guna masyarakat Tulungagung.  
 
Dari hasil wawancara dengan pejabat  Badan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Trenggalek  mengemukakan bahwa pemerintah secara aktif melakukan pemberdayaan kreativitas yang  ada di masyarakat baik dengan memberikan fasilitasi melalui pelatihan, lomba-lomba, pemberian insentif pendanaan dan bimbingan serta penyuluhan terhadap kreator dan para pelaku pengembang inovasi masyarakat itu. Khusus untuk batik tulis yang sudah berkembang secara turun tumurun yang sampai saat ini hampir punah  mulai dikembangkan lagi dan para pengrajinnya di ajak ke Banyuwangi  untuk dilatih manajeman. Sedangkan  pengrajin parut tradisional juga terus dibina dan dibantu dalam pemasaran produknya serta dilembagakan. Selain itu di Kabupaten Trenggalek telah dikembangkan inovasi mocaf yang terkenal ke berbagai daerah di Indonesia namun demikian  mulai tahun 2011, program pengembangan mocaf di Kab Trenggalek mulai menurun. 
 
Sedangkan di Kabupaten Tulungagung terdapat banyak kreativitas masyarakat yang telah berkembang  secara turun temurun, dimana kreativitas masyarakat tersebut muncul untuk memenuhi kebutuhannya. Terdapat beberapa kelompok inovator akar rumput yang telah terbentuk dan melembaga baik formal maupun informal, pelembagaan tersebut terbentuk dengan tujuan meningkatkan aktivitas ekonomi maupun sosial. Pemerintah daerah diharapkan  mempunyai peran aktif, dengan tidak mengambil alih peran utama inovator akar rumput. 
 
Untuk pengembangan dan mendukung pelembagaan  inovasi akar rumput maka diperlukan adanya pembinaan dan pengembangan oleh lembaga pemerintah setempat.  Bagaimana  peran Kementerian Riset dan  Teknologi  dalam memberikan intervensi yang mampu mengangkat inovasi akar rumput agar dapat memenuhi kebutuhan  msyarakat  setempat dan meningkatkan nilai ekonomi.  (ad5-dep1/ humasristek)