(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Nugget Lele, Citarasa Baru Ikan Lele

Nugget Lele, Citarasa Baru Ikan Lele

nuggetlele-198x300Bahan yang sama belum tentu menghasilkan citarasa yang sama. Bisa jadi justru hal yang baru yang terbentuk. Tergantung dari cara mengolah dan menyajikannya. Hal inilah yang menjadi sumber inspirasi bagi tiga mahasiswa Jurusan Teknik Industri. Dengan membentuk tim bernama Lelebay Nugget, mereka tak hanya bisa merubah ikan lele menjadi makanan berinovasi, tetapi juga telah menyabet juara 1 kategori Business Plan Competition dalam ajang EURECA (Entrepreneur Creative Challenge).  
 
Mereka adalah Rangga Galih Pradana, Zulvah, dan Okki Anugrah Putra. Berbekal pengalaman berbisnis yang dibangun sejak mahasiswa baru, tiga sekawan yang sama-sama menyukai bidang bisnis ini mulai mencoba berbisnis. “Awalnya kita mencoba berbisnis dalam bidang peternakan lele, namun karena terjadi suatu hal pada saat waktu penjualan, akhirnya bisnisnya tidak jalan. Barulah banting setir ke bidang kuliner, Nugget Lele,” ujar Zulvah, salah satu anggota dari tim Lelebay Nugget. 
 
Dengan menjadikan ikan lele menjadi makanan seperti nugget, menurutnya, malah membuat nilai rasa dan penjualan ikan lele semakin tinggi. Meskipun hanya merubah bentuk dari biasanya, seperti pecel lele, dan lalapan, nugget ini tetap tidak kalah dalam hal kandungan nutrisi dan gizi. 
 
Tak hanya itu, makanan ini juga bisa membuat kebermanfaatan ikan lele semakin besar. Pasalnya, saat ini jenis ikan lele yang sering dicari adalah yang berukuran kecil atau sedang. Sebab, untuk membuat pecel lele atau lalapan, ikan yang dibutuhkan adalah ikan lele yang berukuran tidak besar. 
 
“Kalau lele kecil dan sedang itu satu kilo bisa Rp 14.000 terus yang paling besar itu cuma Rp 12.000, ” lanjut Zulvah. Dikatakannya, lele yang berukuran besar itu kurang diminati. 
 
Melihat hal itu, maka timbul ide untuk membuat suatu inovasi makanan yang tetap berbahan dari ikan lele. Mereka mencari lele berukuran besar untuk diolah menjadi Nugget Lele. “Kami beli ikan lele berukuran besar sama seperti ikan yang berukuran kecil, jadi kan sama-sama bisa memberi manfaat,” ungkapnya. 
 
Tak berlangsung lama, bisnis Nugget Lele ini pun diikutkan dalam lomba EURECA kategori Business Plan Competition di kampus Prasetya Mulya, Tangerang. Dalam lomba tersebut, awalnya zulvah dan kelompoknya  mengirim proposal dari usaha bisnis yang mereka kerjakan selama ini. Dari tahap pengiriman proposal tersebut kemudian diambil 15 finalis untuk dipanggil ke Tanggerang. 
 
Lelebay Nugget pun masuk finalis dan mendapat panggilan untuk presentasi serta memamerkan produknya di sana. Selama satu hari penuh di Tangerang, mereka harus berhadapan dengan beberapa tim Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Negeri Semarang (UNNES), Universitas Padjajaran (Unpad) serta dari kampus Prasetya Mulya sendiri. 
 
Persiapan menuju ke Tangerang sendiri, dijelaskan Zulfah, lebih menekankan pada bidang produk. Jauh-jauh hari sebelum diumumkan masuk finalis, Zulvah dan kelompoknya sering menawarkan produknya ke orang lain. Karena dengan cara seperti itu, mereka bisa meminta testimoni tentang Nugget Lele ini. 
 
“Ada yang bilang kurang asin, rasanya seperti cireng, dan lainnya. Semuanya kami tampung untuk menghasilkan rasa yang benar-benar pas dan dapat diterima oleh masyarakat banyak,” tutur mahasiswi angkatan 2010 ini. Setelah berbagai hal mulai dari produk, banner, dan alat-alat telah siap untuk dibawa, barulah mereka bertolak ke Tangerang. 
 
Aspek yang dinilai dari ajang lomba kali ini lebih menekankan pada bidang sosialnya, yaitu aspek kebermanfaatan dan aspek keberlanjutan produknya sendiri. Aspek kebermanfaatan, yakni lebih berkonsentrasi pada bagaimana produk tersebut bisa bermanfaat pada orang lain di sekitar. 
 
Sedangkan aspek keberlanjutan sendiri mengenai bagaimana proses selanjutnya setelah ajang lomba tersebut selesei. “Keberlanjutan itu tidak hanya sekedar dari segi bisnisnya, tetapi juga apakah kira-kira bisnisnya ini bisa bertahan sampai selanjutnya atau cuma untuk mengikuti lomba saja, setelah selesai tidak dilanjutkan lagi,” tandasnya. Ia mencontohkan, misalnya dalam jangka waktu lima tahun ke depan apa yang akan dilakukan dalam bisnis. 
 
Di sisi lain, memang tim Lelebay Nugget ini telah menjadi wirausaha yang telah berkelanjutan. Terbukti dari dibangunnya sendiri kolam lele, lemari es serta alat-alat memasak yang lain. Ini tidak hanya karena sekedar suka dengan dunia bisnis, melainkan sudah menjadi bidang keseriusan berwirausaha selanjutnya. 
 
Setelah pengumuman lomba itu banyak reseller dari Jakarta, Malang, dan kota lainnya yang menawarkan kerja sama dengan Lelebay Nugget. Namun untuk saat ini, Zulvah dan kelompoknya menolak dahulu. Pertimbangan mereka adalah makanan nugget ini bersifat makanan yang tidak tahan lama sebab mereka tidak memberi bahan pengawet. “Jadi, lewat satu hari saja sudah berubah bentuk dan rasanya, makanya kami fokus untuk mengembangkan sendiri di sini,” tutup mahasiswi asal Tuban ini. (its.ac.id/ humasristek)