(0761) 35008 umri@umri.ac.id

BlooBIS, Solusi untuk Donor Darah

RedBlood nama tim ini. Mereka adalah Ika Nurkasanah sebagai ketua dan Izzat Aulia Akbar  beserta Benedictus Arya Binarsatya. Dalam jangka waktu satu tahun, mereka mampu menyelesaikan proyek ini. “Kami memulainya dengan melakukan survei terlebih dahulu ke Unit Transfusi Darah (UTD) untuk mengetahui tentang alur pendistribusian dan pemesanan darah,” tutur Izzat. 
 
Dalam survei ini, tim mengumpulkan data tentang golongan darah, rhesus, komponen darah, jumlah kantong yang diminta, dan lain sebagainya. Pendataan tersebut agar mereka bisa membuat aplikasi yang proses distribusinya efektif. 
 
Ketika survei ini, diketahui bahwa proses distribusi darah masih sangat kurang memadai. Rumah sakit yang merawat pasien harus menghubungi satu persatu UTD untuk kestersediaan stok darah. Tentunya langkah ini membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Sementara itu, di waktu yang sama, pasien sangat membutuhkan darah sesegera mungkin. 
 
Namun jika dirunut lebih jauh lagi, latar belakang dari pembangunan aplikasi ini berawal dari kisah masa kecil Ika Nurkasanah. Saat itu, salah satu anggota keluarga Ika sangat membutuhkan darah. Akan tetapi, tidak ada stok  darah yang tersedia di UTD daerah Mojokerto. Dari sinilah Ika berinisiatif untuk menciptakan aplikasi BlooBI ini dengan harapan, kejadian serupa tidak terulang kembali. 
 
Secara sistematika kerja, aplikasi ini tidak begitu sulit dan relatif mudah digunakan. “Para pegawai UTD sangat mengapresiasi adanya aplikasi ini, tidak hanya bermanfaat, tetapi juga tidak berbelit bagi mereka” ungkap Izzat. 
 
Aplikasi ini bisa dimulai ketika dokter yang menangani pasien harus login terlebih dahulu. Setelah itu dokter juga bertanggung jawab untuk memasukkan data darah yang diperlukan oleh pasien ini. “Data tersebut di kirim ke aplikasi, setelah itu aplikasi akan mencarikan data darah ke seluruh UTD di Indonesia. Barulah aplikasi akan mencari UTD yang terdekat secara otomatis,”jelasnya. 
 
Tidak hanya sampai di situ, UTD terdekat tersebut akan mendapatkan notifikasi bahwa ada permintaan darah dari rumah sakit. Petugas UTD berhak melakukan penolakan atau pun penerimaan terhadap permintaan itu. “Jika ditolak, aplikasi akan mencari UTD terdekat kedua, kalau diterima sistem akan menampilkan kantong mana yang akan dikirim,” lanjutnya. 
 
Selanjutnya, UTD terkait akan mengirimkan darah ke rumah sakit yang bersangkutan. Jika darah sudah diterima, maka rumah sakit harus melakukan konfirmasi ke dalam aplikasi. “Konfirmasi ini bertujuan agar dapat diketahui bahwa tidak ada masalah ketika pengiriman darah,” tambah Izzat. 
 
Aplikasi ini juga dilengkapi login untuk pendonor darah. Bagi pendonor, akan muncul data seperti berapa kali telah mendonor dan anjuran waktu untuk donor darah selanjutnya. “Jika belum waktunya pendonor tidak akan diperbolehkan oleh UTD,” imbuhnya. 
 
Aplikasi ini diharapkan membantu pemerintah untuk memberikan reward kepada mereka yang paling sering mendonorkan darahnya. Karena aplikasi ini akan merangking seluruh masyarakat Indonesia yang donor darah terbanyak. “Dibuat sistem peringkat, agar masyarakat Indonesia termotivasi untuk donor darah,” cetus pria jebolan SMAN 1 Nganjuk ini. 
 
Harapan selanjutnya, aplikasi ini dapat dikembangkan ke dalam versi mobile dan ditambahkan fasilitas Short Message Service (SMS) gateway. SMS gateway ini berfungsi secara otomatis mengirimkan notifikasi berupa SMS kepada petugas UTD jika ada rumah sakit yang meminta darah. 
 
Namun demikian, harapan terbesar mereka adalah aplikasi ini bermanfaat untuk setiap masyarakat Indonesia. Serta, pemerintah bersedia menerapkan aplikasi ini di seluruh UTD dan rumah sakit yang nantinya akan dikordinir langsung oleh Palang Merah Indonesya (PMI),” pungkas Izzat. (its.ac.id/ humasristek)