Ini Cara Pemerintah Cegah Dampak Perubahan Iklim

194072 citra-bumi-dari-luar-angkasa 663 382VIVAnews – Perubahan iklim (climate change) akibat pemanasan global (global warming) tidak dapat dihindariIsu ini diyakini berdampak terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk sektor pertanian.

Naiknya suhu di permukaan Bumi akan berakibat pada kekacauan pola musim. Seperti fenomena musim hujan yang cenderung lebih pendek dengan curah yang lebih tinggi. Begitupun, musim kemarau yang lebih panjang dan menimbulkan ancaman pada produktivitas pertanian dan ketahanan pangan.

Kepala Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) Haryono menceritakan, pada sebuah forum ilmiah di Asia, banyak para peneliti dunia menyampaikan bahwa perubahan iklim adalah sesuatu yang nyata.

“Ada sekitar 60 persen negara-negara penghasil pangan yang sedang mendapat ancaman dari perubahan iklim,” kata Harsono, saat ditemui di Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian, Jakarta, 1 Mei 2013.

Untuk itu, dia mengatakan, semua negara penghasil pangan harus menambah lebih banyak produksi pangan. “Tak terkecuali Indonesia. Ini untuk mencegah kegagalan proses produksi pangan para petani akibat perubahan pola cuaca yang tak menentu,” ujarnya.

Pemerintah melalui Kementan pun memiliki strategi untuk menambah jumlah pangan dengan mencanangkan rencana surplus 10 juta ton beras pada tahun 2014.

“Langkah-langkah untuk mencapai surplus itu adalah melalui pendekatan dinamika sistem dengan memerhatikan komponen-kompenen terkait dalam sistem pemberasan, seperti irigasi, benih, pupuk, penganan organisme pengganggu tanaman (OPT), penyuluhan, dan lainnya,” ujar Harsono.

Kalender Tanam Terpadu

Sementara untuk membantu para petani dalam mengelola lahan, dan melindunginya dari perubahan iklim, Badan Litbang Pertanian Kementan mengeluarkan Kalender Tanam Terpadu.

“Kalender ini untuk semua wilayah di Indonesia, dari tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, dan lainnya. Di dalamnya berisi informasi waktu tanam yang tepat di setiap daerah di Indonesia. Jadi, para petani memiliki petunjuk saat akan memulai menanam,” kata Harsono.

Badan Litbang Pertanian Kementan juga telah membuat strategi berdasarkan pengembangan teknologi inovasi yang adaptif. Misalnya, membuat rekayasa genetik agar tanaman bisa tahan kering, genangan air, berumur pendek, dan rendah emisi. (umi)