Dilematisnya Mobil Listrik

molisBangga, sudah pasti. Kesekian kalinya generasi muda menunjukkan kebolehannya. Namun, mengapa sepertinya prestasi itu selalu berhenti di awal? 
 
Masih ingat mobil Esemka karya pelajar SMK yang sempat ingar-bingar, tetapi kini seperti ditelan bumi. Bulan Januari lalu giliran mahasiswa membuat mobil listrik menawan, yang dibayangi kekhawatiran bernasib serupa: melengkapi catatan sejarah rintisan otomotif di negeri ini. 
 
Sepertinya ada jurang sangat dalam ketika mahasiswa akan memasuki dunia industri. Mobil listrik karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya—bernama EC ITS—seharusnya bisa ditangkap sebagai awal kebangkitan kemandirian bangsa dalam industri otomotif. 
 
Apalagi, menurut rencana, langkah ini akan diikuti perguruan tinggi lain. Selayaknya pemerintah melihatnya sebagai sasaran jangka panjang yang bisa membebaskan negeri dari ketergantungan teknologi asing. 
 
Catatan sejarah 
 
Bicara mobil listrik tak lepas dari mobil Tucuxi milik Menteri BUMN Dahlan Iskan sekalipun kandas menghantam tebing. Tragedi mobil bergaya sport itu, yang menarik bukan soal kontroversi, melainkan lebih pada bagaimana kemampuan anak negeri ini. 
 
Bagaimanapun, ini momentum menarik bagi pengembangan mobil listrik dalam negeri. Apalagi, kurang dari sebulan sejak kejadian ”Ferrari” Pak Menteri, para mahasiswa unjuk kemampuan di depan Mendikbud Mohammad Nuh. 
 
Catatan menarik dari kedua momentum adalah kemampuan bangsa ini membuat kendaraan listrik sendiri. Keduanya karya kaum muda, di mana mobil Tucuxi ciptaan Danet Suryatama, alumnus ITS. 
 
Mungkin ini kebetulan walaupun memang perguruan tinggi di Kota Surabaya ini punya catatan menarik di bidang otomotif. Aktivitas spektakuler terjadi tahun 1989 ketika para mahasiswa lintas disiplin ITS membuat mobil listrik bertenaga sel surya. Bahkan, mobil Widya Wahana I sukses menempuh jarak Jakarta-Surabaya. 
 
Prestasi menonjol lain seperti mobil listrik Sapu Angin Electric Zero Emision Vehicle (SAE ZEV) yang memenangi posisi kedua ajang Indonesia Energy Marathon Competition 2012 meski masih kalah dari mobil Arjuna Hore dari UI. 
 
Debut internasional sebenarnya pada lomba irit bahan bakar. Tahun 2012, ketiga kali ITS mempertahankan gelar juara I kategori Urban Concept Biodiesel pada kontes Shell Eco Marathon Asia di Sepang, Malaysia. 
 
Tantangan 
 
Pencapaian para mahasiswa ini jelas menggembirakan, tetapi bukanlah terminal akhir pengembangan mobil listrik dalam negeri. Ini justru baru garis start menggelindingkan kendaraan beremisi nol. 
 
Di luar negeri sedang terjadi pergulatan raksasa otomotif didukung dana sangat besar. Ada yang sudah menjual secara komersial, di antaranya mobil hibrida: mobil bertenaga bensin, juga bisa menggunakan listrik. 
 
Perusahaan yang sukses menjual kendaraan 100 persen listrik tertinggi dunia adalah Nissan lewat Nissan Leaf. Sejak diluncurkan tahun 2010, terjual lebih dari 50.000 unit secara global. 
 
Mobil listrik lain di pasar sekarang termasuk Chevy Volt dari Chevrolet, Mitsubishi i-MiEV, Tesla. Tingginya harga kendaraan tanpa emisi ini menjadi kendala yang mempersulit pengembangannya. 
 
Tak mengherankan pengembangan industri mobil listrik menghadapi banyak kendala. Ancaman datang dari China dan India yang didukung pemerintahnya. Di Indonesia, aki saja, mahasiswa masih mendatangkan dari China. 
 
Bagaimanapun, teknologi ini harus dikuasai untuk membidik sasaran lebih tinggi. Setidaknya, dukungan pemerintah mutlak diperlukan, terutama dalam hal kebijakan, bukan sebaliknya. 
 
Suatu hari, negeri ini amat berharap pada semacam ”Esemka” atau ”Komodo” yang mampu sejajar dengan merek luar. 
 
Ramah lingkungan 
 
Sasaran hakiki mobil listrik adalah mengurangi kebergantungan bahan bakar minyak. Dari sisi keramahan lingkungan, amat bergantung pada sumber listrik pengisi ulang aki mobil. 
 
Jika masih memakai sumber jaringan listrik PLN yang didominasi pembangkit berbahan bakar fosil, baik batubara maupun BBM, hanya akan memindahkan pencemaran lingkungan. Kendaraan listriknya tak mencemari, tetapi pembangkit listrik masih menebar pencemaran. 
 
Melihat kondisi Tanah Air hingga 2030—target maksimalisasi pemanfaatan energi terbarukan—pengembangan mobil listrik belum signifikan mengurangi pencemaran. Mobil listrik yang benar-benar hijau bisa menggunakan penyetrum ulang sel surya. Namun, investasi sangat mahal. 
 
Cara lain, mengganti baterai dengan pembangkit listrik kimiawi yang dikenal dengan fuelcell. Tahun 2015 merupakan tahun kendaraan listrik fuelcell dan saat ini raksasa otomotif bekerja sama membangun kubu, seperti BMW-Toyota dan Daimler-Nissan-Renault. 
 
Raksasa seperti Honda membangun stasiun pompa pengisian hidrogen dengan sel surya. Sebuah pompa pengisian hidrogen di Freiburg, Jerman, mampu mengisi dalam 3 menit. Sekali isi, menempuh 350-500 kilometer. 
 
Sementara itu, penyempurnaan sistem isi ulang aki sedang dilakukan. Selain diharapkan mengisi penuh kurang dari 1 jam, bahan litium nanopartikel menyimpan tiga kali lipatnya yang dikembangkan di University of Southern California, AS. Bagaimana di Indonesia? (Kompas, 27 Februari 2013/ humasristek)