Langkanya Orang Jujur

aidil harisSESUATU yang menarik bagi penulis ketika membaca sebuah berita di situs www.tempointeraktif.com tentang eksistensi nilai-nilai kejujuran pada diri seseorang. Yakni berita yang berjudul “Office Boy (OB) Bank Ini Tak Tergiur Uang Rp100 Juta”. Dalam berita

tersebut diuraikan tentang sesosok Agus Chaeruddin (35), office boy Bank Syariah Mandiri (BSM) Kantor Cabang Pembantu Kalimalang, Kota Bekasi, yang menemukan uang Rp100 juta di lantai dekat tempat sampah meja teller di kantor bank tersebut. Uang itu bukan milik nasabah, melainkan uang simpanan bank yang terbuang akibat keteledoran salah satu karyawan bagian teller. Agus kemudian menyerahkan uang itu ke atasannya setelah sebelumnya melapor ke petugas keamanan. Dia tak tergiur untuk mengambil sedikit pun uang dari tumpukan uang itu. 

 


Dia pun menjadi “bintang”. Sejumlah jurnalis mewawancarainya. Bukan soal wawancaranya, tapi dia takut jika tindakan jujurnya tersebut disalahartikan oleh media massa. “Takut jadi fitnah, Mas,” kata Agus. 

Pertanyaannya, apakah begitu langkanya kita mencari orang jujur di negeri ini? Potret Agus Chaeruddin, seorang OB di salah satu perbankan seolah-olah menjadi fenomena baru di negeri ini. Dalam pikiran penulis, seolah-olah media massa sulit menyajikan berita tentang tokoh-tokoh yang mampu meneggakkan nilai-nilai integritas. Nah, ketika mendapatkan peristiwa tentang Agus Chaeruddin yang menemukan uang 100 juta lalu mengembalikannya ke pimpinannya, menjadi sebuah berita yang begitu langka diterbitkan.

Kita akui, media massa beberapa tahun belakangan ini, habis-habisan memberitakan pelaku tindak korupsi. Siang dan malam, pemberitaan media massa seputar korupsi. Mulai dari kakek mencuri uang seribu, karyawan mencuri sandal jepit, bupati yang nikah empat hari lalu cerai, menteri, gubernur, bupati/ wali kota yang terlibat korupsi, wakil rakyat yang minta uang lelah, sampai Wapres diduga terlibat kasus century. Setiap hari, isi berita hanya seputar kejahatan-kejahatan yang terkait dengan nilai-nilai integritas. 

Kita harus menyadari bahwa implikasi riil terkikisnya kejujuran adalah lahirnya aneka kehancuran (perang, bencana dan penyakit), keputusan yang tidak bijaksana, dan ketidakadilan di mana-mana. Bencana alam datang silih berganti, perang tetap berkecamuk, epidemik penyakit baru adalah bahasa sempurna, bahwa manusia sebenarnya sedang tidak berlaku jujur terhadap dirinya, alam, sesamanya bahkan Tuhan yang diyakininya.

Sebut saja masalah Timur Tengah, AS berkali-kali berjanji menjadi Big Brother memediasi sengketa Israel-Palestina tapi nyatanya sampai saat ini sengketa itu kian kelabu. Apa yang salah sebenarnya? Seandainya AS berlaku jujur terhadap dua pihak, mungkin masalahnya tidak separah sekarang ini. Berlaku jujur adalah kunci utamanya.

Di Indonesia, beragam kasus membuat kian redup arti kejujuran di negeri ini. Lebih hebatnya lagi, krisis kejujuran sudah menghampiri lembaga-lembaga pendidikan kita. Para praktisi pendidikan mulai mendekati bibir jurang ketidakjujuran. Plagiat karya ilmiah, SPP siswa yang disalahgunakan, pembangunan ruang kelas yang pembiayaannya di mark-up, dan penyelewengan anggaran pendidikan lainnya yang sudah dianggap biasa. Jika demikian, dimana anak-anak bangsa sebagai generasi penerus untuk belajar jujur?

