(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Pertolongan Tak Tepat Bisa Fatal

Pertolongan Tak Tepat Bisa Fatal

bagMenolong korban kecelakaan dan bencana bisa berakibat fatal jika proses penyelamatan atau evakuasi tidak tepat. Menegakkan standar evakuasi serta menggunakan cara dan sarana yang tepat dapat menekan jumlah korban jiwa.
 
Korban manusia terbanyak bukan karena bencana alam, melainkan akibat kecelakaan lalu lintas. Tidak sedikit yang kemudian berakhir fatal. 
 
Data di tingkat dunia yang dikeluarkan Belanda menyebutkan, satu dari empat korban kecelakaan lalu lintas cederanya makin serius akibat kesalahan tindakan petugas penyelamat. 
 
Wiyono, koordinator instruktur penyelamatan di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menyatakan, jumlah kematian akibat penanganan korban kecelakaan dan bencana di Indonesia menjadi lebih tinggi antara lain akibat kesalahan prosedur dan ketiadaan alat penyelamat yang memadai. 
 
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB Sutopo Purwo Nugroho, tahun 2012 korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas 25.131 orang. Jumlah ini menurun dibandingkan jumlah korban pada tahun 2011, yakni 31.185 orang. Adapun korban tewas akibat bencana alam tahun lalu 841 orang. 
 
”Ketika terjadi kecelakaan lalu lintas umumnya orang-orang di tempat kejadian spontan melakukan penyelamatan korban dengan membawa ke rumah sakit,” kata Wiyono, koordinator pelatihan SAR bagi 1.100 tim reaksi cepat untuk penanganan kebencanaan di Indonesia. 
 
Cara penanganan korban lalu lintas yang dilakukan umumnya tidak mengikuti proses keselamatan dan sarana seadanya. Paradigma yang dipegang tim penyelamatan dari lembaga berwenang di Indonesia kurang tepat, yaitu secepat mungkin membawa korban ke rumah sakit dengan harapan nyawa korban dapat diselamatkan. 
 
”Namun, kenyataannya akibat prosedur penanganan yang salah, misalnya dengan menarik dan mengangkat korban begitu saja, justru berisiko meninggal di tempat kejadian,” ujarnya. 
 
Standar penyelamatan 
 
Di dunia berlaku standar penyelamatan korban yang dikeluarkan National Fire Protection Association (NFPA). Organisasi yang berdiri tahun 1896 di Massachusetts, Amerika Serikat, ini mengembangkan standar terkait prosedur penanganan korban kecelakaan sejak akhir abad ke-19. Untuk penanganan korban ditetapkan sesuai standar NFPA 1670. Standar itu menguraikan prosedur penyelamatan korban mulai di tempat kejadian, saat tiba di rumah sakit, pada masa pengobatan, hingga masa penyembuhan. 
 
”Penanganan yang cepat dan tepat menentukan keselamatan,” kata Wiyono yang merintis pendirian lembaga pelatihan penyelamatan korban di bangunan yang kolaps serta kecelakaan lalu lintas di darat dan udara. 
 
Selain prosedur yang tepat, ada pula ketentuan lain, yaitu penggunaan peralatan yang tepat (NFPA 1936), mengerahkan petugas yang terlatih, dan menjaga kestabilan kondisi korban. 
 
Di lokasi, korban diupayakan dalam kondisi stabil. Karena itu, digunakan teknik tertentu. Prinsip yang dipegang adalah tidak memindahkan korban sebelum ambulans tiba. Di Indonesia karena kedaruratan dan keterbatasan sarana, prosedur itu sering tidak dilakukan. 
 
Ketika terjadi kecelakaan, menurut Wiyono, lebih baik menutup total jalan dalam radius hingga 10 meter dari sumber kecelakaan agar penanganan oleh petugas optimal. Apabila yang ditutup setengah arus lalu lintas, justru akan membatasi gerak petugas dan memperlambat penanganan korban. 
 
Stabilisasi korban antara lain dilakukan dengan menormalkan pernapasan dan menghentikan perdarahan. Agar kondisi korban tidak memburuk, sebelum dipindahkan kondisinya dijaga terutama di bagian kepala, leher, dan tulang punggung dengan memberi penyangga. 
 
Jika korban terjebak atau terimpit dalam kendaraan, petu- gas akan melakukan penyelamatan darurat untuk mencegah potensi bahaya berikutnya. Tindakannya antara lain sabuk keselamatan dipotong karena setelah kecelakaan kekencangannya bertambah 5-15 cm. 
 
Stabilitas kendaraan perlu dilakukan dengan mengempiskan ban, memecahkan kaca, mematikan mesin mobil, dan memutuskan kabel baterai untuk mencegah kebakaran. 
 
Alat penyelamatan 
 
Tahap berikutnya adalah membuka pintu dan atap kendaraan. Jika perlu, dengan alat pemotong khusus. Penanganan dengan peralatan modern ditetapkan dalam standar NFPA 1670 tahun 2004. Alat pemotong itu menggunakan sistem hidraulik dan sistem pneumatik. Peralatan penyelamatan meliputi alat penyelamat sistem hidraulik dan sistem pneumatik. Sistem hidraulik digunakan untuk mendorong, memotong, meregang, dan menjepit. Adapun sistem pneumatik yang menggunakan sistem pompa udara digunakan untuk mengangkat. 
 
Material yang digunakan untuk peralatan tersebut umumnya paduan aluminium yang ringan tetapi kuat. Untuk alat penopang dirancang lebih dari 300 bagian. 
 
Belakangan ini dirancang bantalan karet yang menyerupai ban pesawat terbang. Jika dipompa, bantalan dari lapisan karet dan serat kevlar yang semula pipih dapat menggelembung hingga mampu menyangga beban lebih dari 850 ton. Bantalan ini lebih stabil menyangga beban di posisi lebih tinggi dibandingkan yang konvensional. 
 
Untuk mendeteksi korban, digunakan sistem detektor yang bekerja dengan menangkap frekuensi dan detak jantung. Untuk menolong korban yang terperangkap di bangunan atau kendaraan, diciptakan robot kecil yang dapat menyelinap dan membawa botol minuman bagi korban. Sayangnya, peralatan canggih dan mahal ini belum umum di Indonesia. 
 
Menurut Wiyono, BNPB tengah menjajaki kerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat pelatihan bagi guru-guru mulai dari tingkat SLTP. 
 
Diharapkan para guru akan mengajarkan kepada muridnya. Sosialisasi cara pertolongan pertama pada korban dapat menekan jumlah korban kecelakaan dan bencana di Indonesia. (kompas.com/ humasristek)