Din Syamsuddin: IPM Harus Bisa Mengisi Masa Depan Bangsa

DSC 012752Yogyakarta – Kehadiran Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin dalam Rapat kerja Nasional (Rakernas) Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) kemarin (29/3/2013) merupakan kegiatan penting yang harus dihadiri, “Saya minta maaf tidak bisa berlama-lama di Jogja, dan saya menyempatkan hadir di acara Rakernas IPM kali ini menurut saya penting” ujar Din.

Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) sebagai penerus, pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah ini yang membuat banyak Alumni AMM berebut amal usaha Muhammadiyah, maka dari itu Muhammadiyah mengubah menjadi AMM sebagai penerus, pelopor, pelangsung dan pengawal gerakan pencerahan Muhammadiyah. “Ortom AMM harus berada di jalur ini menjadi agen dari gerakan pencerahan Muhammadiyah. Mereka adalah laskar zaman,” tambahnya disambut tepuk tangan peserta Rakernas.


Din Syamsuddin berharap IPM dan AMM lainnya mendukung gerakan Muhammadiyah dalam pembahasan RUU Ormas,  Migas, RUU Pendirian Rumah Sakit, Masalah Densus 88, Teroris dll. IPM sebagai anak panah gerakan Muhammadiyah sebagai garda terdepan dalam mengawal gerakan Muhammadiyah.


Rakernas IPM yang dilaksanakan di kampus 1 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) ini  mengangkat tema Menatap Masa Depan Bangsa, membangun Budaya Pelajar Kritis dan Progresif menurut Din, IPM jangan hanya menatap masa depan, tapi harus juga mengisi masa depan bangsa dengan segala keilmuan yang dimiliki IPM dengan budaya yang kritis dan progresif.


Dalam pembahasan RUU Ormas oleh DPR RI Din menyampaikan Muhammadiyah mengkaji ada nuansa pengaturan yang ketat dari akar Ormas yang merupakan kebebasan berserikat warga. Selain itu, kewajiban asas Pancasila dinilai Din sebagai usaha mempertentangkan Pancasila dan agama. “Ormas Islam selama ini tidak ada pertentangan dengan Pancasila, masalahnya itu sudah final,” ujarnya.
Menjelang tahun 2014 Din berharap IPM dan AMM lainnya bisa menjaga Muhammadiyah dari netralitas politik, Jika AMM termasuk IPM tidak bisa menjaga Muhammadiyah dan dirinya maka kepada siapa lagi kita berharap. Saya sedih kalau Muhammadiyah tidak bisa bertahan dipenghujung abad kedua,” tutup Din. (muhammadiyah.or.id)