Sulit mencari solusi terhadap krisis kejujuran. Kita harus terpaksa belajar seperti filsuf-filsuf belajar tentang kebenaran. Aristoteles misalnya, yang harus mencari kebenaran secara logis, sistematis dan objektif hanya di bawah pohon lindung. Sehingga ia memahami hakikat kebenaran dari sebuah fenomena yang objektif kemudian dilogikakannya sehingga bisa diterima akal sehat dan menjadi sebuah konsep atau teori. 

Sampai kapan kondisi ini harus kita hadapi? Seolah-seolah lingkaran setan yang merasuki sistem kita sudah semakin kokoh. Sehingga sulit untuk dibumihanguskan. Meskipun begitu, penulis yakin dan optimis, bahwa nilai-nilai integritas bangsa bisa kokoh kembali jika rakyat mampu memilih pemimpin yang berintegritas tinggi. 

Nilai Integritas

Integritas secara umum adalah kesamaan antara perbuatan dan perkataan serta hati nurani. Banyak orang menafsirkan integritas sebagai kejujuran. Sebenarnya integritas bermakna lebih dari kejujuran. Jika jujur diartikan sebagai sesuainya ucapan lisan dengan kenyataan, atau mungkin sering dikatakan tidak berbohong, maka integritas tidak hanya kesesuaian antara ucapan dengan perbuatan, tapi juga antara prinsip, nilai-nilai dalam masyarakat, juga hati nurani. Mengapa juga terhadap hati nurani? Karena hati nurani itu tidak pernah berbohong. Seorang pakar Psikoanalisis, Sigmund Freud menyebutkan bahwa terdapat tiga konsepsi dasar perilaku manusia yaitu, Id, Ego dan Superego. Bila dipahami secara sederhana, Id merupakan watak atau tabiat hewani manusia. Artinya manusia merupakan makhluk yang memiliki nafsu. Akan tetapi, manusia dianugerahi oleh Allah SWT berupa akal fikiran agar manusia itu mampu berfikir (ego). Lalu, pola berfikir dalam diri manusia harus dapat diawasi oleh hati nurani/perasaan (superego).

Hati nurani inilah yang pada hakikatnya tidak bisa berbohong. Jika manusia mampu memerankan ketiga aspek konsepsi dasar perilaku manusia, maka manusia itu akan menjadi makhluk yang sempurna di muka bumi ini. 

Tampaknya sudah waktunya bangsa ini belajar kepada Cina untuk memberantas korupsi. Adalah Zhu Rongji, ketika dilantik jadi Perdana Menteri China pada 1998, menyatakan, “Berikan saya 100 peti mati, 99 akan saya kirim untuk para koruptor. Satu buat saya sendiri jika saya pun melakukan hal itu.”

Zhu tidak asal bicara. Dia tidak main-main. PM Zhu di awal tugasnya mengirim peti mati kepada koleganya sendiri, Hu Chang-Ging, Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi. Hu Chang-Ging ditembak mati setelah terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp5 miliar.

Hu Hu Chang-Ging termasuk di antara lebih dari empat ribu orang di Cina yang telah dihukum mati sejak 2001 karena terbukti melakukan kejahatan korupsi. Angka empat ribu itu, menurut Amnesti Internasional (AI), jauh lebih kecil dari fakta sesungguhnya. AI mengutuk cara-cara Cina itu, yg mereka sebut sebagai tindakan yang mengerikan. Tapi, bagi Perdana Menteri Zhu Rongji inilah jalan menyelamatkan Cina dari kehancuran.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Kapan kita mendengarkan pidato kepala negara yang berujar mirip dengan pernyataan Perdana Menteri Zhu Rongji? Saya yakin dan percaya, negeri kita akan lebih serius memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya. ***